Entah siapa yg punya kuasa atas jalanan di depan Rs. Sardjito dan saya pun tidak peduli. Pasrah saja dengan kemacetannya. Mobil-mobil parkir serampangan di kanan kiri jalan. Pedagang kaki lima tenang saja menggelar dagangannya di bahu dan trotoar jalan. Bus bus yang semaunya sendiri berhenti menaikkan/menurunkan penumpang. Mahasiswa, pengunjung rumah sakit, dokter dan perawat jadi satu berdesakan di jalanan yg terasa semakin sempit. Sepertinya tak ada yang peduli. Hingga siang ini. Siang ini sepulang dari kampus, jalanan depan RS. Sardjito masih macet dengan segala warna warninya itu. Dari arah utara terdengar mobil ambulance meraung-raung meminta jalan. Entah seperti apa kondisi pasien yang sedang diangkutnya. Tak ada yang memberi jalan. Bagaimana hendak memberi jalan, kendaraan menumpuk seperti toilet mampet. Dan saya, tentu saja, memilih aman dengan mlipir ke kiri. Tapi apa yang saya temui, ada tukang parkir yang memarahi. Suruh minggir. Hello. Tapi sudahlah. Saya sedang mode damai. Mau tak mau sedikit maju saja. Dan, masyaAllah, di depan, saya menemukan kucing kecil sedang sakaratul maut. Kejang kejang. Mulutnya berdarah. Sepertinya habis tertabrak. Aaaarrrghh. Allah. Tidak ada yang peduli. Segera kupinggirkan motor lalu meminta bantuan seorang bapak untuk meminggirkan kucing kecil itu. Beliau sempat ragu. Akhirnya saya pasang wajah semelas mungkin meyakinkan beliau untuk meminggirkannya. Sudah dipingirkan lalu tak tau harus berbuat apa lagi terhadap kucing kecil itu, akhirnya saya pun pulang. Tapi masih terbayang-bayang hingga sekarang. Bagaimana lah nasib nya? Semoga Allah tidak memperpanjang penderitaannya.
Hari ini, kucing kecil yang menjadi korban kesemrawutan jalan, semoga besok-besok para penguasa kampus ini bisa kasih solusi konkrit dan pengguna jalan lebih hati-hati.