Tentang ‘Beda’ yang Kita Punya
Hei pintalan-pelangi selamat sore menjelang senja :) kesehatanku sekarang sudah sangat membaik, ini tak lepas dari doa’amu. Terima kasih. Tetapi tidak untuk hatiku, aku semakin merasakan perih yang teramat sangat, ya sampai-sampai aku sudah merasa mati rasa. Aku tak kunjung nenemukan obat penawarnya. Menjauh dan menjaga jarak dengannya sangatlah tidak mudah. Aku harus merasa tak punya hati untuk melakukannya, mengesampingkan hatiku yang terus merintih untuk didengar.
Aku ingin mengoreksi kata-katamu pintalan-pelangi tidak ada yang namanya kebetulan, kita sengaja dipertemukan Tuhan untuk saling menguatkan. Tuhan telah menggariskannya. Aku tak ingin bisa mengenal seseorang sepertimu disebut sebagai sebuah kebetulan.
Mengapa aku menjaga jarak dengannya ?
Alasanku tak lebih sama sepertimu. Aku sungguh muak jika hati dan logikaku terus berseteru. Hati dan logikaku selalu mengintruksikan hal yang berlawanan, saling menarikku ke arah yang berbeda. Otakku terus meraung-raung untuk segera menjauh dan membencinya, tapi hatiku tak kuasa melakukannya. Dia selalu bisa menguasai hatiku, menjelajahi setiap sudutnya. Aku selalu merasa takut akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Ya aku juga merasa sangat egois jika harus membencinya, dia teramat baik jika harus dibenci dan diacuhkan. Tapi aku juga tak kuat jika terus-terusan tertatih-tatih menyeret hatiku yang telah teramat rapuh ini. Jika aku tetap menggenggamnya aku akan hancur perlahan dan pasti. Ini akan semakin membuatku sakit. Aku tak akan pernah bisa memetik benih yang telah lama dia tanam dihatiku. Bagiku dia hanya suatu ketidak-mungkinan. Aku dan dia akan selalu berseberangan.
Tak apa, tumpahkanlah semua yang membebanimu. Mungkin dengan bercerita kegundahanmu bisa perlahan terkikis dan terhapus. Jangan pernah tenggelam sendiri di dalam kabutmu. Berteriaklah! Berceritalah! Ini akan membuat hatimu sedikit lebih membaik. Aku disini siap menampung apapun yang ingin kau curahkan, aku akan bersedia duduk disampingmu dan mendengar keluh kesahmu.
Terima kasih, ah aku ingin sekali bercerita denganmu sambil memandang indahnya langit.














