CEWE CANTIK GOYANG GOYANG

#iwtv#interview with the vampire#amc tvl#sam reid#jacob anderson



seen from China
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from South Africa
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Italy
seen from United States
seen from United States

seen from Switzerland

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Türkiye
CEWE CANTIK GOYANG GOYANG
ARTIS CANTIK GOYANG KELIHATAN UTINGNYA
Tentang 'Beda' yang Selalu Kita Punya
Selamat siang wiwidnasyufi Syukurlah jika semua menjadi lebih baik. Aku turut bahagia mendengarnya. Jaga selalu kesehatan dan hatimu, ya. Hey mengapa kebetulan seperti berpihak pada kita? Entahlah, saat ini pun seperti ada sekat antara aku dan dia. Aku yang sengaja membangun tembok tinggi ditengah-tengah kita. Menyembunyikan hati dan membuatnya terpaut jauh. Aku takut terjerembab semakin dalam. Ketahuilah, sikapku lebih mengerikan dari apa yang kaulakukan. Jangankan memutar bola mata dan mengarahkannya pada dia, tersenyum saja aku enggan. Sejujurnya ini disebabkan lantaran hatiku sedang berkabut kini, mendapati dia yang selalu memberikan senyumnya bukan untukku, mendengar cerita yang ia suguhkan juga bukan kepadaku. Perih sekali. Aku tidak cukup kuat akan sakit yang bertubi-tubi menyayat tanpa ampun. Aku tidak terlalu tega mendengar pilunya erangan hati karenanya. Kini aku seperti sudah menyatu pada angin. Tak nampak bahkan tidak pernah sekalipun tersentuh. Menjelma menjadi manusia cacat. Berpura-pura tuli yang tidak pernah mendengar suaranya yang menuntut sahutan. Bersandiwara sebagai orang buta yang tidak pernah melihat tatap wajahnya yang meminta sambutan. Berlaku layaknya si bisu yang tidak akan pernah mengucap satu katapun. Aku sedang berusaha membencinya, padahal dia tidak pernah melakukan kesalahan. Egois, bukan? Oh tidak! Mengapa aku jadi larut dalam emosiku sendiri? Maafkan aku, kawan. Jangan kau lihat apa yang kutuliskan. Berpura-puralah untuk tidak membacanya. Oke? Lantas mengapa kamu menjaga jaraknya? Apakah alasanmu sama denganku? Ceritakanlah! Aku ingin sekali mendengarnya. Sungguh!! Namun jangan kisahkan ceritamu dengan amarah juga kepedihan, ya? Berkisahlah seperti kau sedang bersenandung. Mengukir senyummu tentunya. Semoga Allah mendengar 'semoga'mu yang mulia itu. Tuhan kita selalu memperlakukan kita dengan sebaik-baiknya. Sangat bisa! Percayalah aku suka sekali memiliki sahabat nyata. Menjadi tempat yang dapat menampung tumpahan keluhmu. Tanpa pernah bosan, tanpa sekalipun merasa jemu.
Tentang ‘Beda’ yang Kita Punya
Ya baiklah. Bukankah kita sekarang berteman rizadheliaa ?
Kau benar setiap cerita pasti dimulai dengan pertemuan. Sama halnya denganmu akupun tak tahu pasti kapan dan dimana kami bertemu. Yang pasti sekarang yang aku tahu aku telah menitipkan hatiku padanya. Seseorang yang telah menghipnotis retinaku untuk selalu bisa menemukannya di kerumunan banyak orang. Dia seperti semacam kompas yang menuntunku untuk menemukannya. Akupun tak tahu mengapa aku begitu mencintainya, bukankah hati tak pernah memilih kemana akan berlabuh ? yang aku rasakan aku begitu nyaman berada disisinya.
Aku tak pernah menyesal Tuhan telah mempertemukanku denganya. Laki laki yang kembali membuatku hidup, yang dengannya aku kembali bisa menemukan apa yang hilang dari diriku. Yang dengannya aku bisa merasakan jatuh sejatuh jatuh nya ditempat ternyaman.
Dan sayangnya dia belum menjadi masa laluku, aku dan dia masih berhubungan. Berhubungan disini tidak seperti yang kau pikirkan. Hubungan yang tak berpijak, hubungan yang berada dibatas antara sadar dan mimpiku. Dia terlalu takut akan perbedaan dan terlebih untuk melangkah maju. Begitupun denganku, kakiku terlalu berat untuk melangkah. Hingga akhirnya kami hanya berputar putar berotasi tanpa tujuan. Membuatku tak bisa beranjak.
Sepertinya dia-mu dan dia-ku juga memiliki sedikit kesamaan. Dia seorang nasrani yang begitu taat, dia tak pernah alpa untuk pergi ke gereja. Dia sering mengingatkanku untuk sholat saat waktunya tiba, terlebih waktu subuh karena aku sedikit susah bangun di waktu subuh. Dia bahkan pernah membelikanku sebuah kerudung, memintaku untuk memakainya ketika kami bertemu. Menatapku ketika aku sholat. Hingga dengan senang hati membelikan makanan untukku berbuka tanpa sedikitpun aku meminta. Ya sama dengan dia-mu, dia begitu tulus melakukan semuanya.
Besok dia akan menemuiku, sebelum dia berangkat ke gereja untuk merayakan Paskah. Ya dia memang sering menemuiku sebelum dan sesudah pulang dari gereja. Aku selalu merasakan perih yang teramat sangat saat menyadari sebegitu jauh aku dan dia berseberangan. Sepertinya aku tak pernah bisa berdamai dengan keadaan.
Ya Allah apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku berteriak pada dunia bahwa ini tak adil ? Salahkah aku yang jatuh sedalam dalam nya pada orang yang mereka anggap salah hanya karena aku dan dia menyembah-Mu di tempat yang berbeda ? Salahkah aku yang mencintainya ? Salahkan aku yang menitipkan hati pada seorang lelaki yang menggenggam erat salib di tangannya ? Bukankah Tuhan itu satu ? Kami hanya berbeda menyebut nama-Nya, hanya beda perantara. Kami tak pernah menghiyanati agama yang kami anut, kami hanya ingin menyatu tanpa ada satupun hujatan.
Pernahkah kau mempertanyakan hal ini ?
Aku sering kali mempertanyakan hal-hal bodoh semacam ini. Aku begitu lemah, semua orang menghujat hal bodoh yang aku lakukan dengan mencintainya.
Dan sampai sekarang aku masih melakukan hal bodoh itu. Aku begitu menikmati ketidaknyataan yang dia berikan. Aku beritu tenggelam dalam rasa yang semakin mengakar ini. Apa yang harus aku lakukan?
Maaf terlalu banyak bercerita, semoga kau tak bosan. Mungkin aku cukupkan, bagaimana kelanjutan ceritamu rizadheliaa ?
Tentang 'Beda' yang Kita Punya
Mengapa harus canggung? Anggap saja kau sedang membawakan cerita seru-mu kepada sahabat lama yang sekian hari tidak bersua. Baiklah wiwidmrn . Aku akan memulai. Sebelumnya mohon untuk tidak tertidur karena bosan ketika matamu menyisir jalinan kalimatku.
Setiap cerita pasti dimulai dengan pertemuan, bukan? Tapi aku tidak tahu pasti kapan tepatnya kami bertemu. Itu tidak penting, karena pada kenyataannya. Kami kini bersama. Jangan berpikir macam-macam. Aku hidup bersamanya hanya dalam ikatan teman. Ikatan yang mengukung perasaanku, hingga begitu pedih terasa. Aku mengenalnya sebagai seorang malaikat yang menyerupai manusia. Bila kau berpikir dia istimewa, sungguh dia jauh dari kata itu. Hanya saja, dia sedikit; berbeda. Akupun tidak tahu pasti kapan tepatnya ia mengetuk hatiku. Karna tiba-tiba saja ia seperti candu dimataku. Bagaimana tidak? Dia seorang nasrani yang dengan tulus menyuruhku untuk shalat tepat waktu. Dia bahkan berkenan mengingatkanku untuk merapikan kerudungku ketika helaian rambut menyembul keluar melalui celah kecilnya. Dia juga yang meneguhkan hatiku untuk tetap istiqomah menutup aurat. Aku pernah menjelaskan asma’ul husna yang tergores indah ditelapak tangannya. Sungguh aku terpana melihat betapa tertariknya ia dengan penjelasanku. Aku akhirnya semakin larut dalam beningnya rasa ini. Aku semakin tenggelam hingga membuatku lupa bahwa ia sudah bahagia dengan gadisnya.
Baiklah, aku sudahi sejenak cerita ini. aku tidak sabar ingin mendengar ceritamu juga. Mulailah bercerita!