Hari ini saya ada jam kuliah (amat) pagi, pukul 05.30. Pukul 05.12 saya berangkat dari kost dengan berjalan kaki. Suasana masih agak gelap, langit memang agak mendung pagi ini, jadi matahari terbit di ufuk timur tidak begitu kelihatan. Sendirian saya menyusuri double way, jalan lebar menuju kampus. Suasana masih sepi, hanya terlihat beberapa orang yang sedang jogging menyusuri area kampus dan beberapa sepeda motor yang lewat. Sepagi itu pak kebun sudah sibuk dengan sapu lidinya membersihkan daun-daun kering yang berserakan di trotoar dan di pinggir jalan. Ada yang menarik perhatian saya waktu itu, pemandangan yang (jujur) asing bagi saya dan sedikit merasa... ah entahlah apa namanya, penasaran mungkin. Beberapa meter di depan saya, seorang anak, memakai celana panjang, kaos dan jaket yang sedikit kebesaran, terlihat mengangkat sebuah keranjang bambu, itu tempat sampah. Saya terus berjalan hingga semakin mendekat dengan tempat anak itu, usianya mungkin sekitar 10 tahun, badannya kurus. Saya masih memperhatikannya sambil berjalan. Ada sesuatu yang menjalar di perasaan ketika melihat dia dengan sigap mengambil sapu lidi di dekatnya kemudian dalam sekejap menyapukanya ke permukaan jalan, menyingkirkan daun-daun kering yang berserakan, membersihkanya. Ya Tuhan... anak siapa ini? Beberapa detik setelah saya menyaksikan adegan tersebut, terdengar tangisan dari arah seberang jalan. Seorang anak kecil, lebih kecil dari si penyapu, dia sedang menangis memanggil si penyapu kecil tadi. Astaga, siapa lagi dia? mungkinkah adik si penyapu kecil ini? Saya terus berjalan, hingga sekarang saya beberapa langkah membelakangi si penyapu kecil itu. Saya sempat menoleh ketika mendengar si penyapu kecil berkomunikasi dengan si adik kecil itu, tapi saya tidak tahu apa yg mereka bicarakan, mereka berbicara dengan bahasa madura. Si adik kecil masih menangis.
Saya terus berjalan. Entah kenapa saya tak bisa untuk sekedar berhenti disana, di tempat itu. Kemudian bertanya apa yang terjadi, bertanya siapa mereka, kenapa mereka ada di sana sepagi itu, kenapa mereka harus melakukan pekerjaan itu. Semua itu hanya berakhir menjadi khayalan sepanjang jalan saya menuju kampus. Ini kah yang disebut bodoh? Saya tidak tau, kalaupun saya berhenti disana, apa yang harus saya lakukan? melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu?. Ketika menulis ini pun, sebenarnya pikiran saya masih dipenuhi pertanyaan, siapa? siapa? mengapa?. Siapa anak kecil itu? Yang pagi harinya rela dia berikan kepada sebuah sapu lidi, bukankah semestinya di waktu sepagi itu anak seusianya baru beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap untuk pergi ke sekolah? tapi dia justru sibuk membersihkan tempat yang mungkin saja dia tidak tau tempat apa yang dia bersihkan itu, siapa orang tuanya? apakah bapak paruh baya yg membersihkan halaman gedung alumni yang juga saya lihat pagi itu?
Ini kali pertama saya melihat pemandangan itu di kampus. Sebelumnya saya tidak pernah melihatnya, padahal saya bisa dikatakan sering bersliweran di area kampus di pagi buta untuk sekedar jogging di akhir pekan atau seperti tadi, kuliah jam ke-0. Saya juga tidak tau apa anak penyapu itu memang sering melakukanya atau masih baru-baru ini, mungkin ada teman kemapus yang kiranya bisa memberi informasi mengenai hal itu.