Reinkarnasi?
Katanya, "Jika reinkarnasi memang terjadi, kuharap aku tidak mengulangi takdir ini lagi."
"Aku justru lebih suka reinkarnasi tak pernah ada," jawabku.
Aku tidak membutuhkan reinkarnasi untuk percaya bahwa hidup bisa berulang dalam bentuk lain.
Luka sudah cukup membuktikannya—datang dengan pola yang sama, wajah yang berbeda, tapi meninggalkan rasa yang serupa.
Bahkan, baru membayangkan kemungkinan semua luka itu terjadi lagi saja sudah terasa begitu melelahkan.
Tapi bisa kumengerti juga, bagi sebagian orang, konsep reinkarnasi adalah percik harapan. Sebuah ksempatan kedua, kehidupan yang lebih baik, hubungan yang mungkin bisa diperbaiki.
Namun bagiku, tetap saja terdengar seperti risiko yang terlalu besar.
Bagaimana jika yang terulang hanya kesalahan yang sama? Bagaimana jika aku harus belajar lagi cara bertahan, dari awal, tanpa ingatan, tanpa perlindungan?
Bukan berarti hidup ini sepenuhnya buruk. Aku, hanya tidak ingin mengulang.
Kalau kuingat-ingat lagi, ada begitu banyak hal yang tidak ingin kupelajari lagi, tidak ingin kurasakan lagi, dan tidak ingin kuhadapi lagi dalam bentuk apa pun.
Satu kehidupan saja sudah cukup panjang untuk mengerti banyak hal, termasuk kapan harus berhenti berharap pada kemungkinan yang belum tentu lebih baik.
Jika hidup memang memiliki batas, biarlah batas itu benar-benar menjadi akhir, tempat semua rasa sakit akhirnya berhenti.
Bukan berpindah.
Bukan terulang.
Bukan menjadi pintu menuju siklus baru yang tak pasti.
Melainkan benar-benar selesai.
(Arsip 26 Maret 2026)
















