Jalankan Peranmu
Punya film favorit? Tentang apa? Siapa tokoh utamanya?
Bicara soal film… wajar nggak, ketika di sepanjang film berjudul Superman, tokoh utamanya malah banyak menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran, hura-hura dengan teman kampusnya, sibuk ngurusin bengkel atau parahnya malah keasyikan eksis di sosial media? Nggak lucu dan nggak mutu, ya. Males nggak sih liatnya? Hehe.
Kitapun harus berusaha menghindari yang demikian.
Aneh banget ketika ‘Penghafal Al Quran’ malah kesehariannya jarang menghabiskan waktu untuk Al Quran. Keliru judul ini sih. Masa aktor lupa peran? Jangan, dong.
Dan jangan mau pula mengindahkan hasutan setan yang beredar di sekeliling kita. Misalnya: “Ah elah, ngaji terus… Kapan mainnya?”
“Udah nanti-nanti aja murojaahnya, daripada kerjaan nggak kelar-kelar!”
Atau
“Daripada hafalan tersendat-sendat melulu, mending karaokean aja!”
Beuh, bagai Superman salah skenario itu mah. Jangan sampai malaikat hafadoh jadi terheran-heran menyaksikan aktivitas kita.
Katanya Penghafal Quran, kok seringan baca novel daripada baca Quran? Katanya Penghafal Quran, kok mulutnya masih sering bicara kasar? Katanya Penghafal Quran, kok lebih banyak dengerin musik daripada murottal?
Parahnya lagi, bila akhlaq tokoh bergelar ‘Penghafal Quran’ ini malah tak mencerminkan seorang Ahli Quran. Eh, apa ada keharusan? Iya, dong! Nggak ada tapi-tapian.
Entah si Penghafal Quran ini dari kalangan laki-laki atau perempuan, dari kota metropolitan atau kota pinggiran, bergelar ‘ustad’ ataupun bukan, pernah mondok atau belum, mau masih anak ingusan, anak kuliahan, sampai yang sudah ber-anak; sudah SEPANTASNYA bersikap sebagai Ahli Quran. Karena, itulah esensi dari mempelajari dan memahami Kalamullah: mengamalkannya.
Apapun latar belakangnya, seorang Penghafal Quran harus berusaha untuk bisa mengimplementasikan isi ayat-ayat yang dihafalnya, agar bisa semakin mendatangkan hikmah.
Jadi, tak usah sungkan menolak ajakan yang bertentangan dengan adab Ahli Quran. Sudah selayaknya Penghafal Quran lebih mengikuti sunnahnya Rasul, bukan ‘sunnah’nya masyarakat. Tak perlu merasa kurang kekinian atau kolot. Menurut parameter Rasul malah lebih keren, kok. Jangan pula merasa hina bila ‘dikucilkan’. Sabdanya:
مثل الذين يقرأ القرآن وهو حافظ له مع السفرة الكرام البررة. ومثل الذي يقرأ وهو يتعاهده وهو عليه شديد فله أجران
Perumpamaan orang yang membaca Al-Quran dengan selalu menjaganya dan dia mengalami kesulitan, maka dia mendapat dua pahala.” [HR. Bukhori]
Lebih baik menyendiri daripada terseret budaya yang kurang pas, biar nggak salah gaul.
Ingat, ya. Ketika terdengar “Ah, kamu kan masih muda. Gaul dikit dong kaya yang lain!” atau “Ah, nggak jenuh apa mantengin Quran terus? Gabung coba sama yang lain!“ atau apapun yang sama kurang berfaedahnya, jawab saja:
“Ah, Superman juga aslinya sama-sama manusianya, kok. Tapi, gimana mau dibilang ‘Super’ kalau nggak ada bedanya sama sekali?”











