I started the day with this song. I love the yearning I hear in the music.
seen from Belgium
seen from United States

seen from Spain
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Russia
seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from Costa Rica
seen from United States
seen from Italy

seen from United States
seen from Italy
seen from United Kingdom
I started the day with this song. I love the yearning I hear in the music.
AND2BLE YOO SEUNGEON & SAMUEL KIM ✩ Instagram Update ✩ “ZIGI-ZIGI-ZIGI” Challenge
Samuel 'ZIGI-ZIGI-ZIGI' MV
Alright, so this is the audio from the videos linked in this post.
Credit: Samuel Kim (arr.)
Title: Star Wars: Order 66 Theme (in the style of Two Steps From Hell)
[ SVT TikTok Update on samuelkimofficial 🌟 ]
250522 - 15:19 KST
> It's been a while since we danced together Hoshi hyung❤️ #rockstar
[ Hoshi Story 🌟 IG ]
250522 - 16:31 KST - @/ho5hi_kwon
[ SVT TikTok Update on samuelkimofficial 🌟 ]
250522 - 12:58 KST
> Lovely hug with my brotha Mingyu🫂 #rockstar
[ Mingyu Story 🌟 IG ]
250522 - 18:07 KST - @/min9yu_k
> What's up dongsaeng👌
What Is Going On Inside Her Head?
capriduce (samuel kim & kwon eunbin) oneshot au written by jlldal © 2024
*** check Pancaka Mantra: Guide Book first if you're still confused about the face claims.
"Al, ke rumah Dirga lah. Mumpung Gafian bisa nih."
Parkiran motor SMA Garuda ramai dipenuhi siswa-siswi yang tak sabar ingin pulang ke rumah. Termasuk Samuel David Bagaskara yang kini tengah duduk asal di dekat motor yang berjejer di parkiran sekolah. Entah motor siapa yang ia duduki, karena Samuel sih bawanya Honda Civic Turbo men, bukan Honda Beat.
"Jam berapa?" tanya Alfan yang kini hendak memakai helmnya. Ia baru saja datang dari kelas, dan bersiap untuk pulang ke rumah.
“Sembilan aja, kayak biasa.” jawab Samuel.
Alis Alfan terangkat, “Nginep lagi nih?”
“Atuh hayu. Dirga juga hayu aja.” Samuel langsung setuju. “Tapi gua mau keluar dulu, ada urusan bentar.” cerocos Samuel.
Tak lama seorang gadis dengan jaket maroon itu berjalan mendekat ke arah motor Alfan. Ujung mata Samuel menyadarinya. “Agak telat tapi ya?” tanya Alfan. “Kagak yakin dateng jam sembilanan gua.”
Kening Samuel berkerut, “Ngapa dah?” tanyanya.
“Nih, minta anterin ketemu lakinya ntar malem.” Alfan menunjuk Ratu yang sudah berdiri di dekat motor Alfan dengan dagunya.
Merasa sedang jadi bahan pembicaraan, Ratu melirik ke arah Alfan lalu Samuel secara bergantian sembari menyimpan telunjuk dan ibu jarinya di dagu, berpose ala-ala.
“Tai, yang pacaran siapa, yang antar jemput siapa.” celoteh Alfan sembari mengeluarkan motornya.
Samuel memandangi Ratu yang sedang mengancingkan helmnya. “Oh, punya pacar lu?” tanyanya pada Ratu.
“Punya lah! Ya kali Ratu Nandini gak punya pacar.” jawabnya pede. Ia mengangkat dagunya sombong.
Alfan berdecak sebal, “Pacar, tapi kagak ada effort-nya buat antar jemput.” omelnya gak henti-henti.
Kesal daritadi mendengar Alfan ngomel terus, tangan Ratu refleks memukul pelan helm Alfan. “Yeeeee, pacar gue bukan supir yang kerjanya antar jemput gue doang.” sungutnya membela diri.
Mendengar ucapan Ratu barusan, alis Alfan refleks naik, “Ya terus gua supir lu gitu?!” sentaknya.
Samuel terkekeh pelan memperhatikan cekcok dua sahabatnya di parkiran motor SMA Garuda ini. “Yaudah, jam berapa aja dah, asal dateng ya lu.” seru Samuel.
Kening Ratu berkerut, “Mau ngapain?” tanyanya.
“Nginep, di rumah Dirga.” Samuel menjawab singkat.
Anggukkan kepala menjadi respon terakhir Ratu atas jawaban Samuel.
“Duluan, Sam!” pamit Alfan sembari melaju dengan motor hitamnya tersebut.
“Yo!”
“Baliknya sama laki lu ‘kan?” Alfan kembali nyerocos. Padahal ia baru saja sampai mengantarkan Ratu di depan sebuah mall tempat Ratu dan pacarnya hendak bertemu.
Ratu melepas helm, lalu menyodorkannya pada Alfan. Ia melirikan matanya ke arah Alfan dengan sengit, “Iyeee buset, gak ikhlas banget ya elo nganter gue doang?!” omel Ratu.
“Emang!” balas Alfan singkat. Ia menutup kaca helm full-face nya lalu menggerakkannya seolah pamit pada Ratu. “Cabut ye gua.” pamit Alfan.
“Awas nabrak.” pekik Ratu sebelum Alfan melaju kencang dengan Yamaha R15 V3 hitamnya itu.
Gadis bersurai kecokelatan ini menghembuskan napasnya pelan, hendak masuk ke tempat ia dan pacarnya akan bertemu. Tinggi, ganteng, umurnya lebih tua dua tahun di atas Ratu. Emang, biasanya yang lebih tua lebih yahut.
Ratu melangkahkan kakinya masuk. Ia duduk dan memesan minuman sembari menunggu kabar dari pacarnya.
7:23 PM
Kak Yuto Ratu, aku ternyata gak bisa datang. Aku lupa kalo tugas aku deadline-nya nanti malam 😢 Kak Yuto Gimana dong? Kak Yuto Gak usah berangkat ya kamu, di rumah aja
Ratu yaaaah ☹️ Ratu yaudah deh gak apa apa, semangat nugasnya!
Kabar dari pacarnya yang bernama Yuto membuat Ratu badmood seketika. Sebenarnya gak apa-apa kalau gak bisa ketemu, tapi kenapa harus banget batalin janji satu jam sebelumnya sih?
Terlanjur memesan minum, gadis itu hendak beranjak ke meja pemesanan dan hendak memesan makanan untuk mengganjal sejenak perutnya yang sudah lapar.
Begitu Ratu berbalik hendak berjalan menuju mejanya, pandangannya tertuju pada laki-laki berpostur tinggi dengan mata yang sipit serta rambut hitam tengah asyik tertawa dan bercengkrama dengan perempuan yang Ratu tak kenal.
Mata Ratu melihat secara langsung seseorang yang seharusnya tengah makan bersamanya sekarang. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas pacarnya itu sedang mengusap-usap pelan kepala seorang perempuan di depannya.
Gila, ternyata ini toh alasan yang sebenarnya?
Makanan yang sudah Ratu pesan sama sekali tak terlihat enak sekarang. Ia tak bisa tinggal diam. Gadis itu berjalan menghampiri dua orang yang tengah duduk di bagian luar restoran. Ia menyimpan keras nampan makanannya di atas meja Yuto dan si perempuan itu. Menimbulkan bunyi nyaring sampai beberapa makanannya tumpah berserakan.
“Meja yang lain penuh nih, aku ikut di sini ya!”
Suara Ratu membuat Yuto menoleh. Begitu juga dengan gadis berambut pendek di depannya.
“Loh, Ratu?” Yuto terlihat terkejut.
Ratu melirik pada Yuto, “Oh, hai, Kak Yuto. Kenapa sih, kok kaget? Oh, panik ya soalnya ketahuan bohong?” sarkasnya.
Yuto yang terlihat panik sebisa mungkin agar tetap tenang. “Aku gak selingkuh ya. Ini kita lagi ngomongin tugas kuliah, dia temen kuliah aku.” belanya.
“Hah, emang siapa yang bilang Kak Yuto lagi selingkuh? Apa ini pengakuan ya?” ejek Ratu. “By the way, ngomongin tugas kuliah apa sih yang ada elus-elus kepala gitu. Enak banget dong ya.”
Merasa tak enak kalau ia diam saja, gadis berambut pendek ini ikut berusaha membela, “M-maaf bukan gituㅡ”
“Ssssh!” Ratu menyimpan jari telunjuknya di depan bibir ketika gadis itu hendak bicara. “Aku cuma mau ngobrol sama Kak Yuto aja nih, jadi kakak diem aja deh dulu, ya.” lanjutnya sembari tersenyum kecut.
“Ck,” Yuto berdecak. Ia bangkit dari duduknya, kemudian membawa Ratu pergi dari situ sembari mencengkram pergelangan tangan Ratu. “Ayo ikut.”
“Kamu mau pesan makan apa?”
Gadis bermata bundar ini terlihat cemerlang. Pantulan lampu-lampu cantik di restoran ini begitu indah di bola matanya.
Samuel mengangkat tangannya pada pelayan yang baru saja mengantarkan dua minuman yang sebelumnya sudah mereka pesan. “Nanti aja. Duduk dulu, ada yang mau aku bicarakan.” ujar Samuel pelan begitu pelayan tersebut pergi dengan nampannya.
Herini Nayla. Gadis bermata cantik nan cemerlang ini sudah satu tahun menjalin hubungan dengan Samuel. Tentu saja mereka hanya bisa bertemu di moment-moment seperti ini karena mereka berada di sekolah yang berbeda.
Gadis yang akrab disapa Herin ini mengerutkan matanya sembari mengaduk-aduk pelan vanilla latte-nya.
“Mau ngomongin apa?” tanyanya.
Samuel membasahi bibirnya sejenak. Ia yang tadinya merundukkan kepala, jadi menatap Herin lurus.
“Kita udahan aja ya?” ia bicara enteng. “Hubungan kita.” lanjutnya.
Jemari Herin berhenti mengaduk-aduk minumannya. Ia masih menatap Samuel lurus meskipun terasa sangat tidak nyaman. Ada yang aneh. Pernah merasakan naik roller coaster? Bagaimana keadaan jantung? Berasa seperti jatuh ke perut ‘kan, walau sebenarnya tidak? Itu yang Herin rasakan sekarang.
“Aku bikin kesalahan, ya?” tanya Herin pelan.
Sontak Samuel menggelengkan kepalanya, “Enggak, enggak. Kamu gak pernah bikin kesalahan apapun.” ia tak setuju dengan ucapan Herin. Ya, pasalnya Herin memang gadis yang baik. “Aku cuma gak mau kalau nanti aku malah bikin kamu sakit hati karena sikap aku.” lanjutnya. Ia kemudian mengangkat alis sembari melirik pada Herin. “Tau sendiri kan?”
Gak, Herin gak percaya.
Memang, selama mereka berpacaran, Samuel tak pernah menjadi laki-laki yang sering diceritakan drama yang menjamur di media sosial.
Ia tak romantis. Ia cuek. Bahkan ia lupa hari ulang tahun Herin, hari jadi mereka, segala perintilan yang harusnya menjadi budaya saat berpacaran sama sekali tak pernah Samuel lakukan. Entah apa yang salah dari Samuel, tapi laki-laki itu benar-benar tidak peduli dengan orang-orang di dunianya. Termasuk Herin.
Tapi jauh dari itu, Herin gak pernah mendengar hal yang tidak-tidak tentang Samuel. Ia pemuda baik-baik.
“Bohong.” sahut Herin. “Pasti ada alasan lain.”
“Emang ada,” potong Samuel cepat. “Aku gak mau pacaran. Aku gak percaya sama sebuah hubungan yang terikat.” jelasnya cepat.
Sama sekali tak ada raut rasa bersalah di wajah Samuel. Herin tak mengerti.
“Perempuan lain?” tanya Herin.
Bukannya gelengan kepala yang Herin dapatkan sesuai harapannya, Samuel malah mengeluarkan handphone merahnya lalu menyodorkanya pada Herin. “Cek aja.” ujarnya.
Tak habis pikir. Samuel memang pemuda baik. Tapi sepertinya tidak untuk diajak menjalin sebuah hubungan.
Herin terkekeh sinis, “Kamu jahat ya, Sam.” gumamnya pelan. Ia sama sekali tak berhasrat untuk mengecek handphone Samuel karena jawabannya pasti nihil. “Memutuskan secara sepihak, menyerah secara sepihak. Aku bahkan gak pernah berpikir bahwa aku merasa terbebani sama sifat kamu yang terlalu cuek itu.” lanjut Herin. Ia menatap Samuel yang kini tengah bersandar pada punggung kursi.
“Maaf, aku cuma mau lepas aja dari sebuah hubungan yang terikat begini.” balas Samuel. Tetap teguh dengan pendiriannya.
Herin sontak langsung berdiri dari kursinya. Ia memandang Samuel lurus, lalu dibalas oleh Samuel. Pemuda itu melirik ke arah lemon tea nya yang berembun akibat dingin, dan melirik Herin lagi.
“Kenapa? Mau siram aku pakai lemon tea?” tanya Samuel sama sekali tak ada beban.
“Iya.”
Tak di sangka, Herin malah mengangguk dan mengambil gelas berisikan lemon tea tersebut. Tanpa pikir panjang, Herin langsung menyiramkan lemon tea yang ia genggam pada tubuh Samuel. Mulut pemuda blasteran itu menganga. Gila! Beneran disiram!
Herin tak bicara lagi. Ia melangkah meninggalkan Samuel yang masih duduk dalam keadaan pakaiannya yang basah. Beberapa pasang mata melirik ke arah Samuel dengan tatapan bermacam-macam.
Ya, oke ia anggap ini sebagai konsekuensi atas kebrengsekannya hari ini.
Samuel membuka dompet, lalu menyimpan beberapa lembar uang di atas meja sebagai tip, dan berajak dari situ.
“Brengsek lah!”
Sepanjang perjalanan Samuel menuju mobilnya yang terparkir di basement, ia mengumpat sebanyak mungkin. Lengketnya lemon tea masih sangat terasa di tubuhnya. Ia hendak membuka mobil guna masuk dan mengganti pakaiannya dengan kaos yang ada di kursi belakang Honda Civic Turbo putihnya ini.
Tapi suara pekikan seorang gadis membuatnya terhenti. Matanya melihat bagaimana gadis itu ditarik dengan cengkraman di tangannya yang telihat sangat mengikat.
“Lah, Ratu?” gumam Samuel pelan. Ia hanya bisa memperhatikan dari tempatnya berdiri.
Enggak, enggak gak boleh. Samuel memperingati dirinya sendiri guna tak ikut campur dengan urusan orang lain.
“APASIH?!”
Ratu mencoba berontak dari cengkraman jari sang pacar yang mengunci pergelangan tangannya sampai sakit. Ia dibawa oleh Yuto ke parkiran basement. Tempatnya lumayan sepi, bahkan mobil pun bisa dihitung jari jumlahnya. Mereka ada di dekat mobil milik Yuto yang terparkir.
“Dengerin, aku mau jelasin.” ujar Yuto sebisa mungkin terdengar lemah lembut.
“Jelasin apa, udah jelas banget itu kamu selingkuh. Masih mau ngelak apa lagi sih?” pekik Ratu.
“Ck, gak gitu.” Yuto terus mengelak.
“Emang gitu. Udah lah, udah. Kita putus aja, kamu silahkan sama teman satu kampus kamu itu.” Ratu melepaskan cengkraman jari Yuto yang melonggar di pergelangannya.
Yuto terdiam. Ia menundukkan kepala ketika Ratu hendak pergi dari sini. “Semudah ini?” gumamnya.
Ratu terdiam sejenak. Ia memejamkan matanya frustasi menahan marah, lalu balik badan guna bicara dengan Yuto.
“Iya, semudah ini. Semudah ini buat putusin cowok yang berani selingkuh kayak kamu.” sentak Ratu.
Yuto membasahi bibirnya sejenak sebelum akhirnya melangkah mendekat ke arah Ratu. “Kayaknya dari pertama kita pacaran, cuma aku ya yang sayang sama kamu, Rat. Kamunya enggak.” ujarnya tiba-tiba sembari terus melangkah mendekat ke arah Ratu.
Kening gadis bernama lengkap Ratu Nandini ini berkerut, “Apaan sih, kok malah jadi kamu yang merasa tersakiti gini?!” gerutunya.
Yuto kembali bicara, “Sekarang perkiraanku selama ini ternyata bener, kamu gak sayang aku makanya semudah ini bilang putus.”
“Kamu ngomong apa sih, kenapa kemana manaㅡ”
Omongan Ratu tertahan begitu Yuto malah tiba-tiba mencengkram kencang bahunya.
“DARI DULU AKU YAKIN KALO KAMU TUH SUKANYA SAMA ALFANSYAH!” bentak Yuto menyebut nama Alfan.
Ratu sangat kaget begitu Yuto tiba-tiba saja berani mencengkram kencang bahunya seperti ini. Tapi sebisa mungkin Ratu tak terlihat kaget dan takut, lalu membalas pekikan Yuto.
“Kalau aku suka Alfan, kenapa aku pacaran sama kamuㅡ”
“GAUSAH NGELAWAN!”
Suara telapak tangan yang mendarat di pipi Ratu terdengar menggema mengisi parkiran basement yang sepi.
Ratu kaget bukan main. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja Yuto lakukan kepadanya. Laki-laki brengsek ini baru saja menamparnya.
Sedangkan Samuel, yang hanya melihat dari dalam mobilnya membeku di tempat. Matanya membelalak, bahkan tangannya langsung kaku. Di depannya, sahabatnya sendiri, ditampar kencang oleh laki-laki yang Samuel yakini adalah pacarnya.
Ia menghela napasnya kasar.
Segala prinsip untuk tidak ikut campur urusan orang terpaksa ia hancurkan sendiri demi menyelamatkan sahabatnya, yang tengah sendirian diselimuti ketakutan akan laki-laki yang dengan gampangnya melayangkan tangan pada seorang perempuan.
Tetapi, ketika baru saja Samuel hendak membuka pintu mobil, suara tamparan kembali menggema di basement.
Iya, Ratu balik menampar Yuto.
Samuel pikir, langkah Ratu selanjutnya antara akan diam saja atau pergi menjauh dari Yuto. Akan tetapi, perempuan itu tiba-tiba saja balik menampar kekasihnya tersebut.
“Gak sekali dua kali gue ketemu laki-laki tai kayak lo. Gak ada kesempatan kedua, gak ada maaf, gak ada gue nangis dan mohon-mohon sama lo.” Ratu mengacungkan jari telunjuknya seraya memaki-maki Yuto yang sama kagetnya, karena ia pikir Ratu tidak akan membalas tamparannya. “Lo, pergi. Jangan pernah muncul di hadapan gue apapun alasannya.” usir Ratu.
Napas Yuto terengah-engah. Ia meneguk saliva nya gugup.
“Gini, Ratuㅡ”
“Gak. Gue bilang pergi ya pergi!” tegas Ratu.
Yuto tanpa bicara lagi langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan kencang meninggalkan parkiran.
Samuel yang menyaksikan itu dari dalam mobil hanya bisa terdiam begitu Ratu tiba-tiba saja berjongkok, ia sedikit terisak, terlihat dari bahu nya yang bergetar hebat. Tangannya sibuk seperti sedang mencari nomor di kontak teleponnya.
Ia hendak turun, hendak menemani dan menenangkan perempuan itu dari segala kejutan bajingan yang baru saja perempuan itu lalui tadi. Tapi niatnya kembali gagal begitu Ratu berbicara dengan seseorang di balik teleponnya.
“Al, lo bisa jemput gue gak?” ujar Ratu, sebisa mungkin menahan tangisannya agar tidak ketahuan Alfan. “Kalo gak bisa gapapa sih, gue order ojol nih.”
“Lah, katanya lu balik ama laki lu?” seru Alfan dari balik telepon. “Lagi beli martabak, antre. Buat anak-anak.”
“Yuto nya buru-buru katanya, gak bisa anter gue pulang.”
“Si bangsat.” gerutu Alfan. “Agak lama gapapa ya tanggung ini.”
“Yaudah, gue order ojol aja kalo gitu.” sahut Ratu.
“Gua jemput, iye iye. Otw.”
Ratu mengerutkan keningnya, “Lah, martabaknya gimana?”
“Ya balik lagi lah ke sini nanti, ama lu.” sahut Alfan.
“Ih udah ah gak usah, gue order ojol aja.”
“Di lobby yang tadi ‘kan? Oke.” Alfan kekeuh.
“Eh, woyㅡ”
Telepon terputus. Ratu menghela nafasnya berat. Sebenarnya ia enggan menghubungi Alfan, tapi entah kenapa ia sekarang merasa tidak aman dan sedikit ketakutan.
Ia hanya berharap semoga Alfan tidak akan pernah tahu apa yang sudah Yuto lakukan kepada Ratu tadi. Tidak, tidak. Ia enggan merusak pertemanan Alfan dan Yuto, yang mana adalah sahabat dari kakaknya Alfan. Duh, gak tau deh apa yang akan terjadi kalau Alfan tau Ratu ditampar oleh Yuto.
Samuel melihat itu.
Ia tidak kaget sih kalau Ratu memilih menelepon Alfan dari sekian banyak sahabatnya di tengah situasi seperti ini.
Ratu dan Alfan sudah seperti satu orang di dua tubuh yang berbeda. Entah ada koneksi apa antara keduanya hingga banyak kemiripan pada dua orang itu.
Pemuda itu hanya bisa melihat dari jauh dengan bibir yang terkatup, seorang perempuan yang tengah bercermin dengan cermin kecil di compact powder-nya, terlihat santai namun tergambar jelas kekecewaan di sana.
Ia memilih untuk menyalakan mesin mobilnya. Sedikit membuat Ratu merenyit kesilauan begitu lampu Honda Civic Turbo miliknya nyala menyorot. Topi ia sematkan di kepalanya, tidak terpikir kembali untuk mengganti baju, dan memutuskan untuk pergi menuju rumah Dirga.
Prinsip hidupnya belum goyah saat ini.
Belum, dan ia harap tidak akan.
Alfan merenyitkan kening begitu melihat Ratu yang bangun dari kursi tempatnya menunggu di depan lobby mall. Perempuan itu terlihat sedikit bingung dan tangannya gemetar hebat.
“Lu kenapa?” tanya Alfan.
Ratu merenyitkan keningnya, “Emangnya gue kenapa dah?” dia malah balik bertanya sembari menjepit rambutnya dengan jedai.
“Lu dikasih makan gak sih ama si Yuto? Tangan lu ampe gemeteran gitu.” Alfan masih merenyitkan kening keheranan melihat tangan Ratu yang tak berhenti bergetar.
Ratu kaget, ia refleks menghindari kontak mata dengan Alfan lalu melirik ke arah sahabatnya ini dengan sinis.
“Apaan sih elah, gak nyambung lo!” gerutunya. Ia mengadahkan tangan guna meminta helm yang ada di depan Alfan, tapi bukannya dapat helm, tangan Ratu malah ditarik dan dipegang oleh pemuda bernama lengkap Alfansyah Revano Rizal ini.
“Tuh, lu gemeteran.” ia masih memegang erat tangan Ratu. Perempuan itu buru-buru menariknya. “Jawab yang bener, lu kenapa?” tanyanya serius.
Ratu berdecak, ia merebut helm yang ada di depan Alfan, lalu ia kenakan dengan cepat. “Gapapa elah, berisik banget sih elo tuh, Alfansyah.” gerutunya. Kemudian ia naik ke atas motornya Alfan. “Ayo ambil martabak. Gue mau ikut nginep di rumah Dirga juga.”
Ucapan Ratu refleks membuat Alfan malah menyundulkan helmnya ke belakang, yang mana helm mereka berdua malah berbenturan.
Ratu meringis, “AW!!!” pekiknya begitu helmnya berbenturan dengan helm Alfan.
Sedangkan pemuda itu menggeleng cepat, “Kagak ada, maksimal jam 12 lu gua anter pulang.” sungutnya tegas.
Perempuan itu hanya bisa menghela napasnya. Ia mencengkram erat jaket hitam yang Alfan gunakan begitu sahabatnya ini hendak melaju.
“Sumpaaaah, kali ini gue gak nyesel beli tempe gorengnya gila! Ini kayaknya hari keberuntungan gue sih, asli.”
Celotehan Nindya barusan dibalas kekehan Lula, Namira, Ratu dan Nahila.
Jam istirahat tadi mereka gunakan untuk makan di kantin, dan kali ini tanpa personel laki-laki karena mereka semua beneran tidur di kelas karena malamnya semua nginep di rumah Dirga, dan gak tidur sama sekali.
Ratu beneran diusir Alfansyah. Jam 11:30 malam, dia langsung diantar pulang dan Alfan beneran balik lagi buat nginep di rumah Dirga.
Dari marathon movie, main poker, main gaple, main uno, PlayStation, sampai tiba-tiba udah jam enam pagi aja. Selama jam pelajaran pun mereka bener-bener tidur. Hanya Gafian dan Samuel yang mencoba untuk tetap sadar supaya gak tertinggal pelajaran.
Nahila mengangkat sebuah paper bag yang ia bawa, “Kita tadi beli apa aja tuh?” tanyanya.
“Nasi kuningnya dua, buat Dirga sama Putra. Terus Alfan tuh… eh, Alfan nitip apa sih?” Namira langsung lupa pesanan Alfan.
Lula meringis pelan, “Dia nitip batagor bukan sih?” ia balik bertanya sembari menebak-nebak.
Ratu menggeleng, “Yang nitip batagor tuh Fawad tau, sama Athan.” sahutnya.
“Lah, terus ini kurang dong?” Nahila memekik ketika mereka sedang menaiki tangga.
“Hah, kurang gimana?” seru Nindya.
Nahila memeriksa makanan pesanan para lelaki di dalam paper bag-nya, “Di sini ada Nasi Kuning tuh dua, Batagor juga dua, sama Beef Yakiniku dua.” ia menyebutkan isi di paper bag-nya. “Yakiniku punya Samuel sama Gafian.”
Lula menghembuskan napasnya berat, “Fix sih kita lupa beliin buat Alfan, plus kita juga lupa dia nitip apa.” keluhnya.
“Haduh, gak apa-apa kali ya?” Namira panik sendiri merasa gak enak dengan Alfan.
Ratu berdecak pelan, “Udah, gapapa kok. Nanti juga barengan sama Samuel atau Dirga kan biasanya.” ucapnya enteng.
Kelima gadis ini berjalan menuju kelas mereka yang berada di lantai tiga.
Begitu keluar dari tangga menuju lantai tiga, mereka lupa. Lupaaa banget kalau jam segini adalah jam para cowok-cowok nongkrong di ujung tangga lantai tiga.
Swalaaa, mereka berjejer di dekat mulut anak tangga.
Nahila yang ada di paling depan sampai berhenti melangkah. Ia memperhatikan satu persatu wajah anak laki-laki ini, tapi gak ada yang ia kenal. Masalahnya tuh pasti diledekin, kan sebel!
“Wow, balik lagi aja yuk ke kantin. Please banget.” gumam Nindya pelan sembari merangkul lengan Namira.
“Ck elah,” gerutu Ratu pelan. Kemudian ia berjalan mendahului teman-temannya guna lewat di depan para lelaki ini.
Tak ada reaksi dari para gerombolan cowok, karena mereka sibuk dengan handphone mereka.
Ratu kira ini sudah aman dan pasti teman-temannya gak akan kena cat-calling atau siulan-siulan tolol dari anak laki-laki ini.
Sampai ketika Ratu, Nahila, Namira dan Nindya berhasil melewati barsan para lelaki, begitu Lula, anak laki-laki ini refleks berkerumun seolah menyekap Lula.
Nahila panik, Nindya udah bener-bener gelayutan doang di tangan Namira. Ratu lebih-lebih, dia beneran kaget dan takut ketika Lula tiba-tiba dikerubungin gitu.
Lula beneran sepanik itu sampai gemetar sendiri tangannya.
“Kok DM gua gak dibales sih, Lul?”
Lula refleks menoleh ke belakangnya. Di mana ada laki-laki yang lebih tinggi darinya sedang memutar-mutar handphone-nya asal.
Namanya Ethan Alan Lewis, atau akrabnya disapa Ethan. Si ketua kelas 11 IPS 4 yang dari kelas sepuluh lalu memang sering nyepik Lula, tapi gimana dong Lula nya ‘kan gak suka?
Mana bandel, teman-temannya gak jelas, bener-bener se-gak jelas itu sampai teman-teman di IPS 2 pun memperingatinya agar tak menghiraukan Ethan.
Gak mau terlihat cupu, Lula langsung menjawab pertanyaan Ethan. “Gue gak buka Instagram.” balasnya.
“Gak buka Instagram, tapi bikin Instastory, Lul?” Ethan terus memojokkan Lula.
Beberapa teman Ethan tertawa mengejek, bahkan ada yang sampai iseng nyeletuk kalimat yang gak seharusnya disebutkan. Gak ada akhlaknya emang.
“Lul, jangan cuek-cuek amat sama cowok mah, nanti kagak laku loh.” celetuk Raditya si anak IPS 4.
Ah, ini anak gaulnya emang sama orang yang gak bener semua ya. batin Lula ketika ia melirik ke arah Radit.
Setuju dengan celetukan Radit, salah satu pemuda yang kini tengah memakan potongan Ekkadonya mengangguk. “Au elah, Lul. Ethan pengen kenalan doang itu jangan sombong-sombong.” ia menambahkan. Adji namanya.
Lula gak tau lagi harus apa. Ia melirik, menatap satu-satu wajah pemuda-pemuda ini sampai akhirnya ia melihat Samuel sedang bersandar pada punggung salah satu pemuda ini sembari membaca komik di handphone-nya dan memakai earphone.
Gak bisa, Lula gak bisa hadapi Ethan sendiri karena dia bawa teman-temannya.
“Samㅡ”
Baru saja Lula hendak memanggil Samuel, tiba-tiba saja ada yang merusak kepungan yang dibuat teman-teman Ethan.
Gadis bersurai panjang ini menarik kerah bagian belakang seragam teman-teman Ethan supaya enyah dan memberinya jalan, lalu dengan segera menarik tangan Lula.
“Udah, Lul. Gak usah diladenin.” ujar Ratu. Ia langsung menarik tangan kanan Lula dan hendak membawanya keluar dari kerumunan.
Tapi Ethan gak mau kalah. Ia juga refleks menarik tangan kiri Lula dan menahannya agar tetap bersamanya. Duh, itu Lula Sahara udah lemes duluan kalau dibeginiin. Dia takut dan beneran, setakut itu sama Ethan.
“Gua lagi ngomong ya sama Lula.” seru Ethan pada Ratu.
Ratu yang langkahnya mau tak mau terhenti, langsung balik badan menghadap Ethan. “Apa? Ngomong sekarang.” serunya menatap Ethan tanpa rasa takut sedikitpun.
“Ini urusan gua sama Lula lah! Lu gak usah ikut campur.” Ethan berkata demikian.
Ujung bibir Ratu terangkat. Ia tertawa sinis, “Apa? Perihal DM lo yang gak dibales-bales?” nada suaranya sangat sangat sangat terdengar antagonis.
Nahila, Nindya dan Namira benar-benar gak tau harus gimana. Mau teriak supaya bubar, malu. Mau panggil anak-anak kelas, gak enak mereka semua pasti lagi tidur. Mau panggil guru, panjang urusannya. Akhirnya mereka cuma diam di tempat sembari komat-kamit berdoa agar dua temannya baik-baik saja.
“Lu gak usah tau.” jawab Ethan. Sebisa mungkin ia terlihat tenang menghadapi Ratu yang sedang berapi-api ini.
“Oh, gue harus tau. Urusan Lula, urusan gue juga.” bentaknya. “Lagian ngapain sih elo DM Lula terus? Kalo gak dibales, tandanya dia gak suka sama elo. Ngaca makanya elo kayak apa!”
Kalimat pedas yang terlontar dari kalimat Ratu barusan membuat mata Ethan membelalak.
Satu koridor riuh berisik. Kalau begini sih malah jadi tontonan gratis bukannya dibubarkan. Lumayan, sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung lagi.
Riuh koridor tadi membuat Samuel yang sedaritadi terfokus pada komik langsung menurunkan layar handphone dari pandangannya. Earphonenya ia lepas, dan, yap. Dia gak salah lihat, itu Ratu dan Lula. Teman-teman satu kelasnya.
“Ngapain coba tuh bocah?” gumamnya pelan. Sebisa mungkin tak ingin terlibat. Tahu ‘kan bagaimana sangat tidak inginnya Samuel ikut campur masalah orang lain?
Kembali pada Ethan yang masih membelalakkan matanya setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ratu.
Pemuda itu membasahi bibirnya sejenak. “Wow, nyali lu oke juga.” gumam Ethan. Ia menatap Ratu tajam, “Lu juga ngaca dah. Punya apa lu sampai nyuruh gua ngaca?” Alis Ratu berkerut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ethan. “Dengar ya, lu tuh cantik aja kagak. Jadi kagak usah belaga.” sentak Ethan pada Ratu.
“WOAAAAAA!!!”
Riuh berisik para cowok-cowok ini semakin memperpanas suasana.
Emosi Ratu tersulut dengan omongan Ethan barusan. Tanpa melepas tangan kanan Lula, Ratu berjalan mendekat ke arah Ethan. Kini keduanya berdiri berdekatan. Gak ada rasa takut sedikitpun yang tergambar di raut wajah Ratu.
“Apa?” tanya Ethan menantang.
Tanpa babibu lagi, tangan kanan Ratu yang bebas, melayang dengan keras di pipi kiri Ethan.
Yap, Ratu menamparnya.
Bunyi suara tamparan membuat riuh satu koridor itu. Ethan bahkan sampai menganga tak percaya bahwa ia ditampar seorang perempuan. Ekspresi kaget tergambar di wajah Ethan. Ia membelalakkan matanya tak percaya. Sedangkan Ratu, ia mengangkat telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah Ethan.
“Lo adalah orang paling menjijikan yang pernah gue temui.” ujar Ratu. Sebelum akhirnya ia menarik Lula, dan membawanya pergi menuju kelas bersama tiga teman lainnya.
Ethan masih diam di tempat, sedangkan Adji dan Radit sudah tertawa guling-guling di lantai koridor.
“HAHAHAHA KENA TAMPAR CEWEK BAHAHAHAHA!!!”
“YAH BUSET MENJIJIKAN KATANYA WAKAKAKAKA!!!”
Samuel yang tadinya tengah bersandar buru-buru menegakkan tubuhnya. Ia duduk di sebelah kiri Ethan yang kini sudah duduk di sebuah kursi kayu yang memang di sediakan sepanjang koridor Garuda.
“Kiri atau kanan?” tanya Samuel pada Ethan.
Ethan tak menjawab. Ia hanya menunjuk pipi kirinya yang berbekas telapak tangan. Samuel langsung menahan tawanya.
Ia dan Ethan sebenarnya sering bertemu di perkumpulan anak mobil gitu. Secara, Samuel sih anak mobil banget, teman-temannya aja udah beda sama anak-anak IPS 2 yang lain.
Radit yang udah selesai tertawa sampai menangis itu ikut duduk di kursi kayu, tepat di samping kanan Ethan.
“Lagian lu masih aja ngejar Lula? Cari sih yang lain, cewek banyak elah.” sungutnya.
Ethan berdecak, “Gua maunya Lula.” kekeuh-nya.
Adji melirik ke arah Samuel yang kini masih berusaha menahan tawa melihat bekas telapak tangan di pipi kiri Ethan.
“Tadi tuh anak kelasan lu ya, Sam?” tanya Adji.
Samuel menoleh pada Adji, lalu mengangguk, “Ngapa?”
“Demen gua.” sahut Adji cepat. “Berani banget dia tadi, gua salut dah. Keren.”
Mendengar ucapan Adji barusan, tangan Samuel refleks memukul kepala Adji dengan handphone nya sampai terdengar bunyi ‘pletuk’ lumayan keras.
“Kagak usah norak.” sungut Samuel.
Adji memegang pucuk kepalanya yang dipukul handphone, “APAAN SIH KOK MUKUL?!” serunya. Beneran nyut-nyutan.
Radit tertarik dengan pembahasan si gadis pemberani barusan. “Punya gebetan kagak tuh?” tanya Radit.
“Mana gua tau.” jawab Samuel sensi. Ada sedikit rasa ketidaksukaan Samuel ketika teman-temannya ini malah membahas soal Ratu.
Radit dengan cepat merebut handphone Samuel, “Bagi IG nya ah gua.” ia berkata demikian sembari berusaha membuka handphone Samuel.
Panik, Samuel langsung merebut paksa handphone nya lalu refleks ancang-ancang hendak memukul wajah Radit.
“Si bangsat!” sungutnya emosi. Ia merebut kembali handphone nya dari tangan Radit. “Kagak sopan, tolol!” makinya.
Radit hanya cekikikan kecil, “Ya lagian anjir lu nya kagak mau ngasih tau.” keluh Radit, tapi ia memang agak takut sama kepalan tangan Samuel.
Adji gak panik-panik amat. Udah biasa Samuel dan Radit cekcok begitu.
Ethan masih mengusap-usap pipinya yang nyut-nyutan, “Sam, sama Lula kan satu geng tuh, sahabatan kalian. Bukannya bantuin gua buat deketin dia ke gua, malah diem aja.” gerutunya.
Samuel melirik sinis, “Bodo amat anjing, bukan urusan gua.” keluhnya. Kini ia menjadikan punggung Adji sebagai sandarannya, lalu kembali membaca komik di handphone nya.
Memangnya Samuel bagian dari pertemanan itu ya?
Di kelasnya, 11 IPS 2 tepatnya. Ada segerombol siswa-siswi yang seriiiing banget, setiap hari bahkan, selalu menghabiskan waktu bersama. Tapi masing-masing dari mereka memang ada sejarah panjangnya sih.
Alfan, Dirga, Fawad, dan Reksa. Mereka sudah berteman sejak kecil, dan di kelas 10 mereka berada di satu kelas yang sama.
Lalu ada Namira dan Nindya yang awalnya bukan bagian pertemanan itu, mau gak mau jadi akrab karena Namira merupakan pacar Dirga, dan Nindya juga pacarnya Reksa. Ada Ratu juga yang tiba-tiba menjadi dekat dengan Alfan dan Fawad di kelas 10 itu karena satu kelas.
Putra dan Lula basically duo yang tak terpisahkan. Putra dan Fawad personil band sekolah, temannya banyak, sama-sama saling kenal sebelum mereka berada di satu kelas yang sama. Lula ngikut Putra. Sama siapapun Putra berteman, pasti Lula ikut. Putra dan Fawad berteman, ya Lula juga.
Selanjutnya ada Athan dan Nahila. Sama kayak Putra dan Lula, mereka duo. Tak salah lagi, Athan, Nahila dan Nindya berada di kelas yang sama saat masih kelas 10.
Kan, semuanya ada kaitannya.
Tidak dengan Samuel. Ia dari kelas yang berbeda, ia juga tidak kenal dengan siapapun di kelas itu. Ya, dirinya dan si anak baru yang kini satu bangku dengan Athan sih.
Dengan segala kebetulan itu, Samuel bertanya-tanya.
Apakah ia juga bagian dari mereka?
Atau bukan?
Apakah ia menganggap dirinya bagian dari mereka?
Atau, apakah mereka menganggap dirinya juga?
Entahlah.
“GUYSSS!!!! SUMPAH SUMPAH!!!”
Para lelaki yang tadinya hampir pingsan, langsung seger begitu suara menggelegar milik Nindya membuat mereka yang tengah tertidur di kelas langsung bangun.
Alfan menyipitkan matanya, “Pop Mie gua mana?” tagihnya.
Nahila menganga, baru ngeh kalau Alfan pesan Pop Mie. “Ternyata Pop Mie, geeengs.” serunya pada Lula, Ratu, Nindya dan Namira.
“Al, sorry ya kita lupa pesanan lo.” Namira meminta maaf pada Alfansyah.
Laki-laki itu berdecak sebal, “Kan, gitu kan.” gerutunya. Ia memajukan kepalanya ke makanan Fawad. “Wad, mau.”
Fawad yang asyik makan batagor menggerakkan kepalanya ke arah meja depan. Enggan batagor kecintaannya di makan Alfan. “Athan, Athan.” serunya.
Alfan memajukan tubuhnya ke meja Athan, “Than,” panggilnya.
Athan yang sama-sama makan batagor dan ogah dibagi dua sama Alfan juga melakukan yang Fawad lakukan. “Dirga, Dirga.” seru Athan sembari menggerakkan kepalanya kearah Dirga.
“Ga,” panggil Alfan.
“Gafi, Gafi.” balas Dirga yang asyik memakan nasi kuning emak. Ia melemparnya ke Gafian.
“Gaf,” pada akhirnya Alfan meminta ke Gafian.
“Sendoknya satu doang tapi.” balas Gafian.
“Pake tangan.” Alfan langsung berdiri dari kursinya. “Mir, minta sabun dong.”
“Ini.” Namira memberikan sabun cair yang ia simpan di wadah kecil kepada Alfan, lalu pemuda itu buru-buru setengah berlari ke wastafel yang berada di depan kelas. “Gengs, sumpah deh. Tadi parah banget di deket tangga!” gadis itu memajukan tubuhnya kea rah meja barisan tengah, dimana mereka sedang asyik makan siang.
“Apaan, Yang?” Dirga bertanya.
“Lula digodain Ethan!” celetuk Nindya.
Athan merenyitkan keningnya, “Ethan mana?” ia mengingat-ingat. “Oh, yang DM-in lu mulu, Lul?”
Lula mengangguk, “Iya.” jawabnya. “Sebel banget gue sama dia.”
“Dia godain Lula kan, terus temen-temennya ikutan. Geli banget gak sih. Abis itu Ratu tiba-tiba aja maju lawan Ethan, dan lo tau gak?” Nindya memotong pembicaraannya.
“APA, APA?”
“RATU NAMPAR ETHAN!!!” seru perempuan itu semangat.
“ANJIIIRRRR!!!”
Namira merangkul bahu Ratu yang asyik makan, “Gila ‘kan sohib gue. This is modern feminism!”
Dirga menyenggol paha Fawad, “Ethan Ethan yang bawa BMW E90 biru, bukan?”
Fawad menjawab, “Iye, tayo ceper yang knalpotnya minta disumpel jerami.” Athan hampir keselek batagor dengar jawaban Fawad.
Nahila mengetuk meja sebelum berbicara, “Tapi sumpah ya geng, highlight nya nih ada dua selain Ethan ditampar sama Ratu.” ujarnya.
“Tadi Samuel ada di situ, tapi gak bantuin SAMSEK!” sahut Nindya.
Lula menggelengkan kepalanya, “Gila emang.” Ia terdengar sedikit kecewa. Begitu pintu ada yang masuk ke dalam kelas, mereka refleks menoleh kea rah pintu, “Tuh, anaknya.” tunjuknya.
Samuel berjalan santai, dengan Alfan yang mengintil di belakangnya, abis cuci tangan.
“Huuuu, Samuel jahat ah males gue.” Namira menyoraki teman satu bangku kekasihnya ini.
“Tau deh, padahal gue udah manggil nama lo, tau.” gerutu Lula.
Nahila menggelengkan kepalanya kepada Samuel, “Sam, jangan gitu ah. Gak baik loh.”
“Tau, bukannya belain gue juga!” Lula ngomel lagi.
Samuel merespon sederhana, “Apa sih, apaaaaa?” ia menarik kursi di sebelah meja Athan. “Yakiniku gua?” tanyanya. Gafian oper pesanan Samuel yang ia simpan di bawah mejanya. Jadi posisinya Alfan dan Samuel mengelilingi meja Athan dan Gafian.
Putra yang merasa tidak adil para ciwi-ciwi menyoraki Samuel, ikut bersuara. “Ya mana enak belain elu di depan temen temennya. Aneh lu.” serunya sembari memukul pelan kepala Lula dengan sendok plastik yang ia pakai untuk makan nasi kuning.
“Lah, emang gue bukan temennya?!” Lula gak terima.
“Lagian kata gua juga block aja itu si Ethan, ngeyel sih ah elu.” seru Putra.
“Gue gak suka sama dia bukan berarti harus gue block juga kan akunnya.” bela Lula.
Athan nyeletuk, “Ah elu mah, Lul. Masih aja baik ama yang model begitu.” ujarnya. “Kalau gua jadi elu mah, udah gua ciduhin.”
Namira nambahin, “Tapi bener deh apa kata Putra, kalo Samuel ikutan bakal awkward gak sih dia sama Ethan. Lagian tadi Ratu keren banget, kalo ditahan Samuel gak ada deh tuh moment Ethan ditampar Ratu.”
Baik Samuel dan Ratu yang tengah menjadi perbincangan, hanya asyik mendengarkan sembari sibuk mengunyah makan siang mereka.
Dirga nyeletuk “Ratu mah serem. Alfan aja ciut, apalagi Ethan.”
Alfan nambahin, “Sedep kalo di tampar Ratu mah, bakal trauma seumur hidup. Tangannya kayak beling.” ia mengangkat telapak tangan sebelah kiri milik Ratu.
Ratu hanya meringis sebal. Gafian ikut nimbrung, “Gak hapal gua yang mana si Ethan.” gumamnya.
Nindya menjawab, “Pokoknya mah gak lebih ganteng dari elo deh, Gaf.” ujarnya.
“Kalo lebih ganteng dari Gafi mah gua lah!” seru Fawad, kemudian ia sedikit menggerakkan kepalanya untuk melirik ke arah Nahila yang duduk di kursinya, tetapi menghadap belakang. “Ya gak, Hil?” sembari menaikan alisnya genit.
Nindya yang duduk di kursinya refleks menggerakkan tangannya seolah ingin meninju wajah Fawad. “NAJISSSS!!!” serunya gak terima.
Samuel yang sedaritadi hanya mendengarkan tiba-tiba saja bangun dari kursinya. Padahal makanannya belum habis. “Gua mau beli minum bentar.” pamitnya.
Ratu yang duduk di kursinya tiba-tiba berdiri, “Ikut!” serunya.
“Nitip air mineral yang gak dingin.” celetuk Alfan.
“Oke bos.”
Tujuan Samuel adalah berjalan menuju kantin untuk membeli air mineral karena sumpah dia haus banget. Tapi tidak dengan Ratu, tujuannya mengintil di belakang Samuel adalah untuk, tentu saja…
“LO TAI SUMPAH!!! GUE ADA DI DEPAN MATA LO MALAH LO DIEM AJA ANJIR, SINTING YA LO?!?!?!”
Yep, mencaci maki Samuel atas keacuhannya sikapnya tadi ketika Lula tengah diganggu oleh Ethan, yang mana adalah teman mainnya Samuel juga.
Pemuda berhidung bangir ini tak menggubris ocehan Ratu yang non-stop dari keluar pintu kelas sampai di depan kulkas minuman dingin area kantin. Mulut lelaki itu tertutup rapat, sedangkan tangannya sibuk mengambil air mineral dingin di kulkas untuknya.
“Gue ngerti kok elo gak mau ikut campur urusan orang lain yang gak ada kaitannya sama lo, Sam. Gue juga paham kalo elo udah yakin gak akan ada yang berani nyakitin Lula karena gue ada di situ.” cerocos Ratu di belakang Samuel. “Iya, gue emang nyeremin, kalau kata Dirga. Lo boleh deh ga bantuin gue kalaupun gue lagi di situasi yang butuh banget bantuan orang lain, karena iya, sesuai dengan prinsip hidup lo yang gak mau ikut campur urusan orang lain.” perempuan itu terus bicara.
“Tapi gue mohon banget nih, Sam. Seandainya gak ada gue disitu, please banget, asli nih gue memohon, tolong ya bantuin teman kita juga. Jagain sahabat-sahabat kita juga. Lo boleh deh cuek, gak nanyain kabar kita-kita, gak tanya soal personal life kita. Tapi please ya Sam, pecahin sedikit aja prinsip lo itu buat kita-kita. Lo boleh kok kecualikan gue, tapi gak yang lain.”
Ocehan Ratu berhenti begitu Samuel berbalik menghadapnya. “Udah?” tanyanya.
Alis Ratu bertautan, “Udah apa?” ia balik bertanya.
“Ngomelnya?” Samuel bertanya dengan wajahnya yang super datar dan tidak peduli itu. “Lu benci ya sama gua?” pemuda itu bertanya lagi.
Semakin Ratu tidak mengerti, “Hah?” ia keheranan.
“Lu benci ya sama gua karena sifat gua yang begini?” Samuel mengulang pertanyaannya.
Bukannya dapat penjelasan, kepala Samuel malah kena pukul air mineral yang Ratu ambil dari atas etalase. “GUE GEBUK YA KEPALA LO!” pekik Ratu.
“UDAH LU GEBUK!” sungut Samuel sembari mengusap pelan kepalanya.
Ratu berdecak, “Gue gak mau ya sahabat gue jadi manusia brengsek dan menjijikan kayak Ethan gitu!” sahut Ratu. Ia kemudian mengangkat air mineral titipan Alfansyah, “Bu, dia yang bayar ya.” tunjuknya pada Samuel, lalu pergi meninggalkan Samuel terlebih dahulu.
Laki-laki itu hanya bisa merenyitkan kening keheranan. Gimana sih cara kerja otak perempuan ini?
Bukannya tadi malam ia baru saja mendapatkan pengalaman traumatis yang bahkan Samuel pun lihat ya? Tapi kenapa hari ini ia bersikap… biasa saja?
their story continues in Moth To A Flame <3
It just doesn't feel like it's getting close to Christmas until I've listened at least a dozen times to the Trans-Siberian Orchestra performing a carol of bells that are very aggressively wishing everyone a merry Christmas 😆
Also, as a Star Wars fan, one of Samuel Kim's renditions of "Carol of the Bells" is another favorite!








