Ketika Kita Mulai Sadar Bahwa Kita Lemah Semakin dewasa langkah menua, semakin hidup tak seindah rencana. Ada waktu di mana harap luruh tanpa aba-aba, dan peluh tak cukup untuk membeli bahagia. Kita terseret ke pinggir waktu, di mana rencana tinggal serpihan sunyi. Dan di sanalah kita perlahan mengerti, bahwa kita ini… hamba. Lemah, terbatas, tak punya kuasa sejati. Bukan semua bisa kita genggam, tak semua harap bisa bertahan. Kadang justru ketika segala pergi, kita sadar: hanya Allah yang tak pernah meninggalkan. Maka saat beban tak bisa lagi dibagi, dan jalan terasa menutup diri, serta hati tak tahu lagi ke mana harus bersandar— hamparkan sajadahmu. Bentangkan imanmu dalam hening yang panjang, biarkan wajahmu merunduk tenang, saat rahmat Ar-Rahman turun perlahan, menyentuh luka-luka yang tak terucapkan. Tak perlu kata yang rapi tersusun, tak harus suara yang menggelegar lantang. Cukuplah hatimu yang lebur, karena Allah As-Samī’—Maha Mendengar— memahami bisik yang tak terucap oleh lisan lelah. Serahkan seluruh gundah kepada Al-‘Alīm, yang mengetahui isi dadamu sebelum lidah sempat menyusunnya. Dialah Al-Qarīb, yang lebih dekat dari napas dan jantung, yang menjawab meski hanya lewat tangis yang tak terdengar oleh siapa-siapa. Di sujud yang paling diam, tersembunyi kekuatan yang tak tertulis dalam kitab dunia. Di situlah engkau benar-benar lemah, dan justru di sanalah Allah Al-‘Azīz menegakkan langkahmu kembali dengan kasih dan kuasa-Nya. Tak ada tempat lebih mulia bagi seorang hamba, selain di bumi tempat dahinya bersujud. Di mana ia mencurahkan seluruh rapuhnya, pada Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Menerima segala pinta. Maka yakinlah… di setiap sempit ada lapang, di balik luka ada penawar, di balik tangis ada cahaya yang menyapa dari langit. Mintalah… kepada Yang Maha Pemurah, kepada Yang Maha Menjawab doa, kepada Allah, yang setiap waktu membuka pintu-Nya bagi yang pulang tanpa apa-apa. “ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ” “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS Ghāfir: 60) Dan biarlah puisi ini ditulis dengan air mata yang mengalir… bukan karena lemah, tapi karena sadar… bahwa tak ada tempat kembali, selain kepada-Nya yang tak pernah meninggalkan hamba-Nya sendiri. – pena sederhana












