Ramadhan #11: Separuh Gaji
Tentang memberi. Ada kalanya kita diberi, ada saatnya kita memberi. Semua tentang perputaran waktu yang akan mempengaruhi jati diri juga posisi. Tentang separuh gaji. Tak seberapa. Benar-benar tak seberapa. Tak bisa menggantikan peluhnya Ibu, tak bisa membayar jasa, meski hanya tangan yang menyuapi anaknya. Atau sesederhana ongkos, jajan yang diberikan padamu saat kecil. Tidak. Semua tidak akan tergantikan oleh seberapa besar gajimu. Seberapa besar uang yang kamu berikan kepada orang tua, khususnya Ibu. Tentang memberi separuh gaji. Separuh bahkan seluruh, takkan bisa mengganti separuh waktu Ibumu yang dulu kau renggut darinya. Betapa pamrih tak lagi berisik lirih. Sebegitu riaknya kasih sayang Ibu dan Bapak. Memberi separuh gaji bukanlah ajang membeli jasa orang tua. Karna sekaya apapun, sejutawan apapun, kita tetap kerdil! Kerdil dalam memahaminya, kerdil dalam memuliakannya, kerdil dalam timbal baliknya. Begitu jumawa, congkak, jikalau kita merasa berbangga, membuat bahagia hanya dengan harga uang. Memberi separuh gaji. Adalah tentang belajar mengabdi. Adalah tentang berbagi. Adalah tentang intuisi. Adalah tentang balas budi. Adalah tentang berterima kasih. Adalah tentang cinta kasih. Meski pada akhirnya, kita tetap 'nol' dan Ibu Bapak kita tetap 'tak terhingga'. Biasakan, meski hanya bisa separuh gaji. Lakukan dengan hati. Cari ridho Allah lewat ridho orang tua kita. Bahagiakan selagi sehat, bahagiakan selagi lengkap, bahagiakan meski dengan separuh. Karna yang menyeluruh tetaplah doa. Bandung, 6 Juni 2017 / 11 Ramadhan 1438 H










