Pray for Aceh 🙏" #prayforaceh #saudara #sebangsa #setanahair #indonesia source pics: Bintang.com
seen from Russia
seen from China
seen from Türkiye

seen from Australia

seen from United States
seen from China

seen from Georgia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Singapore

seen from Denmark
seen from United States
seen from Georgia
seen from Portugal
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Russia
seen from Hong Kong SAR China
Pray for Aceh 🙏" #prayforaceh #saudara #sebangsa #setanahair #indonesia source pics: Bintang.com
Hari-H: SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa
Alhamdulillah setelah persiapan beberapa bulan, akhirnya pada tanggal 13 Oktober 2016, kegiatan #Kelas9 Belajar Bareng Sebangsa di SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa, Yogyakarta berlangsung dengan baik.
Apps to the Future
By Ronald Indrawan Wednesday, September 7, 2016 Indonesia is swarming with an ever-increasing number of local apps. And many believe that the ability of local developers to create and produce social media applications is on a par with global developers. Witness the many made in Indonesia mobile apps hitting the iTunes Store (IOS), the Play Store (Android) and the Internet generally. However, local apps still face operational challenges, mostly due to a lack of skilled manpower and marketing and innovation capacity. “Indonesia has so much local talent in terms of development of digital application programs and is definitely able to compete with the ability of other global OTT [over the top services],” said Indira Widjonarko, chair of Sebangsa, a social media platform that aims to create interaction between communities all across Indonesia. “It is just that they need to be enhanced and developed by the communities as well as the government, and in order to have community and government support, they need to have a clear work plan, vision and mission, and also a long term commitment that is supported by periodic creative innovations,” said Indira. This optimism is echoed by Pradipta Nugrahanto, chief editor of Tech in Asia for Indonesia, a media, events and jobs platform for Asia's tech communities. “Our applications are growing quite high right now and we can see it from the demand of the public in transportation, online stores including food and grocery deliveries, all the ease they can offer to our people,” he said. Possible challenges Though Indonesia has growing skilled manpower in the app industry, the number of very high skilled developers is still very limited. There have been a few local apps that failed to survive and eventually ceased operation - or survived but ended up with low demand. For some, the easiest way to move forward is to hire foreign talent to help develop the application. However, Pradipta emphasized the necessity of developing local talent, to avoid over-reliance on foreign skills. “We are lacking in high-skilled manpower to develop applications,” Pradipta said. “But I think too much reliance on foreign manpower will create a problem for us.” The ability of app developers to respond to dynamic trends is also a challenge in Indonesia. When something becomes a trend and people are hyped about it, local developers take advantage by creating something based on that trend. But when the hype is gone or it’s not a trend anymore, the application goes the same way. People will lose interest in the app and find another trend. “Sometimes there are various local applications that are not innovative enough, so they can’t survive,” Pradipta said. The way ahead “Local developers should not rely on the [latest] trend since following the trend can be risky,” Pradipta said. “Instead, they should be very innovative in every situation by having multiple plans in case one of those plans does not work out.” He also believes that good innovation can be executed well if app developers know how to attract users. “Gaining users’ attention is the main priority for app developers. It’s not going to work, even if you have a good innovation, if people don’t accept it.” Pradipta added that local developers should figure out how to grab people’s attention and create something that “spoils” them. Following other successful app developers’ steps can also be worth a try but bear in mind, he added, that they need to be ready for the competition. Indira also spoke about the government’s role in advancing the app ecosystem. “It’s best for our government to support boosting the development of local applications by creating a conducive ecosystem,” Indira said. “The simplification of permit processes and tax exemptions are what local developers need from the government right now.”
http://amcham.or.id/fe/5396-apps-to-the-future
TIGA OTT NASIONAL DIGADANG-GADANG HADANG FACEBOOK DKK
http://inet.detik.com/read/2016/03/17/195323/3167602/328/tiga-ott-nasional-digadang-gadang-hadang-facebook-dkk
Jakarta - Tiga layanan OTT (over the top) nasional disiapkan untuk menyaingi OTT asing yang telah lama berkuasa di negeri ini seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, dan Line.
Tidak dapat dipungkiri, saat ini aplikasi yang menguasai Indonesia adalah buatan luar negeri semua. Masyarakat Indonesia hanya sebagai konsumen.
Pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika berniat untuk menjadikan OTT nasional go international. Perbincangan masalah itu sudah dilakukan sejak setahun lalu. Antara Pemerintah dengan Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh lndonesia (ATSI).
Akhirnya, impian itu dapat terealisasi dengan dipilihnya tiga aplikasi lokal, hasil karya putra-putri Indonesia yang akan didukung pemerintah. ATSI pun memberi dukungan kepada aplikasi OTT nasional terpilih yakni Qlue (qlue.co.id), Catfiz (catfiz.com), dan Sebangsa (sebangsa.com). Sementara Menkominfo Rudiantara berharap ketiganya akan mampu menjadi katalisator bagi pengembangan industri kreatif yang berbasis pada teknologi digital.
Menurutnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang paling aktif menggunakan berbagai produk digital. Sudah lama Indonesia dikenal sebagai ibukota sejumlah media sosial. Tidak heran jika semua OTT raksasa dunia kini memiliki perhatian khusus ke kita. Potensi pasar Indonesia, kata menteri, sangat besar.
"Nah, fakta itu semestinya memang menjadi pengingat agar kita jangan hanya menjadi pengguna OTT asing, namun juga mampu menciptakan sendiri OTT yang digunakan oleh orang sedunia. Saya yakin kita pasti bisa, karena teknologi digital pada dasarnya membuka kesempatan luas kepada setiap orang untuk bisa berkreasi," ujarnya di gedung Telkomsel Smart Office, Jakarta, Kamis (17/3/2016).
Menkominfo menambahkan, perkembangan industri kreatif berbasis digital dalam negeri akan menjadi modal penting bagi bangsa lndonesia untuk bersaing di pentas global. Hal ini juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk membangun OTT Nasional guna mendorong terwujudnya Digital Ekonomi di lndonesia.
Rudiantara pun berharap agar ketiga OTT Nasional tersebut dapat menunjukkan keseriusannya bahwa mereka layak didukung, serta dapat memberikan layanan yang dibutuhkan masyarakat termasuk bagi komunitas pemerintahan.
Dalam kesempatan itu, Menkominfo bersama ATSI yang diwakili oleh seluruh petinggi operator seluler menyerahkan piagam pembinaan kepada pengelola ketiga OTT tersebut.
"ATSI telah berkomitmen akan memberikan dukungan yang sepadan kepada ketiga OTT agar mereka bisa lebih memasyarakat di Indonesia dan bahkan mengglobal. Semua anggota asosiasi sudah sepakat untuk itu, karena kami sadar benar bahwa program ini merupakan bagian dari upaya mengangkat citra bangsa, sekaligus memotivasi masyarakat untuk mampu memanfaatkan secara maksimal kemajuan teknologi digital," kata Alexander Rusli, Ketua Umum ATSI.
Mengenai bentuk riil pembinaan dan dukungan yang akan diberikan kepada ketiga OTT, Alex menyebutkan, ATSI diantaranya akan memberikan dukungan promosi layanan melalui jaringan milik operator, diantaranya pengiriman SMS Broadcast, pencantuman logo , link, dan banner.
Bentuk pembinaan ini akan dikaji secara berkala sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal bagi para OTT binaan.
"Sebagai langkah awal, dukungan ini kami berikan kepada tiga OTT terpilih dan melibatkan enam anggota ATSI, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, Hutchison 3 Indonesia, Smartfren dan Telkom. Kami terbuka dengan OTT nasional lainnya serta dengan melibatkan anggota ATSI lainnya," imbuh Alex.
Ketiga OTT Nasional yang terpilih merupakan karya anak-anak muda Indonesia. Mereka memiliki komitmen kuat serta idealisme untuk mengembangkan dunia digital tanah air.
Proses penilaian telah berlangsung sejak Desember 2015 lalu terhadap sekitar lima OTT. Ketiga OTT terpilih memiliki rencana kerja yang jelas, namun mereka belum dikenal secara luas oleh ke masyarakat.
"Yang penting, OTT nasional itu harus mudah. Jadi, ukurannya, kalau menteri bisa instal, maka masyarakat pun akan mudah download dan install. Masalahnya, menteri itu terkadang tidak punya waktu," kata Rudiantara menjelaskan.
Lalu, ia juga menambahkan bahwa target dari OTT nasional ini juga mengalahkan OTT asing seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, Line, dan lainnya.
"Masak Facebook punya 73 juta pengguna, Twitter 40 juta, Line punya 60 juta pengguna, OTT Nasional tidak bisa melampauinya. Itu sih gampang. Kan, pelanggan selular itu sekarang sekitar 160 juta yang aktif data. Apalagi dengan dukungan semua operator di bawah ATSI. Tinggal dimasukkan dalam SIM card saja. Masak tidak ada yang menggunakan," pungkas menteri. (rou/fyk)
SEBANGSA, APLIKASI LOKAL UNTUK RAGAM BANGSA INDONESIA
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160321095403-185-118693/sebangsa-aplikasi-lokal-untuk-ragam-bangsa-indonesia/
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah bersama Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mendukung penuh kehadiran layanan yang berbasis koneksi Internet atau over the top (OTT) lokal agar bisa mengimbangi invasi OTT internasional seperti Facebook, Twitter, hingga WhatsApp.
Salah satu OTT lokal yang didukung oleh pemerintah dan ATSI ini adalah Sebangsa. Aplikasi hasil buah tangan anak muda Indonesia ini berkonsep media sosial agar bisa merangkul banyak pengguna.
Sebangsa yang memiliki logo bergambar alat musik angklung ini dibentuk oleh Enda Nasution dan Indira B. Widjonarko pada 2014 lalu.
Tampilan Sebangsa mirip dengan Facebook dan Twitter, yaitu ada timeline atau linimasa dengan berbagai konten multimedia. Serta, fitur grup yang mampu menampung anggota tanpa batasan jumlah. Bahkan, Sebangsa menyediakan konten khusus bagi kelompok BMI alias Buruh Migran Indonesia.
"Fitur grup kami menjadi andalan yang isinya konten khusus, stiker khusus, hingga bahasa gaul yang biasa dipakai sehari-hari. Contohnya, grup khusus BMI. Para TKI kita yang berada di luar itu juga butuh hiburan sesuai selera mereka. Facebook tidak mungkin mengurusi layanan seperti ini," ucap Enda saat dijumpai beberapa waktu lalu.
Dijelaskan Enda, saat ini komunitas TKI yang tergabung di dalam Sebangsa banyak yang berasal dari Hong Kong dan Korea Selatan. Ada banyak komunitas lain yang sudah memanfaatkan fitur grup, di antaranya kelompok pencinta penyanyi Michael Jackson hingga komunitas Pramuka.
Selain linimasa, aplikasi Sebangsa menawarkan layanan "Japri" untuk melakukan obrolan secara langsung dengan teman, lalu fitur "911" yang berfungsi melaporkan atau mempublikasikan kondisi darurat kepada kepolisian atau pemadam kebakaran terdekat.
Kemudian fitur "Pesan Panik" dan "Kirim Jaga-jaga" yang masing-masing berguna untuk mengirim pesan darurat kepada lima orang terdekat dan memonitor orang-orang tertentu menggunakan aktivasi GPS. Tak lupa fitur "1800" sebagai sarana suara konsumen alias layanan pengaduan kepada perusahaan.
Tim Sebangsa turut memberikan konten sendiri mengenai ragam topik mulai dari agama, kebudayaan, musik, dan lain-lain.
"Untuk BMI, kami sediakan hal-hal yang berbau Indonesia, seperti cerita hantu, campur sari, keroncong, dangdutan, hingga ramalan yang lucu-lucu," tambah Indira.
Tidak Mau Menyaingi Facebook cs
OTT nasional memang seringkali digadang-gadang sebagai bentuk 'perlawanan' terhadap layanan asing yang selama ini merajai pasar Indonesia. Sebut saja Facebook, Google, Twitter, Path, WhatsApp, hingga Line.
Diakui Enda, Sebangsa lahir di tengah masyarakat bukan untuk menyaingi para pemain asing yang sudah besar lebih dulu.
"Strategi kami bukan langsung untuk head-on dengan media sosial dan layanan besar yang sudah ada. Kami hadir juga bukan untuk membuat para netizen jadi meninggalkan Twitter atau Facebook. Sangat tidak apa-apa kalau mereka masih mau main yang lain, karena fitur yang kami tawarkan berbeda dari mereka," ucap Enda.
Dua pendiri Sebangsa, Enda Nasution dan Indira B. Widjonarko. (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina) Senada dengan Enda, Indira juga menambahkan, meski tampilannya seperti Facebook dan Twitter -- ada linimasa yang dilengkapi dengan fitur like dan dislike -- tetapi timnya yakin bisa memberi fungsi yang jauh berbeda dari media sosial lain.
Enda memberi contoh di dalam fitur grup, cara membuatnya diakuinya mirip dengan WhatsApp atau Facebook. Tinggal tentukan apa topik atau temanya -- edukasi, lingkungan, dan lainnya -- lalu tulis deskripsi singkat tentang grup itu, dan undang teman untuk bergabung.
"Kalau sudah bikin grup ini, kami sudah menamakannya komunitas. Tidak ada batasan jumlah member, kalau WhatsApp 'kan 256 user. Dan bedanya lagi, kalau kalian chat di WhatsApp itu sifatnya lebih personal dan intens, sedangkan di Sebangsa kalian bisa share apapun itu dengan audiens yang lebih banyak. Jadi kalau mau kasih pengumuman penting, tidak perlu lagi cari kontak satu per satu, tinggal di dalam grup itu saja," jelas Enda.
Indira mengatakan, tim Sebangsa memilih konsep linimasa yang seperti Facebook ketimbang chat room pada umumnya yang ada di dalam WhatsApp adalah agar lebih mudah digunakan dan tidak ada konten yang terlewat.
Ingin Satukan Berbagai 'Bangsa'
Satu hal yang menjadi tujuan besar bagi Enda dari Sebangsa adalah, adanya penyatuan berbagai 'bangsa'. Bangsa yang dimaksud adalah jenis komunitas atau perkumpulan yang tersebar di Indonesia.
"Tidak dipungkiri jika Sebangsa bisa menjadi wadah berkumpulnya bangsa nelayan, petani, sampai Nahdlatul Ulama (NU) yang jumlahnya mencapai jutaan member. Biar mereka semuanya bersatu di dalam satu platform supaya memudahkan berbagi dan menyampaikan pesan berantai," tutur Enda.
Ia berharap, Sebangsa bisa menjadi cara baru untuk menjangkau berbagai macam 'bangsa' di Tanah Air, tentunya dengan konten yang jauh lebih canggih dari mulai foto, video, hingga pesan suara.
"Belum pernah ada platform seperti ini di dunia. Sebangsa hadir untuk menyatukan bangsa," ucap Enda sambil tersenyum.
Diakuinya, perusahaan yang berisi sekitar 50 karyawan asli Tanah Air ini belum berpikiran untuk ekspansi layanan ke luar negeri, namun akan selalu terbuka bagi TKI yang tinggal di luar negeri maupun diaspora Indonesia di berbagai negara.
(adt/eno)
MENKOMINFO BANGGA KARYA OTT ANAK BANGSA
https://kominfo.go.id/content/detail/7155/menkominfo-bangga-karya-ott-anak-bangsa/0/berita_satker
Jakarta, Kominfo - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengapresiasi Aplikasi Layanan Over The Top (OTT) nasional besutan anak bangsa. “Mereka adalah Qlue (qlue.co.id), Catfiz (catfiz.com), dan Sebangsa (sebangsa.com). Saya appreciate yang setinggi-tingginya atas karya anak bangsa yang ditunggu tunggu ini," katanya usai Peluncuran OTT Nasional di Gedung Telkomsel Pusat, Jakarta, Kamis (17/03/2016) petang.
Rudiantara menyatakan upaya mengembangkan OTT Nasional sejak Desember tahun lalu, akhirnya terealisasi dengan terpilihnya tiga karya anak bangsa. “Sudah saatnya Indonesia memiliki pemain OTT nasional dan terbukti. Qlue misalnya adalah penyedia aplikasi yang dipercaya untuk mendukung kegiatan terkait dengan kinerja Pemprov DKI Jakarta. Dengan Qlue, masyarakat dapat menyampaikan keluhan dan masukan kepada Pemda DKI dan akan segera ditindaklanjuti secara langsung atau didiskusikan dalam forum yang transparan tanpa melalui birokrasi yang berbelit," tutur Menkominfo mengapresiasi layanan.
Selanjutnya Menteri Rudiantara juga bertutur mengenai Catfiz yang menyediakan layanan dengan platform percakapan (messaging). Layanan itu dapat menampung percakapan dalam group dengan jumlah anggota hingga mencapai 2.000 orang dan memiliki fitur video streaming. "Saat ini baru tersedia untuk android, dan sudah memiliki 100.000 pengguna aktif," jelas Menkominfo.
Sementara untuk Sebangsa, menurut Rudiantara saat ini masih fokus untuk berusaha menjadi platform media sosial bagi komunitas. Sebangsa memiliki 20.000 pengguna, tersedia di web, android dan IOS sementara sebangsa yang merupakan media sosial lokal yang dibentuk dan dipimpin oleh Enda Nasution, yang dikenal sebagai sosok blogger. "Sebangsa merupakan OTT yang juga berupa media sosial berbasis komunitas. Sebangsa menyediakan media komunikasi yang dapat dimanfaatkan berbagai komunitas. Saat ini, aplikasi ini telah digunakan oleh 30 ribu pengguna," tutur Rudiantara.
Rudiantara juga mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya memfasilitasi pemain OTT lokal dengan para operator di Indonesia. Namun, usaha yang baik ini sepatutnya juga mendapat dukungan dari masyarakat sehingga dapat berkembang sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. "Saya berharap agar ketiga OTT Nasional tersebut dapat menunjukkan keseriusannya bahwa mereka layak didukung. Dan OTT Nasional dapat memberikan layanan yang dibutuhkan masyarakat termasuk bagi komunitas pemerintahan," tambahnya.
Rudiantara mengatakan pengembangan tiga OTT itu serta perluasan penggunaan media sosial secara nasional akan dimulai dari lingkup pemerintah. Dan sebagai admin grup kabinet Rudiantara menyatakan akan memberikan dukungan penuh. ''Saya bisa saja mengembangkan ruang chat Presiden Jokowi atau menyarankan para menteri membuka ruang yang sama. Sehingga banyak pihak yang akan terlibat didalamnya sehingga pengguna OTT nasional bisa semakin banyak," pungkasnya. (DDH)
LOCAL SOCIAL MEDIA PLATFORM TO ATTRACT LOCAL COMMUNITIES
http://www.thejakartapost.com/news/2016/02/18/local-social-media-platform-attract-local-communities.html
This photograph shows a community event of mangrove planting in Tuban, Bali, on Nov. 29, 2015, held by local communities including Earth Hour Denpasar, the Bali Deaf Community and Bali Edukasi. Public service-based social media platform Sebangsa announced on Wednesday that it was set to provide support for communities in a bid to gather more users. (Photo courtesy of Komunita.id)
A public service-based social media platform named Sebangsa is set to provide support for communities in a bid to gather more users.
Sebangsa CEO Enda Nasution said the paltform would help share expertise such as expertise from medical student groups and the Blood for Life group.
The mobile application currently has around 30,000 users, a small number compared to the country's total population of 250 million.
In addition to increasing the number of users, Sebangsa also plans to assist companies conducting corporate social responsibility (CSR) programs.
"For example, the community for Indonesian migrant workers, Sahabat BMI, is part of Bank Mandiri's CSR program. This model can also be implemented in other communities," Enda told thejakartapost.com on Wednesday.
Launched in November 2014, Sebangsa organizes information posted by users. Its main feature provides a pathway for users to report emergencies such as accidents, robberies and missing persons. Emergency numbers and crowd-sourced first-aid information automatically pop up, and other users can also offer help and suggestions. Help is also available for instances of possession and other supernatural occurrences.
Sebangsa also recently launched Komunita.id, a webiste that displays community-related information.
Enda said local applications needed to find creative ways to survive in the market due to the expansion of global social media.
"The presence of communities on Twitter and Instagram is more about personal branding. Facebook accommodates group discussion, but as a local platform, Sebangsa has the opportunity to engage more fully with local communities," said Enda. (kes)(+)
ERATKAN KOMUNITAS DI DUNIA MAYA, KOMUNITA.ID DILUNCURKAN
http://techno.okezone.com/read/2016/02/17/207/1314504/eratkan-komunitas-di-dunia-maya-komunita-id-diluncurkan
JAKARTA - Sebangsa, media sosial Indonesia bersama hari komunitas nasional, meluncurkan gerakan bangkit komunitas 2016 dan situs komunita.id. Gerakan ini turut didukung pemerintah.
Bangkit Komunitas 2016 merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk mengajak seluruh komunitas di Indonesia untuk bangkit demi NKRI. Pasalnya, selama ini komunitas dikenal sebagai ikatan sosial untuk mencapai tujuan bersama.
"Pertumbuhan komunitas di Indonesia kini tidak bisa dipisahkan dari kehadiran teknologi digital. Sejak media sosial dan gadget hadir, maka semangat komunitas makin terasa," kata Enda Nasution, inisiator gerakan Bangkit Indonesia, Rabu (17/2/2016).
Di dalam gerakan Bangkit Komunitas 2016 terdapat tiga elemen penting, yaitu kamar penasihat komunitas, situs komunita.id, dan sebangsa sendiri. Situs komunita sendiri ditujukan sebagai platform media sosial komunitas. Menurut Indira Widjonarko, founder Sebangsa, situs ini menghadirkan informasi komunitas secara lengkap. Mulai dari direktori komunitas, liputan kegiatan, profil komunitas, dan tips ala komunitas.
"Situs ini diharapkan dapat menjadi sumber infornasi komunitas yang berguna terutama untuk mereka yang memilki minat berkomunitas," tutupnya.
(kem)