Okeeee, karena pindahan dah beres dan sudah bisa santai-santai, mari menjawab ini demi gelang cantiq dari teh @sendingfailed 👌
Sudah bukan rahasia lah ya kalo ibuk dan bapakku tu pisahan, dari jaman aku bayik malah. Makanya, tiap jalan-jalan dan liat sekeluarga utuh lengkap, rasanya hatiku iri luar biasa. Bahkan sama suamiku pun aku iri 🙃
Ya gimana, beliau kalau kangen sama bapaknya tinggal ketemu, sedangkan aku? 🤷♀️
Sebenernya, dari itu semua, rasa iri terbesarku tentulah pada adik-adik yang sampai hari ini bebas ketemu bapak tiap hari. Adik-adikku maksudnya, dari istri bapak yang sekarang. Ya iyalah ya bebas, kan serumah. Tapi beneran, irinya tu kebangetan. Enak sekali nasib mereka. Nggak perlu ngerasain dibenci sama keluarga bapak kek aku, yang lukanya nggak sembuh-sembuh sampai hari ini. (Bahkan kalau ada keluarga bapak yang meninggal, aku nggak mau datang. Bodo amat!!!)
Dari tiga pernikahan bapak, nggak tahu kenapa kok cuma aku dan ibuk yang dibenci mereka. Alasannya sih ibuk ngerebut bapak dari mantan istrinya dulu. Padahal bapak udah resmi cerai, bahkan ibuk tahu kalau bapak duda tu beberapa hari sebelum akad 🤷♀️
Asli, kadang pengen klarifikasi ke keluarga bapak kalau kebencian mereka selama ini tu sia-sia nggak ada faedahnya sama sekali. Tapi nggak mau, karena ngapain buang-buang energi, ya kan?
Emang sih, kalau kepikiran gini suka nggak bersyukur. Itu adik-adik pasti hidupnya nyaman karena ada bapak, sekolahnya terjamin, ada yang mengarahkan, bisa ngajak bapak ngobrol apa aja, bisa diboncengin bapak, diantar-jemput kalau sekolah, tiap akhir pekan diajak jalan-jalan, ke toko buku, makan bareng di luar sekeluarga, atau kalai males yaudah leyeh-leyeh aja di depan tv seharian. Seringkali mikir begini, gimana yah kalau seandainya ada bapak, bukan melulu dikasih duit buat jajan atau bayar sekolah, tapi beneran ada bapak gitu. Penasaran banget kayak apa rasanya. Saking irinya, aku nggak mau anakku ngerasain hal yang sama. Klasik, kan? Ya gitu deh, kalau udah jadi orang tua maunya emang kasih yang terbaik buat anak. Apapun itu. Makanya, aku suka ngelibatin suami buat ngurus anak. Sesepele ganti popok, atau suapin makan. Biar anakku punya kenangan manis sama bapaknya. Supaya dia nggak merasa rumpang. Agar kehadiran bapaknya nggak cuma sebagai mesin pencari uang. Bapaknya beneran ada. Di setiap dia melakukan sesuatu.
Ya gitu deh, intinya rasa iri terbesarku adalah kemewahan adik-adikku dalam mendapatkan perhatian bapak. Sebelum cerita ini meluber kemana-mana, mari kita sudahi.
Oh iya, kalau nggak dapat gelang, aku juga mau kok kalung yang liontinnya bundar. Lucuuuuu ❤








