Tentang 'Beda' yang Selalu Kita Punya
Selamat siang wiwidnasyufi Syukurlah jika semua menjadi lebih baik. Aku turut bahagia mendengarnya. Jaga selalu kesehatan dan hatimu, ya. Hey mengapa kebetulan seperti berpihak pada kita? Entahlah, saat ini pun seperti ada sekat antara aku dan dia. Aku yang sengaja membangun tembok tinggi ditengah-tengah kita. Menyembunyikan hati dan membuatnya terpaut jauh. Aku takut terjerembab semakin dalam. Ketahuilah, sikapku lebih mengerikan dari apa yang kaulakukan. Jangankan memutar bola mata dan mengarahkannya pada dia, tersenyum saja aku enggan. Sejujurnya ini disebabkan lantaran hatiku sedang berkabut kini, mendapati dia yang selalu memberikan senyumnya bukan untukku, mendengar cerita yang ia suguhkan juga bukan kepadaku. Perih sekali. Aku tidak cukup kuat akan sakit yang bertubi-tubi menyayat tanpa ampun. Aku tidak terlalu tega mendengar pilunya erangan hati karenanya. Kini aku seperti sudah menyatu pada angin. Tak nampak bahkan tidak pernah sekalipun tersentuh. Menjelma menjadi manusia cacat. Berpura-pura tuli yang tidak pernah mendengar suaranya yang menuntut sahutan. Bersandiwara sebagai orang buta yang tidak pernah melihat tatap wajahnya yang meminta sambutan. Berlaku layaknya si bisu yang tidak akan pernah mengucap satu katapun. Aku sedang berusaha membencinya, padahal dia tidak pernah melakukan kesalahan. Egois, bukan? Oh tidak! Mengapa aku jadi larut dalam emosiku sendiri? Maafkan aku, kawan. Jangan kau lihat apa yang kutuliskan. Berpura-puralah untuk tidak membacanya. Oke? Lantas mengapa kamu menjaga jaraknya? Apakah alasanmu sama denganku? Ceritakanlah! Aku ingin sekali mendengarnya. Sungguh!! Namun jangan kisahkan ceritamu dengan amarah juga kepedihan, ya? Berkisahlah seperti kau sedang bersenandung. Mengukir senyummu tentunya. Semoga Allah mendengar 'semoga'mu yang mulia itu. Tuhan kita selalu memperlakukan kita dengan sebaik-baiknya. Sangat bisa! Percayalah aku suka sekali memiliki sahabat nyata. Menjadi tempat yang dapat menampung tumpahan keluhmu. Tanpa pernah bosan, tanpa sekalipun merasa jemu.













