Penghujung semester dua, selepas kami melewati you-know-what, untuk pamungkas mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya kami dan anak-anak Humas diwajibkan membuat Festival Budaya. Dan tentu saja, saya kami memilih negara Korea Selatan untuk ditampilkan.
Saya dan rekan-rekan setim saya (dengan bantuan dari internet archives of traditional Korean music, Big Bang, BAP, SNSD, AKMU, dan kawan-kawan) menyusun kabaret “Gara-Gara Kimchi”. Dengan latihan H-1 alakadarnya kami merasa super beruntung dapat menjadi yang terbaik dari semua penampilan yang ada.
Ditengah hiruk pikuk moderenisasi dan globalisasi yang semakin marak dewasa ini, amat sulit untuk menemukan pihak yang mau memperjuangkan kekayaan budaya milik sendiri. Kebanyakan malah terbawa arus dan melupakan apa yang seharusnya menjadi warisan.
Namun tidak seperti kebanyakan orang, para anggota Komunitas Saung Mang Dedi bahu membahu memperjuangkan agar budaya milik sendiri tidak lenyap dan musnah. Dengan latihan rutin dan berbagai aktivitas budaya yang mereka lakukan, tak kenal lelah mereka memperjuangkan agar seni tradisional tidak hilang ditelan zaman.
Komunitas Saung Mang Dedi mungkin bukan satu-satunya komunitas budaya yang berada di Sumedang, namun kontribusinya dalam menjaga keberlangsungan budaya tradisional patut diapresiasi dan diikuti.
I.2 RUMUSAN MASALAH
- Apa itu Komunitas Saung Mang Dedi?
- Apa tujuan dibentuknya
- Seberapa banyak anggotanya?
- Apa saja kegiatannya
- Apa manfaatnya bagi masyarakat?
- Bagaimana pendapat anggota dan warga sekitar?
I.3 TUJUAN PENELITIAN
a. Memenuhi tugas Akhir UAS Sosiologi
b. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang kebudayaan yang ada di sekitar kita
I.4 MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini adalah pengetahuan baru dan pengalaman baru yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sebagai mahasiswa yang dituntut selalu peka terhadap lingkungan sekitar, makalah ini menyajikan sebuah penelitian tentang Komunitas Budaya yang ada di sekitar kita.
I.5 METODE PENELITIAN
Metode penelititan yang digunakan dalam membuat makalah ini adalah wawancara langsung dengan Kelompok Budaya Komunitas Saung Mang Dedi.
BAB II
ISI
II.1 PROFIL DAN AKTIVITAS KELOMPOK SOSIAL
Berdiri pada 11 januari 2013, Saung Mang Dedi yang beralamat di Dusun Manabaya Rt 05 Rw 06 Desa Sindang Pakuon, Kecamatan Cimanggung, Sumedang ini bertujuan untuk melestarikan budaya tradisional sunda. Dibuat oleh lima bersaudara, yakni Mang Dedi, Aki Mamat, Iyan dan Adi dengan latar belakang musik yang berbeda-beda, kelima bersaudara ini memanfaatkan bambu-bambu biasa untuk menjadi alat-alat musik khas sunda dengan bunyi-bunyian yang khas.
Komunitas budaya ini memliki logo berupa tiga ruas bambu hijau dengan dua pucuk daun hijau yang menggambarkan bahwa semua alat musik dalam kelompok budaya ini terbuat dari bambu.
Komunitas seni yang kini memiliki anggota kurang lebih 60 orang dari mulai murid Sekolah Dasar, SMP, mahasiswa, warga, hingga manula berumur 60an ini sangat mengutamakan pelestarian budaya sunda, dengan memupuk juga rasa kekeluargaan antar anggotanya. Keanggotaan dalam komunitas ini akan tetap berlaku selama yang bersangkutan masih memiliki keinginan untuk melestarikan budaya sunda.
Kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan antara lain, berlatih, melakukan pementasan dan pagelaran seni, juga menghibur dalam acara-acara hajatan warga. Latihan rutin dilakukan setiap minggu sore hingga malam, namun jika ada yang memiliki waktu senggang, para anggota bebas berlatih kapan saja.
II.2 REKRUTMEN ANGGOTA
Jika ingin menjadi anggota, yang diperlukan adalah datang ke Saung Mang Dedi saat sedang diadakan latihan, melihat-lihat dan bergabung jika berminat. Tidak dipungut biaya sepeserpun, tidak untuk biaya latihan, tidak pula untuk seragam, yang terpenting dalam hati ada kemauan. Dalam rekrutmen anggotpun tidak memiliki batasan usia.
II.3 KEUNIKAN KELOMPOK BUDAYA
Keunikan dari kelompok budaya ini adalah: Saung Mang Dedi sangat mengutamakan pelestarian budaya tradisional, jika komunitas lain ada yang mencampur lagu-lagu kreasinya dengan musik kontemporer dan modern, Saung Mang Dedi murni membawakan lagu tradisional. Selain itu digunakannya alat musik Celempung, yakni sebuah alat musik dari bambu yang mengeluarkan bunyi seperti kendang yang dibuat sendiri. Ada juga alat-alat gamelan yang terbuat dari bambu, bambu yang dipakai adalah bambu biasa yang mudah ditemukan
II.4 KEDUDUKAN DALAM MASYARAKAT
Masyarakat sekitar sangat menerima kelompok budaya ini dengan baik, karena kampung tempat saung ini berada mayoritas berpenduduk pelaku seni dari beragam aliran seperti kecapi suling, calung, dll sehingga masyarakat sekitar menerima dengan baik keberadaan Saung Mang Dedi, bahkan saat Saung Mang Dedi berlatih menggunakan pengeras suara dan sound system pun, tidak ada warga yang protes ataupun komplain, mereka menikmati apa yang Saung Mang Dedi sajikan.
II.5 PENDAPAT ANGGOTA KELOMPOK
Novianty seorang mahasiswa Universitas Sebelas April Sumedang jurusan Sastra Inggris, merupakan salah satu anggota Komunitas Saung Mang Dedi yang berkedudukan sebagai Juru Kawi atau vokalis. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan Saung Mang Dedi sangat bermanfaat bagi banyak orang, termasuk dirinya, karena komunitas ini mampu mewadahi kesenian kasundan dan mengangkat lagi seni tradisional yang terkadang dianggap remeh oleh sebagian orang. Selain itu, komunitas ini mampu menjadi sebuah tempatnya berkreasi, khususnya dalam hal menyanyi. Meski dalam kelompok ini tidak dibuat aturan tertulis, para anggota kelompok ini otomatis menjaga etika dan tingkah lakunya karena anggota kelompok ini terdiri dari berbagai usia.
II.6 PENDAPAT MASYARAKAT
Arief Septian Budianto, warga yang bekerja sebagai Estimator Biaya Kontraktor Bangunan sekaligus Mahasiswa Universitas Langlang Buana Bandung mengatakan bahwa Komunitas Saung Mang Dedi sangat berguna untuk para anak muda yang ingin lebih mengetahui tentang seni sunda. Apalagi di zaman sekarang dimana anak muda lebih mencintai gadget mereka daripada budaya tradisionalnya, keberadaan saung ini membantu agar anak muda tidak hanya mencintai gadget tapi juga mencintai seni.
BAB III
KESIMPULAN
Komunitas Saung Mang Dedi merupakan komunitas kesenian tradisional sunda yang mampu mengangkat dan menghidupkan kembali seni tradisional sunda. Meski sering dianggap remeh dan kurang menarik, komunitas ini mampu mempertahankan eksistensinya dan mewadahi warga dari segala usia untuk mengembangkan bakat seni kasundannya.
Melambaikan tangan – Arief Suditomo melambaikan tangan pada penonton yang menghadiri program talk show “Mata Najwa On Stage” di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, Jumat (13/3). Acara bertajuk “Sidang Rakyat” yang diikuti ribuan mahasiswa ini menghadirkan sejumlah anggota DPR sebagai narasumbernya
Seorang penumpang berada di kereta jurusan Purwakarta yang akan berangkat dari stasiun Rancaekek (4/4). Menurut Aulia (30) petugas pengatur perjalanan kereta, harga tiket yang melonjak naik sejak 1 April lalu tidak menurunkan minat masyarakat untuk naik kereta, kereta masih dianggap sebagai salah satu transportasi yang cepat dan murah.
Wahyu (28) warga Ciromed, Jatinangor pada Sabtu (14/3). Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh itu setiap akhir minggu mencari rumput hijau untuk pakan domba-dombanya, ia biasa mencari rumput di area sekitar belakang gedung Rektorat Universitas Padjadjaran di Jl. Jatinangor Km 21 Sumedang. Menurutnya, area belakang rektorat yang hijau dan banyak dipenuhi rumput liar tersebut adalah tempat yang pas untuk mencari pakan ternaknya.
Ditengah beres-beres kamar gak sengaja nemu puisi yang ditulis dengan tulisan beragam, sebagian pake pena dan sebagian lainnya pake pensil. Jenis font-nya pun beda-beda.
Ternyata ini hasil iseng wanita-wanita kesepian di tengah entah mata kuliah apa. Mungkin dibuat untuk menghindari kantuk. Kemudian sayang buat disimpan sendiri. Karena ada jeritan kesepian, kelaparan, dan keinginan punya handphone baru di dalamnya. Mari disimak!
Terusin Puisi
Cintaku tak akan mati (Yeni)
Tak akan terkikis oleh waktu (Meilia)
Aku ingin mati (Vera)
Meninggalkan semua kenangan ini (Suci)
Bersamamu pergi jauh (Yeni)
Melupakan semua tentangmu (Meilia)
Meninggalkan segala harapan (Vera)
Semua hilang.... Semua sirna.... (Suci)
Bersama angin terbang ke awan (Yeni)
Tak akan pernah kembali (Meilia)
Tak kan pernah tergantikan (Vera)
Selamanya hilang tak tahu arah (Suci)
Sekarang aku sedang kelaparan (Yeni)
Kelaparan cinta karena mu (Meilia)
Kehausan oleh kasih mu (Vera)
Rindu akan kehangatan mu (Suci)
Aku kesulitan mencari dirimu (Yeni)
Karena tidak memiliki GPS (Meilia)
Aku mau handphone baru (Vera)
Dengan fasilitas lengkap (Suci)
Harga murah dan layar sentuh (Yeni)
Namun, adakah hal yang seperti itu? (Meilia)
Yang sampai kapan pun takkan menggantikan dirimu (Vera)
Kuinginkan itu... (Suci)
Karya: Yeni, Meilia, Vera, Suci.
Suatu Siang di Semester Dua.
Terakhir ngepost di blog kok raanya tentang akhir semester 1, nah ini udah akhir semester 2 aja hehe. Maafkan diri ini belum menyempatkan waktu buat ngurus blog ini :”
Alhamdulillah sudah di penghujung semester 2. Urusan akademik alhamdulillah juga sudah tuntas semua (urusan kepanitiaan apa kabar?). Alhamdulillah banget nilai sudah keluar semua dan alhamdulillah tidak ada mata kuliah yang…