*Tulisan ini sangat subjektif dan berisi curhatan :D
Sebelum menikah, mungkin ibu hafal sekali wacana belajar masak saya yang tidak pernah terealisasi bahkan menjelang pernikahan. Boro-boro belajar masak, persiapan teknis menjelang pernikahan lebih membuat saya terlena. Ibu saya dulu selalu berseloroh,
“Terus gimana nanti di rumah mertua? Pasti dikira ibunya nggak pernah ngajarin.”
“Mertuaku nanti baik kok Mi.” Begitu terus jawabanku, sekaligus berdoa.
Benar saja, menjelang pernikahan (pada saat itu masih calon–) ibu mertua saya bilang,
“Nggak usah takut, nggak usah sungkan. Nggak papa, nanti masaknya belajar aja sama ibu ya.” Rupanya ibu mertua saya menangkap kekhawatiran saya dengan baik.
Suami saya, pada masa PDKT itupun bilang ke orangtua saya–menegaskan bahwa bisa masak bukan sesuatu yang dia wajibkan untuk saya sebagai calon istri.
FIUH. Selameeet, selamet. wkwkwk
Dan tibalah saya menjadi seorang istri. Fulltime housewife.
Nggak kunjung belajar masak pada saat saya menjomblo adalah hal yang sangat saya sesali–tapi yaudahlah yaaa. HAHA. Daripada berandai-andai kenapa kok nggak belajar masak dari dulu-dulu, saya akhirnya belajar masak, yaa meski belajarnya baru setelah saya menikah. The power of marriage, eh kepepet maksudnya. hahaha.
Suami saya sih nggak pernah mewajibkan saya bisa/pinter masak. Tapi saya tahu dia lebih suka kalau saya masak. Jadi inilah ladang ibadah dan lahan belajar saya!
Hal yang unik dan challenging di rumah kami adalah, selera makan saya dan suami sangat berbeda. Suami doyan pedes, saya nggak. Suami makannya sayur mayur dan sedikit daging-dagingan, saya kebalikannya. Saya penggemar seafood, suami hanya bisa makan beberapa. Saya doyan masakan yang udah agak modern, selera suami sangatlah tradisional. Suami suka makanan bersantan, saya kalau ada pilihan yang lain lebih baik makan yang lain. Saya doyan buah-buahan, suami doyannya hanya beberapa–kebanyakan lebih suka kalau dijus. Daaaan masih banyak yang lain.
Saya pernah ada di titik terbawah-kenapa-kok-saya-buruk-sekali-di-dapur. Apalagi belajar menyukai/memasak makanan yang dasarnya kita nggak terlalu suka itu juga cukup susah. Heu. Nggak jarang ujungnya saya nangis, bukan masak. wkwkwk.
Pernah saya ingat betul, drama dapur yang bener-bener berurai air mata. Hahaha lebay syekali aku ni. Waktu itu suami saya sedang sakit. Badannya panas. Kelelahan bekerja. Maksud saya, biar deh saya masakin satu-dua masakan kesukaannya…yang terjadi adalah semua yang saya masak gagal total. Sayur yang pahit, bacem yang gosong, lalala yeyeye. Akhirnya saya cuma nyeplokin telur sambil nangis sedu-sedu dan dipukpuk sama Mas. Hahaha bukannya saya yang ngepukpukin dia-.- Tapi itu sedihhhh bangetttt. Huhu
Kenapa sih aku nggak jago-jago masak? Pertanyaan itu sering banget ada di kepala saya. Apalagi kalo ngebandingin sama orang lain yang udah jago aja masaknya. Bukannya termotivasi, malah ngedown. Pfft apalah dayaku yang cuma jadi remah-remah sisa gorengan yang mengendap di saringan ini. Wkwkwkwkk.
Tapi saya pikir, kalau saya nggak belajar sekarang, kapan lagi? Semua orang yang jago masak pasti juga mengalami fase-fase percobaan. Ya, meski saya paham dengan bakat yang seadanya di dapur mungkin fase percobaan saya bobotnya lebih besar hahaha. Saya juga suka menghibur diri, alangkah nikmatnya masakan saya. Diaduknya pakai cinta, diraciknya pakai do'a.
Dan saya jadi mengerti, masakan istri/ibu itu bisa menguatkan bonding dalam keluarga. Ya karena itu tadi, cinta dan doanya. Hal itu yang terus menjadi motivasi saya dalam belajar. Nggak papa, nangis yang banyak. Peluh yang banyak. Satu saat, saya akan menyaksikan diri saya yang udah lumayan mahir masak, dan ketika saya lihat prosesnya ke belakang–betapa bersyukurnya saya sudah sampai di tahap ini meski sebelumnya tergoda untuk menyerah. Meski sebelumnya payah bukan main. Ada masanya saya akan menertawai kebelumbisaan itu. Sabar, masakpun butuh jam terbang.
Hampir satu tahun pernikahan saya, meski masakan saya cuma itu-itu aja, kadang saya terharu, pengen nangis, waktu suami saya bilang,
“Dek, masak A/B/C dong…”
“Dek nggak masak kah? Udah kangen sama masakan kamu.”
“Dek, ayo aku temenin ke pasar biar kamu masak.”
“Dek ini enak!”
:’)
Menu saya juga udah agak bertambah meskipun nggak banyak. Hahaa. Sekarang saya kalau masak udah agak rapi dapurnya, nggak kaya kapal pecah mau karam lagi. Sekarang juga, suami saya udah naik berat badannya. Hahahaha.
Terimakasih Mas udah membersamai proses belajarku yang bakal terus berjalan. Jangan bosen yaaa! Terimakasih udah berkenan membesarkan hati, memuji, makan masakan dengan lahap, dan support berharga lain yang mungkin bagi Mas itu nggak ada apa-apanya, tapi bagiku itu bahan bakar buat melejitkan semangat.
Akhir kata,
temen-temen, bisa masak itu emang bukan syarat wajib jadi istri. Tapi belajar masak sedari belum menikah itu adalah langkah yang baik untuk mengisi perbekalan berumahtangga. Dan buat para calon imam, skill memakan apa aja gimanapun rasanya itu kayanya harus ditambah sebelum menikah hahaha. Nggak ding, maksudnya…jangan cuma mau istri yang pinter masak, tapi nggak mau mendukung istri kalau lagi belajar masak ;)
Oyaaa, kelebihan istri itu nggak cuma bisa masak aja ; bisa mijet, bisa berkebun, bisa ndekor rumah, jago jualan, jago mempercantik diri, mahir merapikan bersih-bersih, disayang tetangga, bermanfaat buat sekitar, mengisi peran di masyarakat–juga kelebihan yang harus disyukuri.
Belum bisa masak? Nggak papa, semangat belajar! Kita pasti bisa!!! Haha
*disclaimer: tiap rumahtangga punya metodenya sendiri ya. silahkan diseimbangkan menurut keadaan rumahtangga masing-masing ;)