Berkirim Surat
Aku bersyukur kita pandai menulis. Tak dapat kubayangkan bila harus melatih suaraku agar kuat mengarungi samudera. Tak dapat juga aku menahan malu bila rayuan picisanku berdenting di kuping tetangga. Atau lebih buruk lagi bila sampai kepada perempuan yang senama denganmu, lalu hatinya berseri-seri karena mengira itu dari kekasihnya yang kebetulan senama denganku.
Aku bersyukur kita pandai menulis. Setidaknya aku bisa menuangkan kata-kata sepanjang malam ditemani secangkir kopi. Setidaknya degupan jantungku hanya menggetarkan jemariku daripada memotong ucapan lidahku.
Aku bersyukur kita pandai menulis. Kirimanku hari ini akan kaubaca beberapa minggu kemudian, setahun kemudian, atau suatu hari nanti saat aku bisa kembali membaca yang pernah kutuliskan untukmu. Ingatan kita cepat memudar, untungnya tulisan kita tidak secepat itu.
Jakarta 19 Maret 2017 0.48 UTC +7













