#primalscream #sonicflowergroove #elevationrecords 1987 VG+ $24.99 #indierock #britpop LINK IN BIO TO PURCHASE. FREE DOMESTIC SHIPPING. #discogs (at Siren Records) https://www.instagram.com/p/B_ieb5opbaX/?igshid=1rrn3hallw0yq

seen from United States
seen from United States

seen from Russia
seen from Brazil
seen from Switzerland

seen from United States

seen from Maldives

seen from Poland
seen from Japan
seen from Malaysia
seen from Uzbekistan
seen from Russia

seen from United States

seen from Sweden

seen from Ukraine
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Mexico
seen from Belarus
#primalscream #sonicflowergroove #elevationrecords 1987 VG+ $24.99 #indierock #britpop LINK IN BIO TO PURCHASE. FREE DOMESTIC SHIPPING. #discogs (at Siren Records) https://www.instagram.com/p/B_ieb5opbaX/?igshid=1rrn3hallw0yq
Semakbelukar Lebih Punk dari Dirimu
Awalnya saya cuma memandang sebelah mata band ini. Lokalisasi Beirut, pikir saya. Namun ternyata mereka bukan hanya versi melayu dari Gulag Orkestar.
Semakbelukar adalah band melayu paling punk, dan band punk paling melayu. Simak saja lirik Seloka Beruk, kritik mereka terhadap tatanan dunia yang korup atau Kalimat Satu, anthem perlawanan terhadap kekerasan ekstra-judisial aparat keamanan negara. Begitu juga sikap Semakbelukar untuk menolak karya mereka dijadikan soundtrack yang dibuat dengan pembiayaan dari pihak Barat.
Dan tentu saja yang tak terlupakan adalah keputusan mereka menghancurkan alat musik dan membubarkan diri sebagai statement politik untuk menolak di-kooptasi oleh mesin produksi industri musik yang hanya mendewakan profit, tepat di saat mereka sedang naik daun dan baru saja merilis album yang sudah sangat ditunggu penikmat musik!
Mengulas Semakbelukar: Sekali Berarti, Sudah itu Mati
Liriknya apik, dibalut nada Melayu. Memilih bubar begitu ramai dibincangkan.
Semakbelukar adalah grup musik paling ngehe di tahun 2013. Band ini bubar justru ketika ia mulai menuai perhatian. Mulai banyak tawaran manggung di mana-mana. Mulai banyak surat elektronik permohonan wawancara. Mulai banyak yang bertanya, “Siapa itu Semakbelukar?” Justru ketika Semakbelukar mulai “diperhitungkan” di skena musik indie dalam negeri, dengan lagak peduli setan, ia membubarkan diri.
Di awal Desember 2013 -saat manggung di Kineruku, Bandung- David Hersya (mandolin, vokal), Ricky Zulman (Akordeon), Mahesa Agung (Minigong), Angger Nugroho (Jimbana), dan Ariansyah Long (Gendang) menghancurkan alat musik yang mereka pegang dengan linggis dan palu. Semakbelukar menutup pertunjukan dengan rebana sobek, akordoen terbelah, gong pecah, dan mandolin bolong. Padahal perhelatan itu sejatinya adalah rilis album terbaru mereka dan penampilan perdana di Kota Kembang.
“Saya sudah lelah. Sudah cukup lah,” kata David Hersya saat ditanya alasannya membubarkan Semakbelukar, Senin 7 Januari 2013. “Menghancurkan alat itu suatu pernyataan, Semakbelukar sudah selesai dan kami tidak akan reuni lagi,” ujarnya. Di ujung telepon, David terdengar seperti pemuda flegmatik introvert yang terkadang gagap menyampaikan suatu maksud.
Semakbelukar dipilih sebagai satu dari sepuluh album terbaik 2013 utamanya karena lirik. Jika ada kontes album musik dengan lirik terbaik pada 2013, grup musik asal Palembang ini dipastikan masuk nominasi. Jika yang dilombakan sebatas lagu dengan lirik terbaik, maka Seloka Beruk dengan mudah muncul sebagai jawara, menebas kandidat-kandidat lain. Tengoklah penguasaan bahasa dan pemilihan diksi yang dilakukan Semakbelukar dalam tembang Seloka Beruk. Berikut ini liriknya:
Seloka Beruk
ayuhai putri cantik nan menggoda masanya budak dikenakan lampin adat diinjak budaya ternoda semenjak beruk menjadi pemimpin
masanya budak dikenakan lampin sembari ditimang didendangkan semenjak beruk menjadi pemimpin halal dan haram pun dimakan
Mari analisis. Pertama-tama mulai dari judul, Semakbelukar memilih kata beruk ketimbang monyet yang jauh lebih populer. Barangkali itu terjadi karena latar belakang personelnya yang berasal dari dataran Sumatera. Dalam dialek melayu, kata beruk bukan kata yang asing. Namun bagi pendengar yang ada di dataran Jawa, kata beruk yang disisipkan dalam lirik lumayan mengejutkan. Apalagi ini dijadikan judul.
Yang kedua adalah pemilihan kata ayuhai. Tanpa membaca sastra lama yang didominasi pujangga Melayu, tak mungkin kata ayuhai itu terselip dalam lirik. Pada masa kini jauh lebih populer aduhai ketimbang ayuhai. Begitu pula dengan kata lampin, padanan kata popok bayi. Seorang wartawan senior Tempo yang sudah puluhan tahun jadi wartawan pun sempat bertanya saat lirik Seloka Beruk dipajang di papan presentasi rapat pemilihan album terbaik. “Lampin itu artinya apa ya. Aku lupa?”
Dari satu contoh itu kami melihat ada keseriusan dalam proses pembuatan lirik Semakbelukar. Ini lirik bukan sembarang lirik. Kata-kata dipilih dengan telaten dan sabar. “Butuh waktu sebulan untuk menyelesaikan Seloka Beruk,” kata David.
Pun maksud dari Seloka Beruk jauh dari kesan kacangan. Ia menyampaikan kritik sosial dengan cara yang unik. Sudah banyak grup musik meneriakkan kritik sosial, umumnya menggunakan kata-kata lugas dan pedas seperti “Ku bisa tenggelam di lautan,” ketika bicara soal penghilangan aktivis; atau “maling-maling kecil dihakimi, maling-maling besar dilindungi,” saat bicara soal manipulasi hukum. Semakbelukar memilih jalan lain. Ia memilih membuat seloka berjudul Seloka Beruk, dan berkata dengan jenaka, “adat diinjak budaya ternoda, semenjak beruk menjadi pemimpin.”
Ada satu lagi yang tak boleh diabaikan, yakni musik Melayu dan kaitannya dengan latar belakang personel Semakbelukar. Sebelum berlabuh di alunan nada Melayu, sebagian besar personel Semakbelukar adalah punkers underground Palembang. David punya band punk rock, Ricky punya band industrial, dan Mahesa grunge.
Pada suatu titik David jengah dengan distorsi dan gaya hidup anak punk. Ia merasa skena punk di Palembang terlampau banal. Lagu-lagunya meneriakkan kritik sosial, tapi hidupnya jauh dari permasalahan yang mereka bicarakan di lagu. “Hanya ikut-ikutan saja. Karena punk biasanya kritik sosial, jadilah lagunya juga kritik sosial,” katanya. Pesan yang disampaikan lewat lirik lagu pun tak pernah sampai dan tak ada artinya di tengah masyarakat, sebab yang mendengar ya anak punk itu-itu juga.
Mulailah ia membuat sebuah perlawanan: mengeksplorasi musik Melayu. Gitar listrik ditanggalkan, diganti mandolin. Drum disingkirkan, diganti kendang. Yang lucu, ada mini gong setiap kali mereka main. Alat ini lebih jamak ditemukan di gagang gerobak tukang es lilin ketimbang di panggung-panggung musik indie. “Awalnya Semakbelukar dibikin sebagai perlawanan. Tapi lama-lama untuk senang-senang saja, tak begitu peduli lagi dengan perlawanan,” kata David.
Hal lain yang menjadi poin plus bagi Semakbelukar adalah sikap acuh tak acuh. Ketidakpedulian Semakbelukar tentang reaksi publik atas karya mereka justru jadi sesuatu yang dipandang baik. Ada ketulusan yang tersurat dari sikap itu. Bahwasannya grup ini tak mencari ketenaran, tak mengejar keuntungan, tak peduli kata orang, hanya ingin bersenang-senang, titik.
Setelah merilis single beberapa kali dan mengeluarkan album EP pada Oktober 2013, Semakbelukar memilih bubar. David mengaku kaget atas apresiasi atas musik yang ia usung. Banyak media pengulas musik menempatkan Semakbelukar sebagai salah satu album terbaik 2013. Namun apa boleh dikata, bagi David keputusan sudah bulat. “Saya sudah berhenti total. Tidak akan balik lagi bermusik. Sekarang urus menafkahi keluarga saja,” katanya.
Nama grup: Semakbelukar Album : EP Semakbelukar Rilis: Oktober 2013 Label: Elevation records
Daftar Lagu: 1. Seloka Beruk 2. Celaka 3. Kalimat Satu 4. Merujuk Damai 5. Berlayar Di Daratan 6. Dendang Lalai 7. Pena Tak Bertinta 8. Perlahan Pasti
Tengoklah dulu mereka punya lagu:
*Foto-foto diambil sekenanya dari elevationrecords.co *Versi edit ditampilkan di Koran Tempo 12 Januari 2014
Salam, Ananda Badudu Kantor Tempo, 15 Januari 2014