Sajak Untuk Seorang Perempuan
Perempuan itu tersenyum berhiaskan lebam. Matanya adalah lampu jalan yang menyaksikan kerasnya aspal dan yang melintasinya. Keningnya keriput terbentur-bentur tembok yang menghalangi beberapa mimpinya. Tangan perempuan itu terbuat dari cinta. Ia kasar dilihat namun halus digenggam. Jemarinya terbiasa diiris silet tajam yang bersembunyi di balik waktu-waktu sulit. Urat-urat hijau di bawah kulitnya memberontak ingin keluar. Ia adalah wujud dedikasi dari peran yang jarang ditonton orang di bioskop. Kaki perempuan itu adalah akar yang bergerak bebas di atas tanah. Ia adalah langkah-langkah hening di malam hari. Pijakannya menggetarkan bumi namun tak mengganggu semut di dalam liangnya. Ia berlari di lautan darah yang berasal dari kakinya sendiri. Hati perempuan itu kaca berlapis baja. Hati perempuan itu mata air tak kenal musim. Hati perempuan itu mengangkatnya menjadi perempuan. Bandung 1 April 2017 9.39 UTC +7









