Rumah Yang Berdebu
Berjuta kali saya mengatakan pada diri sendiri, bahwa saya ingin bahagia, dan berjuta kali saya mengucapkan bahwa saya adalah manusia yang bahagia. Namun sekitar 6 minggu yang lalu, saya baru sadar, bahwa ucapan saya itu mengalir tanpa dasar yang jelas dan kuat. Karena itulah ucapan saya selalu menguap dengan mudahnya, dan kemudian diikuti dengan timbulnya rasa dimana saya merasa tidak bahagia.
Bahagia itu wajib
Kejadian dimana saya berpikir, bahagia itu adalah wajib, itu terjadi saat saya sedang jalan berdua dengan seseorang, di perjalanan kami hanya terdiam, tepatnya sama-sama diam, ketika jalan berdua kami diakhiri dengan dinner di sebuah cafe, saya tetap tidak berhasil mencairkan suasana, oke mungkin karena saya bukan orang yang seperti itu. Hingga suatu ketika ada orang yang bilang “kalau aku sih ton, bahagia itu adalah sebuah kewajiban, bukan pilihan, kamu mau berbahagia dengan atau tanpa siapa”
Karena menurutnya bahagia itu mengandung keharusan yang bukan dipaksakan, tetapi dikerjakan dengan penuh kesadaran, bukan dengan penuh kebahagiaan, karena kebahagiaan itu baru akan dicapai, jadi mustahil menggunakan sebuah dasar yang belum tercapai.
Mendengar semua kata-katanya, saya berfikir, mungkin mengapa cita-cita saya yang ingin bahagia itu mudah menguap, karena saya mendasarinya dengan hal yang masih menjadi sebuah tujuan, bukan sepenuhnya ada di dalam genggaman saya.
“wajib adalah alat untuk mencapai kebahagiaan, bukan kebahagiaan alat untuk memenuhi kewajiban” ngerti kan ton ?
Jelas , saya gak ngerti apa yang dia bicarakan.
“wajib itu tidak memberi kita peluang untuk memilih, alias harus” lanjutnya “kalau bahagia itu adalah sebuah pilihan, maka pilihan itu akan memberikan banyak opsi, kebanyakan opsi memberi banyak kebingungan, dan kebanyakan dari kebingungan itu malah akan membuat kamu gak bisa memilih ton, eh bisa sih milih tapi pilihan yang salah atau keliru” jelasnya kemudian.
Sehabis menerima bogem mentah berupa kata-kata yang saya gak ngerti sama sekali, maksut dan tujuannya dia bicara seperti itu, saya kebingungan. Bebrapa hari saya berusaha mikir keras apa hubungan sama orang yang jalan bareng saya waktu itu dengan diem-dieman disepanjang jalan, sama kewajiban bahagia.
Mungkin, kalo bahagia itu adalah sebuah kewajiban, berarti semua orang harus memilikinya dong ? Emang sih, saya belum pernah mendengar ada orang yang bilang
“bahagia itu gak enak, mendingan juga sengsara”
Kalau saya pribadi, saya ingin sekali bahagia. Jadi buat saya, yang awalnya sebuah pilihan, berakhir dengan kewajiban yang saya harus lakukan, agar yang saya pilih itu bisa saya dapatkan. Yaa.. apa gunanya, kalau saya sudah memilih untuk bahagia, tetapi saya tidak mencapai apa yang saya inginkan, itu akan berujung dengan ke-sia-sia-an, sama seperti kita yang sedang berusaha memperjuangkan orang lain, akan tetapi dia tidak perduli, memang perjuangan yang dilakukan seorang diri itu berat, makannya banyak dari mereka berakhir dengan ketidak-bahagiaan atau menyerah pada akhirnya.
Teman saya itu hanya bercerita, dan karena ceritanya berhasil membuat saya terkesima sekaligus bingung, hingga saya lupa menanyakan kepadanya, bagaimana cara melaksanakan “kewajiban” yang dia maksut itu.
Sebelum bertemu dengan teman saya itu, saya berusaha untuk memahami kewajiban itu dengan cara saya sendiri. Saya adalah orang yang memiliki ketahanan tubuh lumayan lemah, atau bisa dikatakan mudah terkena penyakit, karena saya sangat sulit untuk mengkonsumsi sayur-sayuran ataupun minum air mineral, akan tetapi saya bersyukur atas ketahanan tubuh saya yang lemah ini. Saya katakan pada diri saya sendiri, yaa semacam peringatan keras atau afirmasi, bahwa sakit itu tidak enak dan menyebalkan, tetapi itu sebuah pengalaman dan saya ingin menikmati pengalaman tersebut. Sayang sekali, afirmasi yang saya lakukan untuk membuat saya merasa bahagia karena memiliki daya tahan tubuh yang lemah itu sia-sia, saya selalu mengeluh karena penyakit ini, sebenarnya ini bukan penyakit, tapi saya terlalu meremehkan diri sendiri. Beberapa hari kemudian, teman saya ini mengajak saya untuk menikmati tea time di de’Coffe daerah boulevard harapan indah, saya ingin menanyakan bagaimana menunaikan kewajiban yang dia maksut, dan bertujuan untuk bahagia.
Setelah bertemu, kita ngobrol selama satu jam, dibarengi dengan makan malam disana, dia bilang
“kamu tuh ton, kan suka sakit-sakitan yah, suka ngeluh kesakitan, tapi gak pernah mau ditolongin kalau lagi sakit”
“belum lagi kamu suka kesel sama diri sendiri kalau lihat orang yang kamu suka jalan, atau berpegangan tangan dengan cowo lain. Dan kadang suka emosi kalau hal yang kamu inginkan gak bisa kamu dapatkan. Coba deh, kamu belajar memaafkan, yang terpenting sih coba kamu memaafkan dirimu sendiri, dan orang lain yang mungkin nyakitin kamu secara langsung ataupun tidak”
“sama halnya kalau ada orang yang jahat sama kamu, walaupun kamu gak pernah jahatin dia, coba deh buat memaafkan dia, kalau enggak, kamu akan selalu kesel dan emosi setiap ada yang membicarakan dia, kamu bakalan terlihat lemah kalau masih sering emosian, bahagia itu sebuah kewajiban, hanya bisa didapati dengan hati yang bersih, gak ada emosi ataupun kemarahan”
“memaafkan itu sebuah aktivitas yang harus dipelihara, karena kamu akan bertemu orang baru yang bisa jadi akan lebih menyakiti kamu lebih dari orang yang sebelumnya, kayak sekarang ini, kamu mungkin bisa lebih sakit hati ketika bertemu orang yang kamu sukai di kemudian harinya, intinya sih, bersihin hati kamu dulu deh dari debu-debu emosi, karena rumah yang berdebu gak akan pernah nyaman kalau dikunjungi sama tamu yang baik”
“kalau yang berdebu itu menjadi sebuah dasar, kamu gak akan pernah sampai ke tujuanmu, eh salah deng, bisa kok sampai, tapi gak bakalan bertahan lama, mirip sama hubungan sebuah pasangan yang Cuma ‘di-cocok-cocok-in’ karena gengsi hehe..”
“jadi inget, yang dipelihara itu bukan debu, tapi yang dipelihara itu kewajiban, oke ?”
Setelah teman gue yang bernama Felani ini berbicara panjang lebar, yang saya dapati hanya bogem mentah berupa kata-kata untuk ke-2 kalinya, dan saya lupa bagaimana caranya mencapai kewajiban itu.















