TAGEBUCH : SAHABATOS #3 (Neptunus)
Gatau mau nulis apa sebenarnya, gatau mau dimulai dari mana, mungkin cuma sekedar menggambarkan apa yang sekarang gue rasain sambil mendengarkan lagu White Shoes & The Couples Company yang berjudul “Masa Remadja” ditemani secangkir kopi yang diaduk kearah kanan dan 4 potong martabak rasa keju, tepatnya ini pukul 02.00 WIB.
Neptunus, ya itu nama kelas gue pas SMA, yaitu kelas 2 dan kelas 3, karena nggak dipisah. Mungkin dibilang berlebihan, tapi sekarang gue rindu, jadi hanya bisa menulis, yaitu berpuisi.
Neptunus..
Kapan terakhir kita bertemu? Semua pasti memisahkan dirinya masing-masing. Melupakan sekecil tawa kebersamaan, dan menyimpan setiap kenangan besarnya saja. Kalian lebih dari sekedar teman kelas. Kalian lebih dari sekedar teman cari jajanan. Kalian itu keluarga, mungkin basi, tapi..
Kalian memberikan pengaruh besar. Yang ku sebut warna dalam kehidupan. Yang ku rindu dari perjuangan pada masa putih abu. Yang ku rindukan disetiap kegaduhan saat mengerjakan PR pagi-pagi. Yang membuat kita benci pada nilai kecil. Yang selalu melakukan dosa untuk dapat nilai besar. Yang melihat adik/kakak kelas untuk disukai dan digodai.
Kita menginjak 2 tahun setelah perpisahan, dan mungkin kurang lama dan masih apatis. Apakah mungkin kita harus menunggu 10 tahun untuk saling merindu?
Kita sudah melupakan nama panjang murid kelas masing-masing. Apakah mungkin kita mengingat setelah diberikannya undangan pernikahan?
Kita sudah melupakan candaan kecil kita sewaktu istirahat sekolah. Apakah mungkin kita mencandakan teman baru di dunianya masing-masing agar terdengar mempunyai topik pembicaraan?
Akan ku lanjutkan pada sajak-sajak dari seorang perindu. Rindu tentang cinta, teman, guru, maupun abang-abang jajanan. Dan juga tentang rindu untuk mencari jati diri, melepaskan masa muda tanpa adanya tanggung jawab untuk berkeluarga.
Semoga 5, 10, 50 tahun bahkan selamanya kau tetap masa putih abuku. Dimana nama Neptunus sebagai lambang persahabatan.
Semoga kalian sukses, walaupun aku kadang lupa nama panjang kalian. Jangan iri dengan adik kelas yang kini mencicipi fasilitas bagus setelah kita.
Neptunus, terima kasih telah mendengar ceritaku.
Nandar, 2017.
Karena mungkin reunian adalah jalan satu-satunya untuk bertemu kembali, sedangkan kita memiliki jadwal yang tidak saling memihak, harus menumbalkan jadwal padat masing-masing.
Gue nggak cuma ngomongin tentang Neptunus doang, tapi untuk semua perhabatan yang sudah tidak lama bertemu karena kesibukannya masing-masing, karena kita semua sama mempunyai warna persahabatan yang berbeda-beda.
Setiap waktu yang kita jalani akan selalu berbeda, setiap kesempatan yang kita miliki tak datang setiap hari, mungkin 5 atau 10 orang lebih yang masih menyempatkan dirinya untuk bertemu.
Sebuah apresiasi kecil baginya yang masih mengingat sahabatnya, mencoba mendengar cerita baru dan pandangan baru tentang wilayah yang mereka tempati.
Karena yang membuat gue menuliskan ini adalah dia yang berpendapat tentang neptunus, satu kata yaitu “Kangen”.
Terima kasih, Nept.
(Bogor, 8 Februari 2017)











