SELF-BLAME The blame game tidak hanya dilakukan oleh seseorang ke orang lain, tapi seringkali justru dilakukan pada diri sendiri. Self-blame atau menyalahkan diri sendiri dapat mengganggu kondisi psikologis pelakunya. Menyalahkan dan mengetahui kesalahan itu berbeda. Saat menyalahkan, kita cenderung fokus pada kesalahan dan terus-menerus memikirkannya, sambil berandai-andai jika saja tidak begini, jika saja begitu, dsb. Sedangkan saat mengetahui kesalahan, kita akan berusaha menemukan solusi untuk menghindari kesalahan yang sama dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Beberapa faktor yang mempengaruhi self-blame di antaranya trauma masa lalu, kurangnya penghargaan terhadap diri sendiri, dan kecemasan berlebih dalam menghadapi situasi. Jika terus berlanjut, maka self-blame dapat menyebabkan depresi. Untuk mengatasi self-blame, kita harus bisa berdamai dengan diri sendiri. Caranya adalah dengan mengakui bahwa yang kita lakukan memang keliru, menerima kesalahan itu sebagai pelajaran, dan memaafkan diri kita yang telah berbuat salah. Menyalahkan diri sendiri tidak ada gunanya. Toh, tidak akan ada yang berubah hanya dengan self-blaming. Kita harus menyadari bahwa semua yang terjadi ada hikmahnya. Tuhan ingin mengajarkan sesuatu dari kesalahan tersebut. Bersyukurlah jika kita masih diperingatkan melalui kesalahan, itu berarti Tuhan sayang pada kita dan ingin menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Berdamailah dengan dirimu. Cukup jadikan kesalahan sebagai pelajaran tanpa perlu menghukumi diri sendiri. -- @ayuyupertiwi #renungan #evaluasidiri #introspeksi #selfblame #selfblaming #theblamegame #blamegame https://www.instagram.com/p/BuX5xHDA9Sm/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1vhzktia56zrq