Bermain Barbie dalam Transmedia Storytelling
Transmedia storytelling bisa dimulai dari mana saja. Beberapa yang kita kenal di antaranya dari buku (Harry Potter), komik (The Avengers), film (Star Wars), serial TV (Star Trek), video game (Resident Evil), kartun (Scooby-Doo), hingga teater (Grease). Produk mainan juga bisa menjadi batu pertama dari pengisahan transmedia, seperti yang cukup sukses dilakukan oleh Lego. Tapi bukan itu yang akan dibicarakan kali ini. Instead, I'm going to take you on a ride to the Barbie universe.
Lahir tahun 1959 dalam wujud boneka cantik, Barbara Millicent Roberts atau lebih dikenal dengan sebutan Barbie sudah menjadi household name dan kerap mengembangkan ceritanya ke dalam berbagai bentuk hingga saat ini. Selain jutaan versi boneka yang bisa dikoleksi, Barbie telah merilis sejumlah buku novel, komik, dan film untuk memberikan perluasan cerita terhadap karakter-karakter dalam dunianya.
Barbie tidak pernah sendiri, tapi ada Ken, Teresa, Skipper, Stacie, Chelsea, dan sebagainya. Ada beberapa karakter Barbie yang tidak pernah muncul dalam bentuk boneka, seperti orang tua Barbie, tapi mereka ada di buku. Barbie juga pernah diceritakan putus dari Ken, dan menjalin hubungan dengan boneka lain bernama Blaine sebagai bagian dari marketing campaign oleh Mattel ke media-media berita.
Ada beberapa jenis film Barbie jika dilihat dari cara berceritanya. Pertama, Barbie sebagai narator cerita sekaligus memerankan tokoh utama yang berbeda dalam inti cerita (Barbie dan Clara di The Nutcracker). Kedua, Barbie sepenuhnya sebagai karakter cerita lain (Elina di Fairytopia). Ketiga, Barbie as herself (A Fashion Fairytale). Barbie dan Ken juga pernah muncul di film animasi Disney Pixar, Toy Story 2 dan Toy Story 3. Seiring berkembangnya teknologi media interaktif, Barbie pun hadir dalam bentuk video dan mobile games serta aktif di media sosial ala selebgram dengan feed estetis. Pada tahun 2012, Barbie meluncurkan web series Life in the Dreamhouse di YouTube. Selang tiga tahun, Barbie mulai menjadi video blogger di mana ia cukup aktif mendengarkan saran-saran konten dari penonton di kolom komentar.
Setiap kehadiran Barbie dalam teks media yang berbeda menyumbang potongan-potongan fakta dan trivia yang membuat audiens semakin memahami kehidupan Barbie dan teman-temannya. Konsep ini disebut juga additive comprehension menurut Neil Young (Jenkins, 2006). Tak bisa dipungkiri juga bahwa transmedia storytelling yang dilakukan oleh perusahaan Mattel dengan Barbie membentuk sinergi yang lebih berorientasi pada ekonomi, misalnya dengan penjualan boneka Barbie dan berbagai peralatan sehari-hari bernuansa Barbie yang dijadikan merchandise. Ada tempat-tempat fisik yang bisa dikunjungi pecinta Barbie, seperti Barbie Store dan Barbie Cafe yang membuka cabang juga di Jakarta, menunjukkan seberapa mendunianya boneka asal Amerika Serikat ini.
Sifat boneka Barbie pada dasarnya memungkinkan pemain untuk berkreasi dengan ceritanya sendiri, seperti PhilippineFashionDoll TV di YouTube yang membuat show Miss Universe menggunakan koleksi boneka miliknya. Selain itu, posisi Barbie yang cukup signifikan dalam budaya populer dunia telah menghasilkan proyek kerja sama yang menarik dan membuka segmen audiens Barbie untuk orang-orang dewasa, ketimbang anak-anak yang menjadi target utama. Museum Louvre di Paris, Prancis pernah mengadakan eksibisi koleksi Barbie. Untuk ulang tahun Barbie ke-50, sejumlah desainer couture seperti Michael Kors, Calvin Klein, Anna Sui dan Diane von Furstenberg berpartisipasi dalam runway show spesial.
What I’m trying to say in conclusion, with transmedia storytelling, we live in a Barbie world after all.
Referensi:
Jenkins, Henry. 2007. Transmedia Storytelling 101. http://henryjenkins.org/2007/03/transmedia_storytelling_101.html
https://www.newkadia.com/?Barbie_Comic-Book-Covers=359%257C41
https://www.pinterest.com/pin/539095017872070410/
http://www.listchallenges.com/complete-list-of-barbie-movies









