Mannequin Challenge: The Power of (Me)dia Convergence
Kalau dengar kata Mannequin, pasti kalian berpikir tentang benda di atas. Eitssss, tunggu dulu! Bukan Mannequin itu yang dimaksud...
Setelah sempat viral video PPAP beberapa saat lalu, sekarang ini dunia maya kembali ramai dengan adanya Mannequin Challenge. Wah apa sih Mannequin Challenge itu sendiri?
Buat kalian yang tidak tahu Mannequin Challenge itu apa, agaknya kalian ketinggalan zaman karena hampir semua orang di seluruh penjuru dunia mengetahuinya. Mannequin Challenge adalah tantangan mematung layaknya manekin/boneka pajangan.
Lantas, apa sih yang bisa menyebabkan tantangan ini menjadi viral?
Awal mulanya, ada seorang pengguna Twitter dengan akun @pvrity___ mengunggah video Mannequin Challenge pada tanggal 26 Oktober 2016.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa tantangan ini akan menjadi viral, sebab tantangan ini berasal dari keisengan teman dari Jasmine Cavins, seorang murid SMA Edward H. White di Jacksonville, Florida. Temannya ini secara tiba-tiba ke depan kelas dan berdiri diam. Dirinya, bersama dengan Jasmine Cavins, melakukan berbagai macam pose gila dan menyeletuk “We can make this challenge”. Jasmine yang saat itu berumur 16 tahun mulai mengunggah video bersama teman-temannya melakukan tantangan ini yang mendapatkan 4.400 retweets dan 4.100 likes. Setelah itu, tantangan tersebut menyebar dengan sangat cepatnya. Orang-orang mulai berbondong-bondong melakukan tantangan Mannequin Challenge. Mereka mulai ikut-ikutan mengunggah video di Twitter, yang tidak lama kemudian beralih ke Vine. Dari Vine ini barulah menjadi benar-benar viral ke seluruh penjuru dunia.
Video Mannequin Challenge ini menjadi viral dengan cara yang sama seperti video Harlem Shake atau Ice Bucket Challenge, yang diunggah ke media sosial oleh artis dan atlet terkenal sampai siswa SMA. Fenomena Mannequin Challenge ini ternyata semakin viral setelah Rae Sremmrud, penyanyi dari lagu Black Beatles yang merupakan lagu yang digunakan di video Mannequin Challenge, melakukan challenge ini di salah satu konsernya. Sejak itu banyak artis lain seperti Beyonce, Britney Spears, bahkan Hillary Clinton yang mulai ikut mengunggah challenge ini di media sosial mereka.
Lagu Black Beatles yang dipopulerkan oleh Rae Sremmrud yang digunakan di video Mannequin Challenge ini sebenarnya dipilih tanpa alasan khusus. Ketika orang yang pertama kali menggunakan lagu Black Beatles ini ditanyakan alasannya menggunakan lagu ini, ia hanya menyatakan bahwa Black Beatles adalah lagu favoritnya.
Media sosial sebagai tempat fenomena ini beredar juga beragam. Seperti Twitter, Vine, Facebook, Instagram dan juga Youtube. Tidak jarang ada beberapa netizen yang membagikannya di akun Path pribadi mereka. Jika kita fokus kepada Mannequin Challenge itu sendiri, tren ini beredar pertama kali di Twitter. Lalu, seperti yang disebutkan di atas banyak public figure yang mulai mengikuti. Sebagai contoh, Hillary Clinton pertama kali mengunggah video miliknya di Twitter, kemudian banyak portal berita yang mengunggah ulang di kanal mereka masing-masing. Sehingga, tren ini semakin menyebar dengan cepat. Hanya selisih waktu sedikit, Mannequin Challenge kemudian banyak dilakukan di Vine. Lalu video-video ini menjamur di Instagram dan juga Youtube. Berawal dari hanya permainan semata, fenomena ini kemudian dipergunakan untuk iklan TV dan keperluan politik (bahan kampanye Hillary Clinton pada akhir tahun 2016 kemarin).
Sebagai info tambahan, sebenarnya jauh sebelum adanya Mannequin Challenge, ada juga nih tantangan yang serupa tapi tak sama, dan tidak seviral Mannequin Challenge. Tantangan ini bernama Precursor, dimana rombongan komedi Improv Everywhere melakukan sebuah lelucon di terminal Grand Central di New York City. Tantangan ini dilakukan pada tanggal 31 Januari 2008. Mereka seolah-olah ‘membeku’ di terminal selama satu menit dan membuat orang-orang yang berlalu-lalang bertanya-tanya ada apa gerangan. Untuk lebih lengkapnya, yuk kita lihat video di bawah ini.
Hampir seluruh challenge yang pernah ada di dunia maya mengubah hubungan kita dari analog menjadi digital. Seperti yang pernah dijelaskan di awal kelas tentang pemahaman sederhana mengenai konvergensi media, ketika kita berada di dalam kelas, kita sebagai manusia bersifat analog. Tetapi, ketika kelas di foto dan dimasukan ke dalam Facebook, kelas tersebut bersifat digital, dapat dipindahkan kemana saja dan dilihat oleh siapa saja selama foto tersebut bersifat publik. Sama halnya dengan Mannequin Challenge, ketika para netizen membuat video ini, mereka berinteraksi secara analog. Relasi dan interaksi yang mereka lakukan dengan orang-orang yang ada di dalam video bersifat analog yang kemudian kegiatan ini direkam dan menjadi viral secara digital. Artinya, awal dari konvergensi media tidak terjadi dalam teknologi yang canggih sekalipun, seperti yang dikatakan oleh Jenkins, “Convergence does not occur through media appliances, however sophisticated they may become. Convergence occurs within the brains of individual consumers and through their social interactions with others”. Challenge ini diawali dengan interaksi sosial di antara Jasmine Cavins dan teman-temannya, mereka secara individu adalah medium, berkumpul membentuk media pertemanan dan berkonvergensi dengan melakukan kegiatan yang sama yaitu, Mannequin Challenge. Menjadi digital dan viral adalah langkah selanjutnya.
Proses challenge yang awalnya hanya sebuah video “iseng” ini menjadi digital ketika kontennya berpindah medium, dan perpindahan ini dinamakan konvergensi media. Konvergensi ini terjadi ketika video yang pertama kali diunggah melalui Twitter, kemudian diunggah oleh orang lain di Vine, yang kemudian diunggah kembali di Instagram. Video-video ini tidak sebatas diunggah oleh pembuatnya sendiri, tapi dapat juga diunggah ulang oleh orang lain di media sosial mereka masing-masing dan pada platform yang berbeda-beda juga. Perpindahan medium ini juga tidak sebatas terjadi di internet, salah satu contoh perpindahan medium yang terjadi adalah ketika Hillary Clinton mengunggah mannequin challenge di akun Twitter-nya dan keesokan harinya banyak stasiun televisi yang sudah menayangkan video challenge miliki Hillary Clinton tersebut.
Di luar media konvergensi, ada satu topik yang berkaitan dengan fenomena Mannequin Challenge, yaitu konsep copyright. Copyright merupakan suatu bentuk perlindungan yang disediakan untuk pencipta atas karya aslinya, termasuk drama, literatur, musik, seni, dan berbagai karya intelektualnya, baik yang dipublikasikan maupun tidak. Jika awal kemunculan video yang diunggah oleh Jasmine Cavins beserta teman-temannya ini diberikan copyright, mereka bisa saja meraup keuntungan yang bisa dibilang lumayan besar untuk ukuran anak SMA. Hanya saja, jika Mannequin Challenge diberikan copyright, maka fenomena Mannequin Challenge tidak akan menjadi seviral ini karena orang tidak bisa dengan bebasnya meniru tantangan tersebut. Copyright juga tidak bisa menjamin keaslian dari suatu karya karena sekarang ini ‘nothing is orginal anymore’. Kita tidak bisa benar-benar tahu apakah suatu hal itu benar-benar asli atau tidak. Bisa dilihat juga dari fenomena Mannequin Challenge ini bahwa sebenarnya terdapat fenomena serupa yang lebih dulu ada, hanya saja tidak viral, yaitu Precursor. Selain Precursor, ada juga tantangan yang bernama Andy’s Coming. Andy’s Coming ini sempat viral kembali setelah kemunculannya Mannequin Challenge. Padahal jika ditilik kembali, tantangan ini sudah ada sejak tahun 2013 dan sempat diberhentikan. Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada hal yang benar-benar asli, sekalipun diberikan copyright.
Jenkins, Henry. 2006. Convergence culture: where old and new media collide. New York: New York University Press.
http://knowyourmeme.com/memes/mannequin-challenge
http://tekno.kompas.com/read/2016/11/22/10092987/ini.asal-usul.video.mannequin.challenge.
https://twitter.com/pvrity___/status/791421277567352832?lang=en
https://youtu.be/jwMj3PJDxuo
http://nypost.com/2016/11/16/why-simple-videos-like-the-mannequin-challenge-go-viral/
http://www.huffingtonpost.com/entry/hillary-clinton-bon-jovi-mannequin-challenge_us_5821dbd5e4b0e80b02cc9e13