HISTORY #1
Mush’ab dan Hamnah: Perpisahan yang Membuktikan
Hamnah binti Jahsy menikah dengan Mush’ab bin Umair. Hamnah merupakan sepupu Nabi ﷺ dari jalur ibunya, yaitu Umaymah binti ‘Abd al-Muththalib. Umaymah, Shafiyyah, dan Hamzah berasal dari satu ibu.
Mush’ab bin Umair berasal dari kabilah yang selama ini memegang panji-panji, yaitu Bani ‘Abd ad-Dar. Ia termasuk generasi as-sâbiqûn al-awwalûn, dengan latar belakang sebagai pemuda yang, dalam istilah masa kini, bisa disebut idaman banyak orang: tampan, fasih dalam berbicara, cerdas, berwawasan luas, serta supel dalam bergaul. Ia dicintai banyak orang karena mudah akrab, memiliki pesona, dan karisma yang kuat. Bahkan para sahabat bersaksi bahwa Mush’ab bin Umair adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ.
Di Makkah, bahkan sebelum masuk Islam, jika Mush’ab berjalan melewati suatu tempat, orang-orang masih dapat mengetahui bahwa ia pernah lewat berjam-jam setelahnya karena aroma wangi khasnya yang tertinggal. Namun, sebagaimana diceritakan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, ketika Mush’ab masuk Islam, ia diboikot oleh ibunya. Kedua sosok ini, Sa’ad dan Mush’ab, memiliki ujian yang berat dari ibu mereka masing-masing. Sa’ad menghadapi ibunya yang mogok makan, sementara Mush’ab harus menerima pemboikotan total dari ibunya.
Sampai-sampai Sa’ad bin Abi Waqqash pernah mengatakan bahwa ia melihat kulit Mush’ab seperti ular yang sedang berganti kulit. Hal itu karena sebelumnya Mush’ab mendapatkan perawatan yang sangat baik, tetapi setelah diboikot, kondisi tubuhnya menjadi sangat sensitif dan berubah drastis.
Demikianlah gambaran kehidupan Mush’ab bin Umair, yang kemudian menjadi suami dari Sayyidah Hamnah binti Jahsy. Ia seorang pemuda istimewa, dan istrinya pun seorang wanita yang tidak kalah istimewa. Konon, keluarga Jahsy dikenal memiliki paras yang rupawan. Abdullah bin Jahsy, Zainab, dan Hamnah semuanya dikenal tampan dan cantik.
Akhirnya Mush’ab dan Hamnah menikah dan menjadi pasangan suami istri yang harmonis, saling mencintai dalam ikatan pernikahan yang kuat.
Ketika Mush’ab diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menuju Yatsrib (Madinah al-Munawwarah) guna berdakwah, bersama Abdullah bin Ummi Maktum, pada awalnya ia meminta Hamnah tetap tinggal di Makkah hingga keadaan di Madinah lebih kondusif. Setelah itu, barulah Hamnah menyusul berhijrah.
Di Madinah, meskipun terpisah dari istrinya, Mush’ab tetap fokus menjalankan dakwah dengan cara yang cerdas. Salah satu strategi yang ia lakukan adalah bekerja sama dengan penduduk lokal yang telah masuk Islam, sehingga para tokoh Anshar akhirnya tertarik dan menerima Islam.
Ketika keadaan Madinah telah kondusif, Mush’ab meminta Hamnah untuk menyusul. Hamnah pun datang ke Madinah dan kembali hidup bersama suaminya. Namun, kehidupan mereka sangat berbeda dibandingkan saat di Makkah. Mereka menjalani hidup yang lebih sederhana, penuh keterbatasan, dan serba kekurangan. Meski demikian, Hamnah tetap mencintai, mempercayai, dan menghormati suaminya dengan ketaatan yang luar biasa.
Abdurrahman bin Auf pernah menceritakan: suatu hari ketika para sahabat duduk di Masjid Nabawi bersama Rasulullah ﷺ, datanglah Mush’ab bin Umair untuk menunaikan salat. Penampilannya sangat berbeda dibandingkan ketika di Makkah. Wajahnya tampak lebih tua, pakaiannya sederhana, dan tidak lagi beraroma wangi seperti dulu. Terlihat jelas bekas-bekas kesulitan hidup yang Mushab jalani di Madinah.
Rasulullah ﷺ tidak kuasa melihat keadaan itu. Beliau memalingkan wajahnya, dan mata beliau basah karena haru melihat Mush’ab.
Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Bagaimanakah keadaan kalian nanti jika masing-masing di antara kalian duduk di atas kursi-kursi indah seperti singgasana para raja, sementara para pelayan hilir mudik memenuhi kebutuhan kalian tanpa kalian harus beranjak?”
Abdurrahman bin Auf berkata bahwa saat itu mereka baru saja berhijrah dalam keadaan miskin dan asing. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, tentu pada saat itu kami akan lebih baik daripada sekarang.” Namun Rasulullah ﷺ menggeleng dan bersabda, “Tidak. Demi Allah, keadaan kalian hari ini lebih baik daripada keadaan kalian saat itu.”
Persatuan, ukhuwah, dan kebersamaan yang mereka rasakan di masa sulit, menurut Rasulullah ﷺ, jauh lebih berharga daripada kemewahan yang berpotensi melemahkan hati.
Kisah ini menunjukkan betapa Mush’ab bin Umair sangat dicintai oleh Rasulullah ﷺ dan menjadi tolok ukur kebaikan di antara para sahabat. Di tengah kehidupan yang berat itu, Hamnah tetap setia mendampingi suaminya dengan kesetiaan yang luar biasa. Ia mampu menyesuaikan diri dengan kedudukan suaminya sebagai tokoh penting di kalangan sahabat, dan menjadi bagian dari para wanita yang berperan aktif dalam berbagai peristiwa, termasuk jihad fi sabilillah.
Dikisahkan bahwa dalam Perang Badar, Hamnah tampil dengan penuh wibawa di antara para tawanan. Ia membawa bejana berisi minuman dan dengan penuh kasih sayang memberi minum kepada orang-orang yang terluka, satu per satu, tanpa tergesa-gesa, tanpa panik. Ia melakukannya dengan tenang dan penuh kehormatan. Peran serupa juga ia lakukan dalam Perang Uhud.
Dalam Perang Uhud, Hamnah kembali bertugas memberi minum kepada para prajurit yang terluka dengan penuh kehati-hatian. Hingga di akhir pertempuran, Rasulullah ﷺ secara khusus menyampaikan kabar duka kepadanya.
Berbeda dengan yang lain, kepada Hamnah Rasulullah ﷺ menyampaikan langsung berita tersebut. Pertama, beliau memintanya untuk mendoakan saudaranya, Abdullah bin Jahsy, yang telah syahid. Hamnah diperlihatkan jenazah saudaranya dalam kondisi mengenaskan, terluka parah sesuai doa yang pernah dipanjatkannya. Dengan penuh ketenangan, Hamnah mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Allāhumma ighfir lahu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.”
Kemudian Rasulullah ﷺ mengajaknya ke tempat lain, memperlihatkan jenazah pamannya, Hamzah, yang juga gugur dengan kondisi sangat memilukan akibat perlakuan keji kaum Quraisy. Hamnah kembali diminta mendoakan, dan ia tetap menunjukkan ketenangan serta wibawanya.
Namun, ketika Rasulullah ﷺ mengajaknya ke tempat ketiga dan memperlihatkan jenazah suaminya, Mush’ab bin Umair, keadaan Hamnah berubah drastis. Ia tidak lagi setegar sebelumnya. Ia berteriak histeris, menangis keras, hingga akhirnya pingsan.
Setiap manusia memiliki sosok yang menjadi sandaran emosional terkuat dalam hidupnya. Bagi Hamnah, sosok itu adalah suaminya, Mush’ab bin Umair.
Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Perhatikanlah wanita ini. Ketika diberitakan tentang saudaranya, ia tetap tegar. Ketika diberitakan tentang pamannya, ia tetap kuat. Namun ketika diberitakan tentang suaminya, ia tidak mampu menahan dirinya.”
Jika dipikirkan, saudara dan paman telah dikenal Hamnah sejak kecil, jauh lebih lama daripada suaminya. Namun, akhlak, cinta, dan kasih sayang Mush’ab selama pernikahan mereka telah menjadi penopang kekuatan Hamnah, membentuknya menjadi wanita tangguh yang mampu menjalankan berbagai peran dalam kehidupan.
Setelah wafatnya Mush’ab, Hamnah membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuka hati kembali. Banyak yang melamarnya, namun selama masa hidup Rasulullah ﷺ, Hamnah tidak menikah lagi. Bahkan pada masa Abu Bakar selama dua setengah tahun, ia tetap menolak lamaran.
Barulah pada masa Umar bin Khattab, ketika kondisi kaum Muslimin telah makmur dan para sahabat hidup dalam kecukupan, Hamnah menerima pinangan Thalhah bin Ubaidillah.
Inilah kisah Hamnah binti Jahsy sebuah pelajaran bahwa di balik ketegaran seorang wanita, sering kali terdapat cinta seorang suami yang menjadi penopang kekuatannya.
-Dewi Arisanti- *Dikutip dari Series Ramadan, Kisah-Kisah Romantis Peradaban by SAF Original*

















