Dilema Cultural Appropriation
Setelah mendengar presentasi kemarin, saya tertarik dengan isu cultural appropriation. Saya pun menemukan beberapa video di youtube yang membahas isu ini, dan ada salah satu video yang menarik perhatian saya. Seperti pada video yang diunggah di Youtube yang berjudul “My Culture Is NOT A Costume | Teen Vogue”, video ini diunggah oleh Teen Vogue pada 27 Oktober 2017 yang lalu dan sudah disaksikan oleh 212.000 orang.
Pada video ini Teen Vogue bertanya kepada enam wanita tentang kostum Halloween yang mengooptasi budaya mereka. Pernyataan-pernyataan mereka mengejutkan bagi saya, karena ternyata mereka tersinggung dengan mayoritas orang-orang di Amerika yang menggunakan baju kebudayaan mereka untuk bersenang-senang tanpa tahu apa arti dan maksud dibalik yang mereka kenakan, bahkan kadang dibuat lelucon di acara TV. Saat mereka ditanya mengenai cultural appropriation, beberapa dari mereka menjawab,
"cultural appropriation is taking aspects of another person's culture and using them mainly completely out of context" -Gianna, 22 .
"members of dominant group borrow elements from a marginalized group while actively erasing the people of that culture and diminishing the meanings of we practice" -Valerie, 20.
Video ini ditutup oleh sebuah pernyataan berikut
“those are aspects of our culture and our identities that we were told were wrong and we are told not to be proud of and we are told to hide and to conform and to see folks that don't have to conform. they use those aspects of our identity and make it popular make it cool or make fun of it, that's just wrong" -Yasmin Younis, 21.
Melihat video ini, ternyata cultural appropriation merupakan sebuah isu yang bisa menyakitkan bagi beberapa pihak. Namun, saya tidak puas hanya melihat satu sumber saja. Saya pun menemukan video yang berjudul “Cultural Appropriation Is Stupid” yang di unggah oleh Honest. Video ini diunggah seminggu yang lalu dan sudah ditonton oleh 166.000 ornag. Si pembuat video ini sangat mengeluhkan kenapa orang-orang di luar sana yang mengaku dari minoritas love being a victim, menurutnya wajar-wajar saja kalau misalnya memakai pakaian budaya lain untuk hallowen. Pada video ini juga, si pembuat video mewawancarai orang Jepang mengenai tanggapannya tentang Katy Perry yang menggunaka Kimono, jawaban mereka pun sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Sebaliknya, mereka senang karena ada orang asing yang mengenakan kebudayaan mereka.
Konten ini pun di tutup dengan pernyataan berikut ini,
“Cultural appropriation is nothing but drive us apart. We are humans, it’s in human nature to walk amongst each other, share the same clothes, food, traditions,and everything. These special snowflakes mustbe stopped”.
Sikap saya sendiri melihat isu ini adalah sesuai konteksnya, asalkan sebuah kebudayaan minoritas yang diangkat tidak memiliki niatan untuk diolok-olok atau dipermainkan, menurut saya sah-sah saja dan saya setuju dengan pernyataan bahwa kita manusia, dan kita makhluk sosial yang tentu saja selalu berbagi termasuk kebudayaan kita.
Kalau kalian sendiri masih dilema sama isu ini atau enggak?
https://www.youtube.com/watch?v=VALPdsr9Si4
https://www.youtube.com/watch?v=d6Y5cARFJw8
oleh: Teliana Juwita (1606828822)