SEBELUM TIBA
Tak ada yang sempat berkata apa pun.
Yang terdengar hanya suara yang terlalu besar untuk dipahami oleh manusia. Bukan ledakan. Bukan dentuman. Sesuatu di antaranya. Suara ketika besi dipaksa berhenti oleh besi lain yang tak sempat mengalah.
Lalu semuanya berpindah tempat dalam satu hentakan.
Lantai menjadi dinding. Dinding menjadi lantai.
Tubuh terlempar tanpa sempat tahu ke arah mana harus melindungi diri.
Tas melayang. Kaca pecah ke segala arah. Pegangan tangan berubah fungsi menjadi benda yang menahan, atau justru menghantam.
Tak ada yang duduk di kursinya lagi.
Kursi-kursi itu sendiri tak lagi berada di tempatnya. Sebagian terlipat. Sebagian menindih. Sebagian patah seperti sendi yang dipaksa menekuk ke arah yang tak pernah dirancang.
Di sela logam yang saling tumpang tindih, ada suara yang paling kecil tapi paling sulit dilupakan.
Napas yang tercekat.
Seseorang mencoba memanggil nama, tapi suaranya tertahan oleh debu dan bau panas yang tiba-tiba memenuhi paru-paru.
Besi yang bergesekan memiliki bau yang khas. Tajam. Hangus. Seperti hujan yang jatuh di atas rel panas. Hanya saja ini bukan hujan dan rel itu tak lagi utuh. Kereta itu lebih gelap dari biasanya.
Gelap datang bukan karena malam, tapi karena posisi tubuh tak lagi tahu di mana atas dan bawah.
Seorang perempuan membuka mata dan yang ia lihat bukan langit-langit gerbong, tapi sepatu seseorang yang menekan bahunya. Ia tak tahu itu sepatu siapa. Ia hanya tahu dadanya sulit mengembang.
Di dekatnya, seseorang tampak tak bergerak. Satu tangan masih memeluk tas berisi bekal untuk bayinya. Sesuatu yang ia jaga lebih erat daripada nyawanya sendiri. Sementara di tangan yang lain, layar gawainya menyala menampilkan pesan yang belum sempat dibalas.
Tak ada teriakan panjang.
Yang ada hanya potongan suara pendek.
Tolong. Aduh. Oh, Tuhan...
Lalu hening yang patah-patah.
Di luar, orang-orang berlari mendekat. Tapi di dalam gerbong itu, waktu sudah terlanjur pecah. Tak lagi berjalan lurus. Ia tersebar di antara serpihan kaca, di antara besi yang tertekuk, di antara tubuh yang saling menahan berat yang tak seharusnya mereka pikul.
Dan di titik itu, hidup dan tidak hidup berada sangat dekat. Hanya dibatasi oleh satu napas yang berhasil lolos atau tidak.
Tak ada yang tampak seperti kecelakaan di film. Tak ada yang dramatis. Yang ada hanya kekacauan yang terlalu nyata untuk diberi nama.
Dan di tengah semua itu, satu hal terasa paling jelas.
Perjalanan itu tak pernah tiba.
Ia hanya berhenti dan membiarkan penumpangnya tertinggal di detik yang abadi.
*Turut berduka cita mendalam untuk para korban kecelakaan KRL-KA pada Senin, 27 April 2026.















