Sabtu itu, saya dan partner-in-crime (a k a pacar) sedang mencari produk untuk keperluan tugas memotret. Saya menemukan satu produk yang saya suka, sebuah parfum dari The Body Shop, bernama Red Musk. Saya menganalisis kesan apa yang saya dapatkan dari wangi parfum tersebut. Menantang, namun diakhiri dengan yang manis; image yang menarik (dan yang ingin) saya tunjukkan.
Saya membelinya, lalu berpikir,
Apakah dengan wangi ini bisa membuat orang mengenal saya, yang menantang namun manis di akhir?
Apakah dengan wangi ini bisa membuat orang berpikir itu saya, karena ini bau khas saya?
Dari sinilah saya mulai berpikir tentang adanya Scent Branding.
Scent Branding merupakan bagian dari Sensory Branding yang berarti sejenis strategi marketing yang berhubungan dengan indra untuk mencirikan sebuah brand (wikipedia.org). Scent, bau, merupakan suatu hal yang dapat dikenali dengan indra penciuman. Scent Branding ada di sekeliling kita. Mulai dari wangi bawang bombay yang digoreng oleh ibu hingga wangi toko roti yang ada di gerai makanan.
Dari apa yang saya baca di wikipedia.org, Scent Branding berguna untuk memberi ingatan kepada audiens terhadap suatu brand. Selain itu, Scent Branding juga berguna sebagai penarik perhatian. Riset neuromarketing menunjukkan bahwa 75% perasaan manusia dipengaruhi oleh bau. Oleh sebab itu, bau dapat mempengaruhi sikap dan tindakan manusia karena dapat mempengaruhi mood seseorang.
Dalam sebuah studi di Rockfeller University, ingatan pendek kita hanya dapat mengingat 1% apa yang kita sentuh, 2% apa yang kita dengar, 5% apa yang kita lihat, 15% apa yang kita rasakan dan 35% apa yang kita cium.
Kembali ke pengalaman pribadi, saya mengobservasi mana saja tempat yang sudah menggunakan Scent Branding di salah satu mall di Sleman. Umumnya, Scent Branding dilakukan oleh gerai makanan saja, seperti gerai roti rasa kopi, gerai donat, dan gerai popcorn. Scent Branding gerai yang menjual fashion dan lifestyle (yang saya benar-benar ingat) adalah Wakai, produsen sepatu asal Jepang. Gerai Wakai dengan konsep nature menggunakan wangi kokoa sebagai Scent Branding. Memang Scent Branding dan produk yang dijual tidak relevan (bisa saja ada benang merah; kata kunci dari company profile Wakai sendiri), namun strategi ini berhasil menarik perhatian serta memberi ingatan kepada audiens. Terlebih lagi, wangi yang enak juga membuat audiens (termasuk saya) betah dan nyaman berada di gerai.
Saya rasa, keadaan Scent Branding masih disepelekan di gerai-gerai, kemungkinan besar karena Visual Branding masih merupakan hal utama dalam gerai sendiri, baik bagi penyedia dan audiens. Scent Branding, bila dikaitkan dengan Visual Branding, dapat menjadi kekuatan dan ciri khas sebuah gerai itu sendiri. Selain gerai, Scent Branding juga dapat diterapkan di booth bahkan karya seni. Yah, itung-itung, selain menarik perhatian, juga membuat rasa nyaman dan kesan homey baik bagi penyedia maupun audiens.
Semoga Scent Branding bermanfaat.