PULUHAN kilometer jauhnya dari Desa Rindangsari, seorang pria diseret masuk ke dalam gudang.
Namanya Bahar Karim, dia anggota forum yang menentang pembukaan lahan tambang di dekat desanya. Para preman yang dipimpin Daryono membawanya ke sini untuk dihabisi. Di dalam gudang sudah ada teman Bahar, yakni Sobri, yang juga sesama anggota forum. Keadaannya tak sadarkan diri, terikat di sebuah kursi. Dalam beberapa jam lagi, Sobri akan tewas jika tak mendapat pertolongan. Dan mungkin, Bahar juga akan menyusul nasib itu.
Malam sudah larut, dan tak ada orang yang berjaga di sekitar sini. Hanya ada hamparan rumput ilalang luas. Lima preman yang dipimpin Daryono memukuli mereka. Baru kemarin, Bahar dan Sobri akhirnya tahu bahwa para preman ini adalah suruhan dari kepala desa yang berkomplot dengan pengusaha tambang itu.
Sejak beberapa bulan lalu, para preman Daryono memang mengancam para anggota forum penolakan lahan tambang. Namun selama ini ancamannya memang tak pernah lebih dari sekadar omongan, dan para preman datang tiap beberapa minggu sekali. Sebulan belakangan, para preman bisa berjaga di beberapa tempat beberapa kali seminggu, untuk mencegat para anggota forum lewat dan menggertak mereka. Tapi lagi-lagi, selama sebulan ini tak pernah lebih dari itu.
Hari ini adalah hari tak terduga. Baru kemarin Bahar tahu bahwa kepala desanya ternyata setuju dengan pembukaan lahan tambang. Dan preman-preman Daryono adalah suruhannya.
Bahar jadi familier dengan alurnya. Pengusaha akan membayar pejabat kecil untuk berurusan dengan para pembelot. Dan jika mereka tidak mau, pilihannya antara mereka yang mati atau keluarga mereka diancam. Kepala desa dan sudah dibayar tinggi untuk memberi izin membuka lahan tambang, serta mengurus pembelot yang menjalankan aksi penolakan. Bahar yakin, dia dan Sobri dibawa ke sini karena mereka yang paling vokal bersuara.
Sobri duluan dibawa ke sana. Keadaannya sudah mengenaskan dan pingsan ketika Bahar tiba. Banyak sekali darah keluar. Giliran Bahar dipukuli hingga babak belur. Tubuhnya diikat ke kursi. Di tengah mengambil napas, Bahar kenal beberapa dari mereka. Daryono adalah pemimpinnya, sedangkan Haris dan Harun adalah dua bersaudara yang ikut geng preman Daryono.
Ketika pukulan hendak dilanjutkan, pintu terbuka. Sosok perempuan tinggi muncul di ambang pintu. Langkahnya mengarah menuju mereka. Semua preman bersiaga.
Untuk sesaat, Bahar mengira bahwa perempuan itu adalah perwakilan polisi yang datang untuk menyelamatkannya. Sampai akhirnya dia berkata, “Kalian semua disuruh buat ngabisin dia, atau disuruh mukulin aja?”
Namun tak ada yang menjawab untuk beberapa saat. Perempuan berambut cokelat panjang itu kembali melangkah mendekat. “Halo? Saya ngomong sama kalian semua.” Begitu berhenti di tengah para preman, penerangan lampu menunjukkan wajahnya, dan sebagian besar preman terlihat tegang. Bahar pun melihat wajah perempuan itu. Ada bekas luka bakar di dahi kirinya, sedikit tertutup poni samping dari rambutnya yang bergelombang. Warna kulitnya antara kuning langsat dan sawo matang. Dia mengenakan jaket kulit seperti pengendara bermotor.
“Eh, siapa nih cewek? Sembarangan lo masuk sini!” seru Harun sambil maju, seketika membuat para preman lainnya tegang. “Lo orang asing. Nggak usah ikut campur!”
Perempuan asing itu menyipit, lalu melirik para preman yang lain. “Dia anak baru?”
Daryono mengangguk.
Bahar mengernyit, tak paham. Apa perempuan itu bos para preman yang dipimpin Daryono? Tapi, sepertinya dia bukan bos yang memberi perintah dari perusahaan tambang. Karena kalau dia bosnya, harusnya dia tak perlu bertanya apa Bahar disuruh untuk dipukuli atau dihabisi.
Begitu cepat. Tangkas.
Bahar mendengar suara sambitan cepat diiring cipratan merah. Ada sebuah bola menggelinding di lantai hingga sampai di kakinya. Bola berwarna putih dengan pupil mata yang kini menatap Bahar.
Jerit Harun kemudian terdengar memilukan. Sementara itu, Haris berlari membawa celurit dan berteriak, “ANJING LO BERANI-BERANINYA SAMA ADEK GUE!”
Perempuan asing itu menepis serangan Haris, lalu memelintir tangan Haris hingga genggamannya ke celurit lepas. Haris menjerit kesakitan. Sang perempuan membengkokkan dan mematahkan kedua tangan Haris, mengambil celurit, lalu mengayunkannya ka ubun-ubun kepala Haris seperti memacul tanah. Celurit itu terpendam di sana.
Preman yang lain hanya terdiam dan menunduk, ketakutan. Gadis itu kembali menghadap Harun yang masih histeris. Dia meletakkan kedua tangan di kedua sisi kepala Harun. Menekannya seperti ingin mengempiskan bola. Harun melawan sekuat tenaga hingga seluruh darah berkumpul di kepalanya, wajahnya merah sekali dengan rona keungunan. Tak lama, ada bunyi retakan panjang seperti tulang retak berulang. Kemudian darah menyembur keluar bersama benda merah jambu kenyal dari kepala Harun.
Bahar mendadak mau muntah.
“Saya jadi agak telat karena ada orang yang gangguin saya,” ujar perempuan itu, mengelap tangannya yang berlapis sarung kulit ke kaus Harun. “Mentang-mentang udah lama nggak lihat saya, kalian jadi nggak infoin anak baru tentang saya, ya?”
Daryono sontak bersimpuh dan menunduk. “M-maafin kami, Dre!” ujar Daryono. Wajahnya pucat. Dia menurunkan kepala hingga bersujud di depan gadis asing itu. “Saya bakal ngajarin anak buah saya lebih baik lagi! Tolong maafkan kami!”
Para preman yang lain ikut bersujud. Dre berdecak.
“Berdiri. Saya bisa telat padahal harus dapat empat jeroan malam ini.” Dre mendesah, lalu melihat jumlah para preman yang tersisa. “Eh?”
“K-kenapa?” tanya Daryono usai berdiri. Mata masih terlihat ketakutan. “Ada apa?”
Dre mendekat, lalu memukul leher Daryono, membuatnya pingsan. Dia lanjut melakukan itu kepada preman lainnya. Yang lain tak sempat menghindar. Gadis itu terlalu cepat dan terlalu kuat. Kekuatannya terasa tidak manusiawi, apalagi jika Bahar mengingat bagaimana Dre menghancurkan tengkorak orang hidup-hidup.
Begitu selesai, Dre mengeluarkan empat preman yang pingsan dan memasukkannya ke mobil. Kemudian dia kembali membawa satu plastik sampah kosong ukuran besar dan alat kebersihan. Jasad Harun dan Haris dia masukkan ke dalam plastik sampah. Tulang-tulangnya dipatahkan untuk membuat kedua jasadnya padat dalam satu karung. Usai mengikatnya, Dre menghabiskan sepuluh menit untuk membersihkan darah di lantai, mengelap dan menyikatnya dengan sabun.
Dan, Bahar hanya menonton. Tak berani minta tolong. Dia tidak sedang diselamatkan, hanya kebetulan beruntung saja. Jika dia bersuara, salah-salah dia bisa berakhir di karung yang sama dengan Harun dan Haris.
Dre tidak bicara kepadanya sama sekali, tidak juga menolongnya lepas dari ikatan ataupun mengubur teman Bahar yang sudah mati. Bahkan tak ada perintah agar Bahar tutup mulut tentang kejadian ini. Usai pembersihan, Dre hanya memasukkan alat kebersihan dan plastik sampah ke mobil, lalu berangkat pergi.
Dan itulah cerita bagaimana Bahar bisa selamat.
Bahar tidak berkata banyak usai dia ditemukan oleh warga desa pada pagi harinya. Hanya berkata bahwa dia dipukuli, lalu pingsan dan preman sudah pergi. Sobri meninggal karena kekurangan darah dan telat diselamatkan. Anggota forum berduka, tapi lanjut untuk melakukan aksi. Bahar sendiri memang masih berani untuk melawan perusahaan yang bisa menghancurkan pertanian desanya. Dia hanya tidak yakin para pengusaha dan preman mana pun mampu melawan Dre.
Tage vergeh‘n, Jahre vergeh‘n alles vergeht, Freunde komm‘n &‘ geh‘n. Alles schon okey, was dir bleibt, bist du nur selbst. Doch am Ende des Tages kann es sein, dass du auch zerfällst. ~ Sarhad
We are south of Bozai Gumbaz, going back to Sarhad. This is the first kyrgyz village you encounter in the way to Little Pamir. A smoky atmosphere welcomes us. Badakhshan, Afghanistan.
Taken on August 18, 2016