Surat untuk Teman yang Kutemui dalam Mimpi
Dear my spiritual friend,
Siapa pun kamu, dan di mana pun kamu berada. Kita belum pernah bertemu di dunia nyata, belum sama sekali. Aku belum pernah berpapasan atau bertegur sapa denganmu, kita juga tidak memilki ikatan pertemanan yang cukup kuat sehingga aku bisa memimpikanmu. Tapi, aku yakin kita terikat secara spiritual. Ikatan spiritual ini tampaknya sudah ada sejak kehidupan kita di masa lampau, kita sudah pernah berteman baik secara fisik ataupun spiritual, dan kita membawa ikatan ini hingga ke kehidupan kita yang sekarang.
Hei, apa kamu juga bermimpi tentangku? Haha, apa kamu ingat wajahku juga? Kautahu, aku melihat wajahmu, mendengar suaramu, sentuhan tanganmu saat kamu coba mengobatiku, semua itu tampak jelas. Kemeja merah kotak-kotak berbalut rompi kulit dan celana jeans, itu cocok untukmu. Haha... Kamu tampak keren!
Sepertinya, kamu juga menguasai sihir pengobatan yang sangat luar biasa, aku kagum. Dengan sigap kamu meraih jempol kakiku yang digigit laba-laba beracun dan merapalkan mantra penyembuhan untuk mengeluarkan racun dari kakiku. Sungguh, itu sangat luar biasa! Oh ya, saat itu aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Dan, kita juga belum berkenalan. Maukah kamu menyebutkan namamu, Kawan? Semoga, kita bisa bertemu lagi dan saling bertukar pikiran.
Jika suatu saat nanti kita bertemu di dunia nyata, dan jika kamu mengingatku, jangan segan-segan untuk menyapaku, ya? Mungkin aku akan sulit mengenalimu karena aku mungkin akan lupa pada wajahmu, jadi ingatkan aku soal laba-laba itu. Tapi jika nanti aku yang ingat wajahmu dan aku menyapamu, kumohon jangan melihatku dengan tatapan yang tidak mengenakkan. Haha, aku hanya takut kamu yang di mimpi dengan kamu yang di dunia nyata ternyata punya sifat yang berbeda.
Aku menulis surat ini khusus untukmu, agar kamu tahu bahwa aku sudah menyadari kehadiranmu dan aku juga ingin mengenal kamu lagi baik secara fisik maupun spiritual. Kautahu, seorang temanku mengatakan kalau kamu akan datang dalam hidupku. Dan, kamu akan mengajarkan banyak hal padaku. Aku sungguh tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Kalau kita bertemu lagi, aku akan mengenalkanmu pada teman-teman dan juga keluargaku.
Hmm, sudah dulu, ya? Surat ini aku akhiri sampai di sini dulu. Semoga kamu membaca surat ini dan tahu bahwa aku ada, dan sedang menunggumu.
Selalu bahagia, sehat, damai, dan penuh cinta. Dari sahabatmu, Ali Nawzia.