Ndrii.. semester lima itu menuju semester tua, masa sibuk sibuknyaaa..
Jika terasa berat, banyakin bermunajat bukan bermaksiat..
Jangan menambah beban dengan bermain dengan perasaan ya ndri..
Usaha dan doa nya diperbanyak. Semoga Allah kuatkan.. semangattt Bu guru masa depankuuu.. ingatt, belajar yang rajin. Biar nanti pas ditanyain muridmu, kamu bisa jawab. Kesempatan ga bisa diulang, gunakan sebaik mungkin yaaa...
Novel berjudul 1984 ditulis oleh George Orwell pada tahun 1948 untuk mengungkapkan keresahannya terhadap dunia tempat ia berada. Novel itu menceritakan Winston Smith, seorang anggota Partai Luar yang bekerja di Minitrue atau Kementrian Kebenaran. Distopia tempat novel ini terjadi dipimpin oleh seorang sosok tirani mahakuat, mahamelihat, dan amat berkuasa yang disebut dengan Bung Besar. Bung Besar digambarkan sebagai seorang pria berkumis tebal dan memiliki gaya bicara yang karismatik.
Dunia tersebut merupakan dunia terkekang yang mana para penghuninya telah kehilangan sepenuhnya apa itu arti kebebasan. Bahkan untuk mencuci otak para rakyatnya, ada program harian bernama Dua Menit Benci yang mempertontonkan video propaganda mengenai musuh bersama negara yaitu Emmanuel Goldstein, seorang yang tadinya berada di Partai Dalam Bung Besar namun akhirnya tersadar. Dua Menit Benci ini dilakukan untuk menanamkan kebencian mendalam dengan metode yang terus-menerus dan repetitif sehingga ideologi bahwa Bung Besar-lah yang benar dan pemikiran yang menentangnya harus dihancurkan tetap terpatri kuat dalam benak setiap rakyat.
Di novel ini, dunia telah terbagi menjadi tiga, yakni Oceania, Eastasia, dan Eurasia. Oceania tempat Winston tinggal dipimpin oleh tiga segmen partai: Partai Dalam penguasa seutuhnya dari seluruh lapisan masyarakat, Partai Luar yang berisi para pekerja terdidik, dan Partai Pekerja yang berisi kaum proletar atau kaum pekerja yang tidak mengenyam pendidikan. Partai-partai ini juga berfungsi sebagai kelas-kelas pemisah yang membedakan kondisi kehidupan masing-masing partai, kesenjangan sosial sangat terlihat antarpartai. Mulai dari kondisi perekonomian, pendidikan, hingga perwujudan keseharian.
Bung Besar mengontrol segala aspek kehidupan rakyatnya lewat teknologi bernama teleskrin, sebuah layar berbentuk televisi berisi kamera yang diletakkan di setiap sudut kota, rumah warga, bahkan kamar mandi. Jangankan untuk melakukan tindakan yang bersifat menentang Bung Besar, memikirkannya saja merupakan sebuah perilaku kriminal yang pantas mendapatkan ganjaran hukuman kematian. Pengawas dari pemikiran-pemikiran tersebut adalah mereka yang dinamakan Polisi Pikiran (Thought Police).
Konflik bermula saat Winston mulai menuliskan apa yang ada dipikirannya dalam sebuah diari, apa yang ia tulis adalah keresahannya terkait kehidupannya. Betapa ia merasa bahwa mendapatkan hiburan dari pembantaian warga Yahudi adalah sesuatu yang salah, dan bahwa meluapkan amarah yang begitu besar setelah menonton Dua Menit Benci adalah sesuatu yang sesungguhnya hanya sebuah hal yang sifatnya mandatory saja. Pada akhirnya terungkap bahwa ia telah diawasi selama tujuh tahun oleh seseorang yang ia anggap sekutunya dan akhirnya ia dipenjara di Miniluv atau Kementrian Cinta Kasih dan disiksa habis-habisan sampai ia kembali lagi mampu melakukan pemikiran ganda. Pemikiran ganda adalah suatu keadaan di mana seseorang bisa menerima dua kebenaran yang sejatinya bertentangan. Meski ia tahu salah satunya salah, ia tetap harus menerimanya sebagai sebuah kebenaran karena Bung Besar menyuruhya demikian.
Brave New World
Brave New World adalah novel karya Aldous Huxley yang menceritakan sebuah distopia di masa depan di mana produksi manusia bukan lagi melalui cara tradisional yang melewati masa pembuahan dalam kandungan, melahirkan, dan tumbuh kembang sesuai apa yang kita alami sekarang. Manusia dibentuk melalui proses industri yang memanfaatkan teknologi. Manusia didesain sejak awal pembuatannya didesain sedemikian rupa agar memenuhi lima tingkat kelas manusia, Alfa-plus sebagai kelas tertinggi, Beta, Gama, Delta, dan Epsilon. Espsilon adalah kaum pekerja yang memiliki kasta terendah. Penggolongan ini sudah dimulai dan dibentuk sejak mereka masih berada dalam tabung hingga lahir dan dewasa. Saat dalam tabung, epsilon yang akan ditempatkan di tempat bersuhu dingin misalnya, akan terus menerus dipapar dengan suhu luar biasa dingin dan sesekali diberi suhu hangat agar mereka menganggap suhu hangat sebagai sebuah kondisi mewah dan mengapresiasinya. Mereka juga diberi doktrin lewat hipnopedia selama bertahun-tahun saat mereka tidur, dalam pelajaran tersebut secara berulang dan terus-menerus mereka dibisiki kata-kata yang intinya mengajarkan mereka untuk melakukan prejudice terhadap semua kasta lain dan bagaimana ia harus memandang kastanya. Karena itulah, masing-masing kasta akan merasa nyaman dengan kelasnya dan tidak pernah terbesit niat sedikitpun untuk merasa iri dengan kasta lain karena doktrin ini sudah tertanam begitu dalam di benak mereka.
Konflik terjadi ketika seorang alfa plus bernama Bernard Marx merasakan rasa-rasa yang seharusnya tidak ia rasakan, ia mulai muak dengan obat rekreatif bernama Soma dan bosan dengan kehidupan seks hiburan yang bisa dilakukan dengan siapa saja di dunia itu. Saat ia mengunjungi penangkaran para kaum Liar, ia bertemu dengan John si Liar dan menemukan fakta bahwa sang direktur Ford, yang ternyata pernah memiliki anak dengan proses alami, sebuah hal yang amat dipandang menjijikan oleh manusia-manusia di negara itu. Itu membuat Bernard mampu menggulingkannya dan Bernard tidak lagi menjadi Bernard yang tersisih.
Pada akhirnya John yang merupakan wujud nyata ancaman stabilitas Ford turut terbawa alur dalam pengonsumsian Soma, dunia yang serba industri dan sebuah pesta seks yang membuatnya akhirnya turut terseret dalam lingkup kehidupan Brave New World.
Teori Ekonomi Politik
Memandang kedua novel ini dari sisi teori ekonomi politik yang diungkapkan oleh Vincent Mosco, yaitu sebuah studi mengenai hubungan sosial, hubungan kekuatan yang satu sama lain berhubungan dan membentuk produksi, distribusi, dan konsumsi dari sumber daya termasuk komunikasi. Membuat kita sadar bahwa kedua dunia yang digambarkan dalam novel ini sangat mungkin terjadi di dunia kita.
Terlebih Orwell membuat sang Bung Besar sebagai personifikasi gabungan antara sosok Hitler dan Lennin. Dunia ini pernah berada di tangan para diktator totaliter yang memimpin ala Big Brother. Di Indonesia sendiri saat era Soeharto juga kita sudah mulai mengalami keterbatasan dalam mengungkapkan pendapat dan ketidakterbukaan dalam berkomunikasi.
Posisi Winston dalam Minitru yang tugasnya mendistorsi berita agar sesuai dengan keinginan penguasa juga amat mirip dengan masa pemerintahan Soeharto di mana media yang berkata buruk tentang pemerintah akan dibredel dan ditutup. Tanpa sadar kita memiliki Bung Besar versi kita sendiri.
Dalam 1984 sendiri, pemaksaan masyarakat untuk menggunakan newspeak merupakan wujud dari teori Bahasa dan Kekuasaan, di mana pemerintah berusaha membentuk pikiran, sikap, dan opini rakyat melalui bahasa yang cenderung opresif dan mereduksi makna menjadi sederhana dan sesuai keinginan penguasa.
Dalam 1984 kata-kata kontradiktif yang ironis juga memenuhi kabinet milik Bung Besar, di mana Miniluv sama sekali tidak menunjukkan cinta kasih, Minitru justru menyebarkan kebohongan, Kementrian Perdamaian yang justru mengobarkan peperangan, dan sebagainya. Di Brave New World, pengaruh bahasa juga ditanamkan melalui kesan-kesan horor dan menjijikan tentang konsep keluarga, kelahiran alami, dan konsep-konsep dunia sebelum Ford.
Itu semua dilakukan agar warga tetap bertahan sesuai dengan ideologi yang para pemimpin mereka berikan.
Sementara di Brave New World manusia seolah tidak diberi kesempatan untuk menemukan dan memilih takdirnya sendiri. Dengan membisikkan doktrin-doktrin sejak mereka masih kecil merupakan bentuk dari permainan Tuhan oleh para penguasa. Manusia telah benar-benar kehabisan dan kehilangan kebebasannya atas dirinya, terlebih ungkapan dalam buku tersebut yang menyatakan bahwa seseorang adalah milik semua orang dan bekerja pada semua orang. Manusia tidak lagi memiliki otoritas diri.
Maka dari itu, mengingat betapa mengerikannya dunia distopia seperti yang tergambar dalam kedua novel ini, saya berharap manusia akan cukup waras dan bijak dalam memanfaatkan teknologi serta kekuasaan agar mimpi buruk hasil kekuasaan para diktator yang terjadi beberapa puluh tahun lalu tidak akan terulang lagi.
Daftar pustaka:
Huxley, Aldous. 2015. Brave New World. Yogyakarta: Penerbit Bentang
Kekerasan Terhadap Perempuan: Akademisi Hingga Birokrasi
(Foto: Muji Rahayu)
Moderator dan para pembicara dalam seminar Women Empowerment, (dari kiri ke kanan) Erna Herawati, Direktur Eksekutif Lentera Sintas Indonesia Wulan Danoekusumo, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan kabinet Indonesia Bersatu, Prof. Dr. Meutia Hatta, Aktivis Pemberdayaan Perempuan Bandung Yulia Suryamah, dan Dosen dan Aktivis Hak-hak Perempuan Antik Bintari, S.IP, M.T.
Hasil riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan seksual, 93% di antaranya tidak pernah lapor karena malu dan 72% lainnya tidak pernah bercerita tentang kejadian yang dialaminya. Di Indonesia sendiri, data Komnas Perempuan pada 2015 mencatat bahwa setiap dua jam tiga perempuan mengalami kekerasan seksual.
Berangkat dari data itulah Huria Mahasiswa Antropologi Universitas Padjadjaran (Human Unpad) mengadakan sebuah seminar dengan tajuk Women Empowerment pada Jumat (18/11) lalu, di Bale Sawala, Universitas Padjadjaran, Jatinangor.
“Karena banyaknya fenomena sosial berbentuk tindakan kekerasan seksual yang masih terjadi dan masih menyalahkan para perempuan,” tutur Valentina Wijayanto, Ketua Pelaksana seminar ini saat ditanya mengenai alasan dipilihnya tema tersebut.
Seminar ini mengundang mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Prof. Dr. Meutia Farida Hatta, Direktur Eksekutif Lentera Sintas Indonesia Wulan Danoekusumo, Dosen dan aktivis Hak-hak Perempuan Antik Bintari, serta aktivis pemberdayaan perempuan Bandung Yulia Suryamah.
Dalam paparannya, Wulan mengatakan keprihatinannya terhadap kurangnya pemahaman masyarakat tentang apa itu kekerasan seksual.
“Sering kali kekerasan seksual disamakan dengan tindak perkosaan saja dan tidak mencakupkan berbagai macam kekerasan dalam bentuk ucapan, sentuhan, atau bentuk lain yang tidak meninggalkan jejak fisik,” ujar Wulan.
Lebih lanjut Wulan menegaskan, ketika tindakan seksual atau komentar seksual (termasuk cat-calling) ditujukan kepada mereka yang tidak memberikan consent atau persetujuan, itu sudah termasuk pada ranah pelecehan.
Wulan juga menyayangkan aturan hukum di Indonesia yang belum ramah terhadap korban pelecehan seksual. Di Indonesia, kasus perkosaan baru bisa diproses secara hukum jika ada pembuktian fisik berupa visum. Visum tersebut dapat dilakukan dalam kurun waktu maksimal 72 jam dengan catatan bahwa si korban tidak ganti baju, tidak mandi, tidak buang air besar, tidak buang air kecil, tidak wudhu, tidak mandi, atau tidak membersihkan diri dengan bentuk apapun.
“Bayangkan, jika kita sedang berjalan di pinggir jalan dan kecipratan air saja kita langsung ingin membersihkan diri, nah apalagi jika mengalami kekerasan seksual? Ini lah yang masih disayangkan, masih perlu penyelarasan pemahaman terhadap aparat hukum kita agar bisa terbentuk kebijakan yang ramah terhadap korban pelecehan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diberikan oleh aparat kepada korban yang melapor juga sering kali memiliki kecenderungan victim blaming, seperti apa yang ia kenakan saat kejadian? Sependek apa rok-nya? Mengapa sendirian? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sifatnya menyudutkan. Menurutnya, hal ini lah yang menjadi salah satu faktor penyebab enggannya korban melaporkan tindak kekerasan seksual yang ia alami, karena bukannya mendapat keadilan hukum, ia justru disalahkan.
Budaya Patriarki
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada Kabinet Indonesia Bersatu, Meutia Farida Hatta dalam paparannya menyebutkan bahwa kekerasan seksual di Indonesia tidak lain adalah bentuk perwujudan dari budaya patriarki. Kaum laki-laki yang masih memandang perempuan sebagai makhluk yang memiliki status lebih rendah dari mereka, dengan mudah memaksa perempuan untuk tunduk pada dominasi kaumnya. Pun perempuan sendiri yang sejak kecil sudah diajarkan untuk menurut dan patuh terhadap lelaki, mereka pasrah dan tidak menuntut keadilan karena merasa bahwa seperti itulah kodrat mereka.
“Tentu di dalam kehidupan kita, perempuan tidak bisa dibiarkan mengalami kondisi seperti ini,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta tersebut.
Fenomena ini juga ia pandang dari kacamatanya sebagai akademisi dan birokrat. Akademisi dituntut untuk tidak hanya mampu mengidentifikasi masalah tersebut, melainkan juga menemukan solusinya.
“Pola pikir yang seharusnya telah lama ditanggalkan karena menghambat dan merugikan perempuan, justru masih berlaku atau diaktifkan kembali atas dasar pertimbangan sosial-budaya, ekonomi dan politik,” tulis Meutia pada slide presentasinya.
Memandang isu ini dari sisi birokrat menurutnya adalah hal yang tidak kalah pentingnya, berdasar pada pengalamannya yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia menjabarkan poin-poin penting mengenai hal itu. Satu di antaranya adalah tentang betapa pentingnya peran negara dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan yang mencakup segala aspek, termasuk mempermalukan perempuan, merendahkan derajatnya, memperdayakannya, membuatnya kehilangan harga diri, kehormatan, kemartabatan, serta kerugian (dan cedera) fisik dan material.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan menurutnya adalah dengan mengubah pola pikir masyarakat tentang budaya patriarki, menghentikan eksploitasi seksual kepada anak perempuan, meningkatkan peran media dalam menyebarluaskan berita yang benar dan memberi kesadaran akan bahaya kekerasan terhadap perempuan, serta meningkatkan kerjasama antarlembaga agar program-program dan aturan hukum lebih ramah terhadap perempuan.
Franz Kafka meninggal pada 3 Juni 1924 di rumah sakit rehabilitasi penyakit tuberkulosis di kota Schelesen tempat ia di rawat. Penyebab meninggalnya adalah menutupnya tenggorokannya yang membuatnya kesulitan untuk menelan makanan hingga ia mati kelaparan. Sebelum ia meninggal, ia tengah mengerjakan proses menyunting dari ceritanya yang berjudul Seorang Seniman Lapar. Sementara itu, Brief an den Vater atau Surat untuk Ayah ia tulis lima tahun sebelumnya.
Surat untuk Ayah sendiri adalah versi bahasa Indonesia dari buku tersebut yang diterjemahkan oleh Sigit Susanto 97 tahun kemudian. Buku ini merupakan sebuah surat panjang setebal 105 halaman yang Franz tulis dengan tangan. Dari judulnya saja, kita akan tahu bahwa surat ini tentu saja ia dedikasikan untuk ayahnya, Hermann Kafka. Dengan surat ini Franz sebetulnya berharap agar jarak antara ia dan ayahya dapat tertutup dan mereka bisa berdamai. Dengan cita-cita seperti itulah mengapa ia memberanikan diri untuk menitipkan surat itu kepada Ibunya untuk diberikan pada ayahnya. Sayangnya surat itu tak pernah sampai di tangan Hermann.
Tentu ada alasan kuat mengapa Franz sampai khusus membuat sebuah tulisan panjang hanya untuk ayahnya, terlahir di keluarga Yahudi kelas menengah di kota Praha, peran dan dominasi ayahnya sangat terasa di setiap aspek kehidupannya. Peran yang justru dalam penggambarannya membuat Franz terasa terpenjara dan terkurung dalam bayang-bayang sang ayah.
Meski ditulis dengan gaya bersurat dan merupakan sebuah curahan hati seorang Franz Kafka kepada ayahnya, buku ini justru sangat efektif berperan sebagai sebuah otobiografi dirinya. Seiring dengan penceritaan dan “curhatan” Franz, kita bisa melihat setiap lembar kehidupan Franz terurai dalam tulisan. Tidak hanya masa kecilnya, ayahnya hadir di setiap langkah tumbuh kembangnya hingga ia dewasa – bahkan hadir pula sebelum kematiannya.
Pria dengan Daddy Issues
Dunia modern selalu mengaitkan permasalahan dengan sosok ayah atau yang populer disebut sebagai Daddy Issues dengan kaum perempuan, sebuah pengaitan yang seksis dan merugikan kaum pria karena mereka dipaksa untuk tetap kuat dan tidak boleh tunduk oleh cobaan hidup dan tekanan mental yang disebabkan oleh masalah dengan sosok ayah. Namun demikian, Franz tidak malu mengakui hal tersebut. Sejak awal tulisannya, Franz sudah secara terang-terangan mengatakan bahwa ia takut dengan ayahnya, bahwa ia selalu merasa tidak cukup, bahwa ia tidak bisa memenuhi standar sebagai seorang pria Kafka, bahwa ia sering merasa amat minder dengan bentuk tubuhnya yang kurus kerempeng dibanding dengan sang ayah yang gagah perkasa – Franz tidak malu untuk mengakui bahwa ia tidak nyaman dengan hal itu.
“Aku kehilangan kepercayaan diriku setiap kali berhadapan denganmu, menggantikannya dengan rasa bersalah yang tak terhingga (hlm. 34)”
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa rasa insecurities serta kerapuhan yang disebabkan oleh perlakuan ayahnya seumur hidupnya selalu berlaku sebagai sesuatu yang mengekang dirinya dan membuatnya memiliki penghargaan yang terlalu rendah atas dirinya. Meski demikian, Franz mengaku tidak pernah bisa berhenti mencintai ayahnya, ia selalu memandangnya sebagai panutan, panutan yang mengerikan.
Hubungan pasif-agresif dengan sang ayah tersebut selalu ia paparkan melalui kalimat-kalimatnya yang terkadang penuh dengan kesan rajukan layaknya anak kecil hingga argumen-argumen jenius hasil dari pendidikan hukumnya di Sekolah Lanjutan Jerman, Praha.
Kekerasan emosional yang selalu ia rasakan agaknya takkan pernah ia lepaskan dari dirinya. Ibarat bayangan, ekspresi meremehkan dan merendahkan dari sang ayah tak pernah sepenuhnya bisa Franz tinggalkan. Hal tersebut ia jelaskan pada halaman 24, Franz menulis:
“… Aku melarikan diri dari semua hal yang bahkan sedikit mengingatkanku kepadamu.”
Metode didikan dari ayahnya yang terlampau keras dan cenderung abusive dari tahun ke tahun menggunung dan menebal dalam diri Franz. Surat inilah yang pada akhirnya menjadi pelampiasan segala perasaan-perasaan tersebut.
Meski ditulis hampir seratus tahun yang lalu, hingga kini Surat untuk Ayah masih bisa diterapkan dan digunakan sebagai bahan referensi dalam bersikap. Terlebih di dunia yang masih memandang bahwa standar pria sesungguhnya adalah pria maskulin tanpa emosi yang tidak boleh merasakan perasaan apapun.
Wujud personifikasi budaya patriarki dan konstruk sosial sosok maskulin yang diwujudkan dalam sosok Hermann Kafka adalah ketakutan terdalam yang sering menghantui banyak pria-pria di seluruh dunia. Ketakutan bahwa mereka tidak cukup kuat, tidak cukup maskulin, dan ketidakcukupan-ketidakcukupan lain yang selalu disangkutpautkan dengan sosok laki-laki.
Pada akhirnya, seperti Franz yang mencari jalur perdamaian melalui suratnya, setiap individu dibebaskan untuk memilih jalan mencapai kedamaian sesuai pilihannya. Perihal apakah upaya berdamai dengan diri tersebut akan berhasil atau tidak, adalah urusan untuk nanti, seperti ucapan Franz: “Hidup lebih dari sekadar permainan yang menguji kesabaran.”
Daftar pustaka:
Kafka, Franz. 2016. Surat untuk Ayah. Kendal: Komunitas Lereng Medini.