12 menit berlalu. Gadis berkerudung coklat itu duduk menunduk di depanku. Dia tidak sedang menangis. Dia hanya sedang berhenti. Berhenti mengucapkan ayat² yang sedang ia setorkan padaku. Ia tertunduk. Berfikir, ayat apa lagi setelah ini. Aku pun diam. Sambil memegangi pensil dan quran gadis berkerudung coklat di depanku. Lembar quran di halaman itu mulai lusuh. Berkali kali aku melingkari kesalahan lafadz, maupun kesalahan panjang pendek di lembar ini. Dan berkali kali aku menghapus lingkaran itu, Lalu kulingkari lagi, dan sebelum gadis itu setor lagi hari ini untuk kesekian kalinya, aku menghapus lingkaran itu lagi. Dan di detik ini, aku melingkarinya lagi.
Lingkaran itu semakin hari semakin sedikit. Dari awal setor surat ini, setiap ayat selalu ada lingkaran, kali ini sudah berkurang antara 6 ayat sekali.
Hari ini untuk kesekian kalinya dia setor, ya. surat terakhir di juz 29. Kelulusan 1 surat bisa dicapai apabila menyetorkan dengan kesalahan maksimal 3 kali. Dan pastinya tidak berhenti².
Dia mulai mengucap ta'awudz, aku mulai menyimak. Beberapa detik berselang, sudah sampai ayat 10 dan tanpa kesalahan. Lalu berlanjut hingga ayat 25, dia berhenti. Melihat mataku, aku membalas tatapan gadisku, aku berbicara padanya lewat mata,
"hei,kamu pasti ingat", "hei, kamu bisa", "ayo,"
"ahyaaa aw wa,amwaata. Waja'alna fiiha rowasyisyasyamiqoting.."
Aku menyela, sambil kuketuk pensil di meja "hemmm"
Dia tahu. Pertanda ada yang salah. Diam. Tertunduk. Daaan.
"ahyaaa aw wa,amwaata. Waja'alna fiiha rowasyi..miqoting.."
Aku menggeleng. Dia berhuhh, tanda mengeluh. Matanya mulai sayu. Dia mulai mengambil nafas, dan tertunduk lagi.
Aku tidak tau kenapa aku masih saja mau menyimak dia. Aku tidak tau kenapa aku menunggu nya, menunggunya mengucapkan ayat² itu.
"ahyaaa aw wa,amwaata. Waja'alna fiiha rowasyiya, syaamikhoting wa,as qoinaakummaa,ang furoota"
Tertunduk lagi. Dan suaranya bergetar.
"ahyaaa aw wa,amwaata. Waja'alna fiiha rowasyiya syamikhootiw wa,asqoinaakum maa'ang furoota"
Aku diam. Pertanda benar. Dan dia melanjutkan ayat berikutnya, hingga akhir ayat, tanpa lingkaran. Dia tersenyum, sambil menangis.
"ustadzah, maaf ngerepotin. Makasih us udah sabar"
Dia mencium tanganku, dan memelukku. Aku balas dengan pelukan erat. Dan tangisnya makin menjadi. Semua anak² di halaqoh quranku berebut memeluk kami. Dan bersorak bahagia.
Aku tidak tahu, ada apa dengan ku, darimana datangnya kesabaran ini ? Apakah ini bentuk terkabulnya doa gadisku ? Apakah dia berdoa pada Allah untuk membuatku sabar menyimaknya ?
Aku tidak mungkin sesabar ini jika tidak karena doa seseorang. Atau memang Allah sengaja membuat begini, agar dapat mengambil banyak pelajaran. Jika tadi aku tak sabar. Rusaklah mood gadisku. Dia pasti akan menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Benarlah nasihat itu,
Ujian terbesar dari seorang guru adalah terburu-buru. Tidak sabar. Ingin anak didiknya cepat menguasai, cepat pintar, cepat paham, dan cepat cepat lainya. Ingin anak didiknya seketika sempurna. Padahal dia juga manusia, seperti kita. Membutuhkan proses untuk menuju kesempurnaan.
Ternyata rezeki itu tidak hanya berupa gaji yang diwujudkan uang. Namun diberikan hati yang sabar, ikhlas, dan perasaan penuh syukur adalah rezeki, dan seharusnya terus kita minta kepada Allah.
Bersabarlah ustadzah, mintalah rezeki istiqomah :) .