Kesehatan jiwa atau mental itu seyogianya jauh lebih penting.
Semakin berumur semakin sadar deh kalo kesehatan itu bukan cuma fisik. Sering banget aku dengar orang bilang "aku tuh sehat", iya, fisiknya sehat, tapi what's in your mind, not really.
Banyak juga yang punya mindset kalo kesehatan kita itu bisa baik-baik aja HANYA dengan minum vitamin dan makan sehat. Oh no no, bukan begitu Esmeralda... Di dunia ini, sayangnya, enggak ada tuh yang bisa berdiri sendiri hanya dengan kata-kata "cuma/hanya". Yaah, sejauh 31 tahun aku hidup di dunia ya, enggak ada suatu hal yang bisa berdiri sendiri begitu aja.
Misal, "aku bisa hidup bahagia dengan HANYA beriman pada Tuhan", lah? terus enggak berdoa? enggak melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan di dunia??
"aku bisa kok tetap sehat, kan kerja di rumah aja, CUMA duduk walaupun 13-14jam enggak beranjak sama sekali. Lah? terus enggak makan sehat? duduk berjam-jam itu sama sekali enggak sehat. Terus engga istirahat gitu??"
Nah, kalo begitu ilustrasinya, udah mulai nangkep dong ya? Maka dari itu, kata-kata "cuma/hanya" ini sebenanya menjebak banget. Jahat, udah kaya lingkaran setan aja gitu. Mendadak "ilang" aja tuh hal baik lainnya di hidup.
Oke, balik lagi ke kesehatan. Jadi, saat kita ngerasanya kalo badan kita baik-baik aja, udah makan sehat, ada olahraga juga seminggu beberapa kali, dan minum multivitamin segambreng, ENGGAK BISA DIPASTIIN kalo mental kita juga sehat. Bagus kalo iya, tapi kalo enggak ada istirahat, enggak ada kapasitas di dalam otak untuk memikirkan hal lain yang berguna (enggak cuma satu hal yang jadi fokus ya), kesehatan mental kita apa kabar deh?
Kita harus mulai memikirkan hidup yang balance, antara kesehatan fisik dan mental. Ok, aku revise sedikit tulisan di atas yang bilang seyogianya kesehatan mental lebih penting, enggak ya gengs, KESEHATAN secara menyeluruh itu penting. TAPI, kesehatan mental itu berpengaruh besar di kesehatan fisik kita.
Ok ok, mana hasil risetnya? adalah lah pokoknya, aku pernah baca beberapa artikel tentang itu, ya kalian cari sendirilah ya, udah gede kan, bisa googling pake gawai kalian yang katanya smart itu. Eh, maaf kok jadi nyolot..
Yes, intinya ini adalah tulisan sebagai muntahan uneg-uneg aku. Entah nyambung atau engga, bermanfaat bagi kalian atau engga, intinya ini bermanfaat buat aku karena kalo aku enggak keluarin uneg-uneg ini jadinya nanti kesehatan mental aku makin terganggu.
Hmm, apa ke psikiater aja ya abis ini?
Well, sampe bertemu di uneg-uneg selanjutnya, yuk ah, dengarkan akuu, dong!!
Kekerasan Terhadap Perempuan: Akademisi Hingga Birokrasi
(Foto: Muji Rahayu)
Moderator dan para pembicara dalam seminar Women Empowerment, (dari kiri ke kanan) Erna Herawati, Direktur Eksekutif Lentera Sintas Indonesia Wulan Danoekusumo, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan kabinet Indonesia Bersatu, Prof. Dr. Meutia Hatta, Aktivis Pemberdayaan Perempuan Bandung Yulia Suryamah, dan Dosen dan Aktivis Hak-hak Perempuan Antik Bintari, S.IP, M.T.
Hasil riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan seksual, 93% di antaranya tidak pernah lapor karena malu dan 72% lainnya tidak pernah bercerita tentang kejadian yang dialaminya. Di Indonesia sendiri, data Komnas Perempuan pada 2015 mencatat bahwa setiap dua jam tiga perempuan mengalami kekerasan seksual.
Berangkat dari data itulah Huria Mahasiswa Antropologi Universitas Padjadjaran (Human Unpad) mengadakan sebuah seminar dengan tajuk Women Empowerment pada Jumat (18/11) lalu, di Bale Sawala, Universitas Padjadjaran, Jatinangor.
“Karena banyaknya fenomena sosial berbentuk tindakan kekerasan seksual yang masih terjadi dan masih menyalahkan para perempuan,” tutur Valentina Wijayanto, Ketua Pelaksana seminar ini saat ditanya mengenai alasan dipilihnya tema tersebut.
Seminar ini mengundang mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Prof. Dr. Meutia Farida Hatta, Direktur Eksekutif Lentera Sintas Indonesia Wulan Danoekusumo, Dosen dan aktivis Hak-hak Perempuan Antik Bintari, serta aktivis pemberdayaan perempuan Bandung Yulia Suryamah.
Dalam paparannya, Wulan mengatakan keprihatinannya terhadap kurangnya pemahaman masyarakat tentang apa itu kekerasan seksual.
“Sering kali kekerasan seksual disamakan dengan tindak perkosaan saja dan tidak mencakupkan berbagai macam kekerasan dalam bentuk ucapan, sentuhan, atau bentuk lain yang tidak meninggalkan jejak fisik,” ujar Wulan.
Lebih lanjut Wulan menegaskan, ketika tindakan seksual atau komentar seksual (termasuk cat-calling) ditujukan kepada mereka yang tidak memberikan consent atau persetujuan, itu sudah termasuk pada ranah pelecehan.
Wulan juga menyayangkan aturan hukum di Indonesia yang belum ramah terhadap korban pelecehan seksual. Di Indonesia, kasus perkosaan baru bisa diproses secara hukum jika ada pembuktian fisik berupa visum. Visum tersebut dapat dilakukan dalam kurun waktu maksimal 72 jam dengan catatan bahwa si korban tidak ganti baju, tidak mandi, tidak buang air besar, tidak buang air kecil, tidak wudhu, tidak mandi, atau tidak membersihkan diri dengan bentuk apapun.
“Bayangkan, jika kita sedang berjalan di pinggir jalan dan kecipratan air saja kita langsung ingin membersihkan diri, nah apalagi jika mengalami kekerasan seksual? Ini lah yang masih disayangkan, masih perlu penyelarasan pemahaman terhadap aparat hukum kita agar bisa terbentuk kebijakan yang ramah terhadap korban pelecehan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diberikan oleh aparat kepada korban yang melapor juga sering kali memiliki kecenderungan victim blaming, seperti apa yang ia kenakan saat kejadian? Sependek apa rok-nya? Mengapa sendirian? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sifatnya menyudutkan. Menurutnya, hal ini lah yang menjadi salah satu faktor penyebab enggannya korban melaporkan tindak kekerasan seksual yang ia alami, karena bukannya mendapat keadilan hukum, ia justru disalahkan.
Budaya Patriarki
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada Kabinet Indonesia Bersatu, Meutia Farida Hatta dalam paparannya menyebutkan bahwa kekerasan seksual di Indonesia tidak lain adalah bentuk perwujudan dari budaya patriarki. Kaum laki-laki yang masih memandang perempuan sebagai makhluk yang memiliki status lebih rendah dari mereka, dengan mudah memaksa perempuan untuk tunduk pada dominasi kaumnya. Pun perempuan sendiri yang sejak kecil sudah diajarkan untuk menurut dan patuh terhadap lelaki, mereka pasrah dan tidak menuntut keadilan karena merasa bahwa seperti itulah kodrat mereka.
“Tentu di dalam kehidupan kita, perempuan tidak bisa dibiarkan mengalami kondisi seperti ini,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta tersebut.
Fenomena ini juga ia pandang dari kacamatanya sebagai akademisi dan birokrat. Akademisi dituntut untuk tidak hanya mampu mengidentifikasi masalah tersebut, melainkan juga menemukan solusinya.
“Pola pikir yang seharusnya telah lama ditanggalkan karena menghambat dan merugikan perempuan, justru masih berlaku atau diaktifkan kembali atas dasar pertimbangan sosial-budaya, ekonomi dan politik,” tulis Meutia pada slide presentasinya.
Memandang isu ini dari sisi birokrat menurutnya adalah hal yang tidak kalah pentingnya, berdasar pada pengalamannya yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia menjabarkan poin-poin penting mengenai hal itu. Satu di antaranya adalah tentang betapa pentingnya peran negara dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan yang mencakup segala aspek, termasuk mempermalukan perempuan, merendahkan derajatnya, memperdayakannya, membuatnya kehilangan harga diri, kehormatan, kemartabatan, serta kerugian (dan cedera) fisik dan material.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan menurutnya adalah dengan mengubah pola pikir masyarakat tentang budaya patriarki, menghentikan eksploitasi seksual kepada anak perempuan, meningkatkan peran media dalam menyebarluaskan berita yang benar dan memberi kesadaran akan bahaya kekerasan terhadap perempuan, serta meningkatkan kerjasama antarlembaga agar program-program dan aturan hukum lebih ramah terhadap perempuan.
Mau nulis ini dari lama, tapi baru sempat sekarang.
Sudah banyak yang tahu belum kalau sekarang (2 tahun belakang) kompleks parlemen (MPR, DPR, DPD) sudah terbuka untuk umum? Semenjak adanya perencanaan Mengenai Parlemen Modern (Pemerintahan yang lebih transparan, lebih melek teknologi, serta ingin lebih dekat dengan masyarakat)
Nah jadi bagi teman-teman Mahasiswa, siswa sekolah dari SD, SMP, SMA, bahkan guru-guru bisa loh datang untuk mengunjungi kompleks parlemen di Senayan, Jakarta. Tentunya dengan prosedur yang berlaku yah. Silahkan buka dpr.go.id untuk informasi yang lebih lengkap. Di sana kalian yang ingin datang atau membawa rombongannya bisa mencatat nomor yang harus dihubungi (humas Setjen DPR RI bagi yang ingin mengunjungi gedung DPR RI).
Rombongan kalian juga bisa meminta Anggota Dewan dari Dapil (Daerah Pemilihan) kalian sebagai orang yang menerima kunjungan atau narasumber agar kalian juga bisa menyampaikan aspirasi, dan mengenal lebih dekat Wakil kalian di DPR tentunya. Cukup bilang saja ke Humas, nanti Humas yang akan melanjutkan menghubungi Anggota Dewan yang kalian ingini. Oleh sebab itu kalian harus tahu dulu siapa sih Wakil kalian di DPR. Dalam acara kunjungan, kalian akan mendengarkan materi dari narasumber mengenai mekanisme kerja DPR dan mengenal DPR lebih dalam. Lalu kalian akan diajak jalan-jalan mengelilingi Museum DPR dan Ruang Rapat Paripurna 1, tempat pelantikan Presiden, Wakil Presiden, dan Anggota DPR oleh Pranata Humas.
Untuk yang perorangan juga bisa, mau mengunjungi perpustakaan (DPR, MPR)? boleh. Mau melihat rapat-rapat terbuka? Bisa. Dengan catatan dan adanya surat izin “Meninjau”. Untuk surat bagian ini kalian bisa menghubungi bagian Protokol Setjen DPR RI. Mau mengadukan atau menyampaikan aspirasi? bisa, kalian bisa datang ke bagian pengaduan masyarakat. Mau meminta risalah atau nasah akademik perancangan Undang-undang? kalian bisa membuka dan mendaftar di ppid.dpr.go.id lalu membuat permohonan meminta data. Atau mau datang langsung ketemu sayaa? boleh hahahahaha.
Hayuk yang guru, ajak siswa/inya berkunjung ke DPR. Yang Mahasiswa, Anggota BEM. Yang ingin tahu sisi positif DPR bukan hanya sisi negatif DPR seperti yang terlihat di media, silahkan berkunjung :)))
oia ada yang lupa, kapasitas untuk rombongan maksimal 200 orang ya. kalau mau lebih, bisa, tetapi konfirmasi ke bagian Humas terlebih dahulu.
Ramadhan is here!
Woo-hoooo
Excited much?
As always… :”D
Setiap tahun gue welcoming Ramadhan dg sangat bahagia. Gue dapet buku agenda yg harus diisi tanda ceklis di puasa&sholat, trus nyatet isi ceramah di setiap sholat tarawih, minta tanda tangan penceramahnya sampe malem. Gue muter-muter naik sepeda abis subuh, dilemparin petasan ama bocah2 kampret, metikin buah ceri orang buat buka puasa (hmyaya-_-)
Terus abis mandi (& kadang ga sengaja sikat gigi) main monopoli, atoga main masak-masakan pake cabe-cabean sampe dzuhuur!
Tapi semuanya berubah sejak negara api menyerang.
Gue udah gede, udah SMP, udah dapet halangan…& idk why those are makes my Ramadhan not happy at all.
Sigh…
Apalagi sekarang gue mau SMA (cie cie), dan di awal puasa ini aja gue gabisa puasa. Gue gabisa ngerasain kalo ini udah bulan Ramadhan. How sad, isn’t it? And yeah, it’s been 2 years gue gadapet sholat idul fitri.
Selain itu, ada pulang kampung. The happiest thing in my Ramadhan (dulu…) and yes again, gue udah ga ngerasain pulkam itu bener2 asyiiik gitu. Kayak yg ‘oh pulkamnya besok? Yaudah’ as dont care much as that. Dulu juga gue gamau yg namanya pulang lagi ke rumah, rasanya pengen disitu aja terus. Malah waktu itu gue SD malemnya sedih banget sampe nangis diem2 HAHAHAHAHA gamau pulang. Kalo sekarang….rasanya pengen cepet2 pulang. Berangkat 1 hari sebelum lebaran, pulang 2 hari setelah lebaran.
Sigh….
And I must admit that I miss being a kid. Being a student in elementary. SO SO SO excited sama Ramadhan. Se-bahagia itu. Se-semangat itu. Se-full 1 bulan puasa itu. Se-sedih itu bulan Ramadhannya abis.
Your little hand's wrapped around my finger
And it's so quiet in the world tonight
Your little eyelids flutter cause you're dreaming
So I tuck you in, turn on your favorite night light
To you everything's funny, you got nothing to regret
I'd give all I have, honey
If you could stay like that
Oh darling, don't you ever grow up
Don't you ever grow up, just stay this little
Oh darling, don't you ever grow up
Don't you ever grow up, it could stay this simple
I won't let nobody hurt you, won't let no one break your heart
And no one will desert you
Just try to never grow up, never grow up
Gue maunya disini aja, gue remaja, ya walaupun labilnya subhanallah, ya walaupun gajelasnya naudzubillah, ya walaupun cantiknya masya Allah
That’s the happiest.
Atau mungkin balik lagi ke masa SD, ya walaupun gue buluk banget, tapi disitu gue ngerasain bahagia yg superfull di Ramadhan.
Dan gue menyadari sesuatu lagi…
Gue mau SMA.
Dan itu cuma 3 tahun, TIGA TAHUN. Gabakalan kerasa, ya kaya SMP ini. Dan abis itu, gue ngebayangin bakal ngerasain hidup yg sesungguhnya.
Ngeri…
Se-cepat itukah?
"Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah dijalanin."
:”’
Gimana kalo gue gajadi apa-apa dewasa nanti? Gimana kalo gue….
Gimana….
Gimana…
Gimana, gimana, gimana….ku harus mencari gimana…
Well then, masa kecil emang menyenangkan, tapi kita baru sadar itu saat kita sudah besar.
:’D
Anyway,
Happy fasting everyone! May our 30 (or 29?) fasting days ahead filled with a lot more of both blessings and bliss. :_)
Beberapa waktu lalu aku lagi seneng-senengnya sama lagu-lagu Taylor Swift dan lagi gencar-gencarnya untuk download semua lagunya, dan dalam salah satu lagunya yg berjudul ‘Ours’ disitu ada lirik yg aku suka sekaley untuk dinyanyikan yg berbunyi
”..And life makes love look hard…”
Trus aku mikir, kok BENER BANGET YA? hahahahahahahah paanziy. Disini ada hubungannya sama cinta, WHICH IS gaenak banget lah kalo aku omongin wkakakakaka. Tapiiii buat seumuran aku gini sih itu hubungannya sama doi/gebetan/kecengan/pacar oorrr whatever its called. Sok lah yg lagi baca dan seumuran sama aku (13/14/15 tahun) bener kan bener kaaanndd?? hahah maksa alay.
"Dan hidup membuat cinta terlihat sulit"? Yah, buat yg gebetannya beda kelas, pasti selalu cari celah buat ke kamar mandi dan ngelewatin kelas doi daaan tak lupa untuk MELIRIK, berharap si doi lagi ngeliat ke luar kelas juga, dan saling ngeliat! (HALAH). Yah, buat yg gebetannya beda kelas juga, berharap ada sesuatu yg membuat kelas-ku & kelas-nya, menjadi dekat. (HALAH HAHAHAHAH) Yah, buat yg gebetannya beda kota, cuma bisa berharap bakalan bisa ketemu lagi. Yah, buat yg gebetannya beda dunia…. KRIK KRIK KRIK…
Tapi trus mikir lagi, menurutku harusnya kebalikannya. Jadi kira-kira begini:
”.. And love makes life look hard..”
Hyahahahahah, me 100% agree! Wets kenapa begitu sis? (mohon gaada hubungannya dengan “sis cek ig kita yuk banyak flowercrown murah”) Karena disitu sesuai real life aku (dan sebagian remaja ((azek remaja)) lainnya), yg artinya kira-kira begini..
”..dan cinta membuat hidup terlihat sulit..”
..kan?
Iya, dan cinta membuat hidup terlihat sulit. Dan doi/gebetan/kecengan/pacar?! membuat semuanya terlihat sulit. Membuat semua pelajaran yg sedang dipelajari terbesit di benak “atuhlah susah banget ini!” dan membuat semuanya terlihat sulit (again, dan ribet, dan galau) setiap malem pasti “iih kok doi ga sms gue sih?” atau yg udah punya pacar bisa berantem trOOOOs, atau yg lagi adem ayem mikirnya “duh besok gue keliatan cantik gak ya di mata doi?” blablablablabla.
Apalagi yg mau UN gini (wets H min berapa nih bro?) susah banget kan ngilangin kebiasaan mikirin doi (dan diganti dengan mikirin cepat rambat gelombang atau enzim apa yg terdapat di lambung atau gradien dari 2x + 5y - 10= 0), aku juga berusaha kook (cie mikirin siapa tuh?) huhu galauin kasur di rumah nih belom kering gara gara diompolin. LAH.
Ayo dong sis and bro lupain lah tentang cinta, mumpung kita masih muda dan masih banyak waktu untuk mencari pengalaman, apaansi itu si cinta??? Makan tuh cinta! Kalo udah dewasa nanti gampang kok, selow brosis, selow.
seorang irfan rifa'i memang mempunyai kendala saat dia ingin mengungkapkan sesuatu yang ada di pikirannya dan yang ada di perasaannya, di sini mungkin satu media yang bisa ia lakukan untuk mengungkapkan segala sesuatu yang ia rasa harus utarakan secara tidak langsung .. .