Nahan ketawa 3. . . . #ootd #semakbelukar #green
seen from Australia
seen from Ukraine

seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Yemen
seen from Croatia

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Canada

seen from United States

seen from United States
seen from Japan
seen from United States

seen from Belgium
Nahan ketawa 3. . . . #ootd #semakbelukar #green
Abandoned!!! 😥 #MuseumAsmat #GedungTerlantar #AbandonedBuilding #SunnyDay #Museum #SemakBelukar (di Agats, Papua, Indonesia)
Happy Monday fellas.. #Repost @adityaardhianto with @repostapp ・・・ Fotografi itu semua hal dicoba. 18mm. Apa pun yang ada disekitar bisa mendukung sebuah foto supaya enak dipandang dan mampu lebih bercerita. #landscape #flower #bungaliar #semakbelukar #cloud
Semakbelukar Lebih Punk dari Dirimu
Awalnya saya cuma memandang sebelah mata band ini. Lokalisasi Beirut, pikir saya. Namun ternyata mereka bukan hanya versi melayu dari Gulag Orkestar.
Semakbelukar adalah band melayu paling punk, dan band punk paling melayu. Simak saja lirik Seloka Beruk, kritik mereka terhadap tatanan dunia yang korup atau Kalimat Satu, anthem perlawanan terhadap kekerasan ekstra-judisial aparat keamanan negara. Begitu juga sikap Semakbelukar untuk menolak karya mereka dijadikan soundtrack yang dibuat dengan pembiayaan dari pihak Barat.
Dan tentu saja yang tak terlupakan adalah keputusan mereka menghancurkan alat musik dan membubarkan diri sebagai statement politik untuk menolak di-kooptasi oleh mesin produksi industri musik yang hanya mendewakan profit, tepat di saat mereka sedang naik daun dan baru saja merilis album yang sudah sangat ditunggu penikmat musik!
CD Review | Terlahir & Terasingkan: Antologi Semak Belukar 2009-2013
Band: Semak Belukar Genre: World Music, Folk Elevation Recs - 2014 “Terlahir & Terasingkan: Antologi Semak Belukar 2009-2013”
Buah kedondong pohonnya berduri, Panen dipetik dibawa dokar, Sungguh rugi saya ini, Baru sekarang tau Semak Belukar.
O rugi sekali saya baru mengenal mereka sekarang, padahal band ini sudah ada dan berwacana dari tahun 2009 dan sekarang sudah bubar, ini album terakhir mereka (kemana aja ya gw?). Jujur lagu-lagu Semak Belukar bukan yang bisa menarik telinga khalayak banyak sesaat setelah lagu didendangkan, tapi sejatinya, band ini layak kita kenang sebagai permata negeri. Bagaimana tidak, musik mereka unik dan sangat berkarakter, dengan lirik yang puitis dan kuat.
Kesimpulan dari review saya adalah, “Semak Belukar itu keren sekali, sumpah! Albumterakhir ini layak kamu beli, dengarkan, dan koleksi. Sungguh.”
Bagaimana saya bisa sampai pada kesimpulan tadi, adalah ini (rada panjang ye, maap):
Ya, musik mereka tidak semudah itu dicerna, terkadang tidak sing-along, betul, tapi saya percaya kalian menjadi insan musik bukan hanya untuk mencari lagu karaoke kan? Sensasi pertama kali saya memutar CD antologi ini adalah perasaan menggelitik di hati saya, juga rasa geli-geli di perut, bagai melihat kecengan pagi-pagi sedang makan bubur ayam sebelum masuk kelas di kampus. Rasanya juga seperti sedang mendengarkan soundtrack saat menonton film Laskar Pelangi,
“Pak ketipak ketipung, Suara gendang bertalu-talu, serentak hati bingung, dalam hati siapa yang tau..”
Semak Belukar menyentuh romansa masa sekolah saya, karena saya adalah penikmat pelajaran Bahasa Indonesia. Dari mulai sajak, pantun, dan karya-karya sastra lama Indonesia, sastra Melayu. Semakin didengarkan, semakin liar pikiran saya kemana-mana.
Mendengarkan mereka, kadang seperti mendengarkan musik islami atau Nasyid. Saya pikir, Semak Belukar ini perlu diperkenalkan pada ibu-ibu Qasidahan di RT-RT, dan pemuda masjid tarang karuna di kelurahan. Betul lho! Supaya mereka juga punya referensi musik kontemporer yang unik berkarakter. Saya membayangkan ibu-ibu Qasidahan membawakan musik Semak Belukar di acara pengajian-pengajian, dengan sengau suara ibu-ibu, riuh rendah rebana di tangan, dan seragam penuh manik-manik. Pasti keterlaluan kerennya!
Musik melayu mereka sederhana dengan penggarisbawahan gendang, mandolin,
akordeon yang tepat membuatnya terdengar mewah. Minor dan mendayu-dayu? Peduli apa, mereka keren! Belum lagi, lirik mereka kuat sekali, dibalut manis dan puitis tapi isinya berat dan dalam, semacam bait-bait perenungan. Mereka berbicara tentang Tuhan, tentang ekspektasi, tentang manusia, dan tentu saja tentang mati yang alaminya pasti terjadi.
Meski terdengar islami, Semak Belukar bukan bermaksud melakukan islamisasi lho, jangan khawatir. Mereka bahkan dengan jelas menyatakan tidak ada representasi agama apapun dalam lagu-lagu mereka. Cukup pahami bahwa memang musik mereka datang dari Sumatera Selatan (Palembang tepatnya), tempat yang menurut sejarah dari abad ke-6 sudah didiami sekelompok Bangsa Arab yang membawa Islam, yang kelak tempattersebut menjadi kerajaan Sriwijaya yang pada abad ke-7 rajanya memeluk Islam. Jadi, islam semacam sudah merasuk pada segala aspek kebudayaan daerah itu, sampai sastra dan musiknya pun.
Track paling easy listening dalam album ini menurut saya: Tabiat Insani, Lebah, Mekar Mewangi, Hikmah, Sayang Selayak, Merujuk Damai, Dendang Lalai, dan Perlahan Tapi Pasti.
Kalau kamu suka band-band berikut, kamu akan suka Semak Belukar, dan sebaliknya:Efek Rumah Kaca, Beirut, Woodkid.
Akhir kata, beli deh! Buruan! Dimana lagi selain di Mc..maksud saya di Omuniuum. Jalan Ciumbuleuit nomer..nomer..ya itulah yang di depan UNPAR. Masa anak gaul ga tau Omuniuum dimana sih *nyinyir*. Mampir-mampir di little Omu sambil jangan lupa mantranya ya, “Numpang, Numpang, Anak Bedul Mau Lewat..”. Jangan lupa. Kalau lupa nanti kamu bisa ketagihan nongkrong disana, gawat, gimana nanti nasib studi kamu yang ga beres-beres..
[review dibuat dengan senang hati oleh: perempuangimbal yang sekarang sudah jadi ibu dari Laut dan masih senang berpetualang]
Untuk
Untuk anak tangga, bukan lantai keramik
Untuk para Merkurius, bukan Bumi
Untuk para Bulan, bukan Matahari
Untuk ujung semesta, bukan pusat semesta
Untuk meteor, bukan komet
Untuk duri-duri, bukan bunga-bunga
Untuk semak belukar, bukan mawar
Untuk awan hitam yang menahan tangis, juga para badai
Untuk yang di pusat tornado, juga yang di sekitar
Untuk kaki gunung, bukan puncak gunung
Untuk udara yang tidak percaya diri, bukan api yang membara
Untuk suara yang tak pernah sampai
Untuk tembok yang selalu berteriak
Untuk tetesan air mata yang selalu diusap
Untuk yang memuja, bukan yang dipuja
Untuk yang mendamba, bukan yang didamba
Tanpa kalian, keindahan tidak akan bisa mencuat memekar.
Tanpa kalian, tidak akan ada yang memucuk.
Tidak, kalian bukan hanya remeh temeh belaka, kalian adalah pondasi mereka.
Maka, seperti kata David Hersya, tetaplah berharap untuk mengharap. Karena hanya itulah yang kita punya ketika kita berada dalam keterpurukan dan dalam ambang kehancuran.
Mengulas Semakbelukar: Sekali Berarti, Sudah itu Mati
Liriknya apik, dibalut nada Melayu. Memilih bubar begitu ramai dibincangkan.
Semakbelukar adalah grup musik paling ngehe di tahun 2013. Band ini bubar justru ketika ia mulai menuai perhatian. Mulai banyak tawaran manggung di mana-mana. Mulai banyak surat elektronik permohonan wawancara. Mulai banyak yang bertanya, “Siapa itu Semakbelukar?” Justru ketika Semakbelukar mulai “diperhitungkan” di skena musik indie dalam negeri, dengan lagak peduli setan, ia membubarkan diri.
Di awal Desember 2013 -saat manggung di Kineruku, Bandung- David Hersya (mandolin, vokal), Ricky Zulman (Akordeon), Mahesa Agung (Minigong), Angger Nugroho (Jimbana), dan Ariansyah Long (Gendang) menghancurkan alat musik yang mereka pegang dengan linggis dan palu. Semakbelukar menutup pertunjukan dengan rebana sobek, akordoen terbelah, gong pecah, dan mandolin bolong. Padahal perhelatan itu sejatinya adalah rilis album terbaru mereka dan penampilan perdana di Kota Kembang.
“Saya sudah lelah. Sudah cukup lah,” kata David Hersya saat ditanya alasannya membubarkan Semakbelukar, Senin 7 Januari 2013. “Menghancurkan alat itu suatu pernyataan, Semakbelukar sudah selesai dan kami tidak akan reuni lagi,” ujarnya. Di ujung telepon, David terdengar seperti pemuda flegmatik introvert yang terkadang gagap menyampaikan suatu maksud.
Semakbelukar dipilih sebagai satu dari sepuluh album terbaik 2013 utamanya karena lirik. Jika ada kontes album musik dengan lirik terbaik pada 2013, grup musik asal Palembang ini dipastikan masuk nominasi. Jika yang dilombakan sebatas lagu dengan lirik terbaik, maka Seloka Beruk dengan mudah muncul sebagai jawara, menebas kandidat-kandidat lain. Tengoklah penguasaan bahasa dan pemilihan diksi yang dilakukan Semakbelukar dalam tembang Seloka Beruk. Berikut ini liriknya:
Seloka Beruk
ayuhai putri cantik nan menggoda masanya budak dikenakan lampin adat diinjak budaya ternoda semenjak beruk menjadi pemimpin
masanya budak dikenakan lampin sembari ditimang didendangkan semenjak beruk menjadi pemimpin halal dan haram pun dimakan
Mari analisis. Pertama-tama mulai dari judul, Semakbelukar memilih kata beruk ketimbang monyet yang jauh lebih populer. Barangkali itu terjadi karena latar belakang personelnya yang berasal dari dataran Sumatera. Dalam dialek melayu, kata beruk bukan kata yang asing. Namun bagi pendengar yang ada di dataran Jawa, kata beruk yang disisipkan dalam lirik lumayan mengejutkan. Apalagi ini dijadikan judul.
Yang kedua adalah pemilihan kata ayuhai. Tanpa membaca sastra lama yang didominasi pujangga Melayu, tak mungkin kata ayuhai itu terselip dalam lirik. Pada masa kini jauh lebih populer aduhai ketimbang ayuhai. Begitu pula dengan kata lampin, padanan kata popok bayi. Seorang wartawan senior Tempo yang sudah puluhan tahun jadi wartawan pun sempat bertanya saat lirik Seloka Beruk dipajang di papan presentasi rapat pemilihan album terbaik. “Lampin itu artinya apa ya. Aku lupa?”
Dari satu contoh itu kami melihat ada keseriusan dalam proses pembuatan lirik Semakbelukar. Ini lirik bukan sembarang lirik. Kata-kata dipilih dengan telaten dan sabar. “Butuh waktu sebulan untuk menyelesaikan Seloka Beruk,” kata David.
Pun maksud dari Seloka Beruk jauh dari kesan kacangan. Ia menyampaikan kritik sosial dengan cara yang unik. Sudah banyak grup musik meneriakkan kritik sosial, umumnya menggunakan kata-kata lugas dan pedas seperti “Ku bisa tenggelam di lautan,” ketika bicara soal penghilangan aktivis; atau “maling-maling kecil dihakimi, maling-maling besar dilindungi,” saat bicara soal manipulasi hukum. Semakbelukar memilih jalan lain. Ia memilih membuat seloka berjudul Seloka Beruk, dan berkata dengan jenaka, “adat diinjak budaya ternoda, semenjak beruk menjadi pemimpin.”
Ada satu lagi yang tak boleh diabaikan, yakni musik Melayu dan kaitannya dengan latar belakang personel Semakbelukar. Sebelum berlabuh di alunan nada Melayu, sebagian besar personel Semakbelukar adalah punkers underground Palembang. David punya band punk rock, Ricky punya band industrial, dan Mahesa grunge.
Pada suatu titik David jengah dengan distorsi dan gaya hidup anak punk. Ia merasa skena punk di Palembang terlampau banal. Lagu-lagunya meneriakkan kritik sosial, tapi hidupnya jauh dari permasalahan yang mereka bicarakan di lagu. “Hanya ikut-ikutan saja. Karena punk biasanya kritik sosial, jadilah lagunya juga kritik sosial,” katanya. Pesan yang disampaikan lewat lirik lagu pun tak pernah sampai dan tak ada artinya di tengah masyarakat, sebab yang mendengar ya anak punk itu-itu juga.
Mulailah ia membuat sebuah perlawanan: mengeksplorasi musik Melayu. Gitar listrik ditanggalkan, diganti mandolin. Drum disingkirkan, diganti kendang. Yang lucu, ada mini gong setiap kali mereka main. Alat ini lebih jamak ditemukan di gagang gerobak tukang es lilin ketimbang di panggung-panggung musik indie. “Awalnya Semakbelukar dibikin sebagai perlawanan. Tapi lama-lama untuk senang-senang saja, tak begitu peduli lagi dengan perlawanan,” kata David.
Hal lain yang menjadi poin plus bagi Semakbelukar adalah sikap acuh tak acuh. Ketidakpedulian Semakbelukar tentang reaksi publik atas karya mereka justru jadi sesuatu yang dipandang baik. Ada ketulusan yang tersurat dari sikap itu. Bahwasannya grup ini tak mencari ketenaran, tak mengejar keuntungan, tak peduli kata orang, hanya ingin bersenang-senang, titik.
Setelah merilis single beberapa kali dan mengeluarkan album EP pada Oktober 2013, Semakbelukar memilih bubar. David mengaku kaget atas apresiasi atas musik yang ia usung. Banyak media pengulas musik menempatkan Semakbelukar sebagai salah satu album terbaik 2013. Namun apa boleh dikata, bagi David keputusan sudah bulat. “Saya sudah berhenti total. Tidak akan balik lagi bermusik. Sekarang urus menafkahi keluarga saja,” katanya.
Nama grup: Semakbelukar Album : EP Semakbelukar Rilis: Oktober 2013 Label: Elevation records
Daftar Lagu: 1. Seloka Beruk 2. Celaka 3. Kalimat Satu 4. Merujuk Damai 5. Berlayar Di Daratan 6. Dendang Lalai 7. Pena Tak Bertinta 8. Perlahan Pasti
Tengoklah dulu mereka punya lagu:
*Foto-foto diambil sekenanya dari elevationrecords.co *Versi edit ditampilkan di Koran Tempo 12 Januari 2014
Salam, Ananda Badudu Kantor Tempo, 15 Januari 2014
Semakbelukar - Kalimat Satu #laguasoi
Selamat mendengarkan harta karun dari Palembang ini. :)