Palestina adalah selembar ujian dengan durasi yang lama, yang membutuhkan kesabaran dan nafas panjang.
-Ustadz Amar Ar-Risalah (Series Nusantara to Aqsha)
cherry valley forever

blake kathryn
Today's Document
Three Goblin Art

⁂

if i look back, i am lost
noise dept.
TVSTRANGERTHINGS
No title available
wallacepolsom
I'd rather be in outer space 🛸
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

ellievsbear
YOU ARE THE REASON
occasionally subtle
Monterey Bay Aquarium
Peter Solarz
Alisa U Zemlji Chuda

tannertan36
almost home

seen from Malaysia
seen from United Arab Emirates

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from Nepal
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@dewiarisanti
Palestina adalah selembar ujian dengan durasi yang lama, yang membutuhkan kesabaran dan nafas panjang.
-Ustadz Amar Ar-Risalah (Series Nusantara to Aqsha)
Mush’ab dan Hamnah: Perpisahan yang Membuktikan
Hamnah binti Jahsy menikah dengan Mush’ab bin Umair. Hamnah merupakan sepupu Nabi ﷺ dari jalur ibunya, yaitu Umaymah binti ‘Abd al-Muththalib. Umaymah, Shafiyyah, dan Hamzah berasal dari satu ibu.
Mush’ab bin Umair berasal dari kabilah yang selama ini memegang panji-panji, yaitu Bani ‘Abd ad-Dar. Ia termasuk generasi as-sâbiqûn al-awwalûn, dengan latar belakang sebagai pemuda yang, dalam istilah masa kini, bisa disebut idaman banyak orang: tampan, fasih dalam berbicara, cerdas, berwawasan luas, serta supel dalam bergaul. Ia dicintai banyak orang karena mudah akrab, memiliki pesona, dan karisma yang kuat. Bahkan para sahabat bersaksi bahwa Mush’ab bin Umair adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ.
Di Makkah, bahkan sebelum masuk Islam, jika Mush’ab berjalan melewati suatu tempat, orang-orang masih dapat mengetahui bahwa ia pernah lewat berjam-jam setelahnya karena aroma wangi khasnya yang tertinggal. Namun, sebagaimana diceritakan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, ketika Mush’ab masuk Islam, ia diboikot oleh ibunya. Kedua sosok ini, Sa’ad dan Mush’ab, memiliki ujian yang berat dari ibu mereka masing-masing. Sa’ad menghadapi ibunya yang mogok makan, sementara Mush’ab harus menerima pemboikotan total dari ibunya.
Sampai-sampai Sa’ad bin Abi Waqqash pernah mengatakan bahwa ia melihat kulit Mush’ab seperti ular yang sedang berganti kulit. Hal itu karena sebelumnya Mush’ab mendapatkan perawatan yang sangat baik, tetapi setelah diboikot, kondisi tubuhnya menjadi sangat sensitif dan berubah drastis.
Demikianlah gambaran kehidupan Mush’ab bin Umair, yang kemudian menjadi suami dari Sayyidah Hamnah binti Jahsy. Ia seorang pemuda istimewa, dan istrinya pun seorang wanita yang tidak kalah istimewa. Konon, keluarga Jahsy dikenal memiliki paras yang rupawan. Abdullah bin Jahsy, Zainab, dan Hamnah semuanya dikenal tampan dan cantik.
Akhirnya Mush’ab dan Hamnah menikah dan menjadi pasangan suami istri yang harmonis, saling mencintai dalam ikatan pernikahan yang kuat.
Ketika Mush’ab diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menuju Yatsrib (Madinah al-Munawwarah) guna berdakwah, bersama Abdullah bin Ummi Maktum, pada awalnya ia meminta Hamnah tetap tinggal di Makkah hingga keadaan di Madinah lebih kondusif. Setelah itu, barulah Hamnah menyusul berhijrah.
Di Madinah, meskipun terpisah dari istrinya, Mush’ab tetap fokus menjalankan dakwah dengan cara yang cerdas. Salah satu strategi yang ia lakukan adalah bekerja sama dengan penduduk lokal yang telah masuk Islam, sehingga para tokoh Anshar akhirnya tertarik dan menerima Islam.
Ketika keadaan Madinah telah kondusif, Mush’ab meminta Hamnah untuk menyusul. Hamnah pun datang ke Madinah dan kembali hidup bersama suaminya. Namun, kehidupan mereka sangat berbeda dibandingkan saat di Makkah. Mereka menjalani hidup yang lebih sederhana, penuh keterbatasan, dan serba kekurangan. Meski demikian, Hamnah tetap mencintai, mempercayai, dan menghormati suaminya dengan ketaatan yang luar biasa.
Abdurrahman bin Auf pernah menceritakan: suatu hari ketika para sahabat duduk di Masjid Nabawi bersama Rasulullah ﷺ, datanglah Mush’ab bin Umair untuk menunaikan salat. Penampilannya sangat berbeda dibandingkan ketika di Makkah. Wajahnya tampak lebih tua, pakaiannya sederhana, dan tidak lagi beraroma wangi seperti dulu. Terlihat jelas bekas-bekas kesulitan hidup yang Mushab jalani di Madinah.
Rasulullah ﷺ tidak kuasa melihat keadaan itu. Beliau memalingkan wajahnya, dan mata beliau basah karena haru melihat Mush’ab.
Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Bagaimanakah keadaan kalian nanti jika masing-masing di antara kalian duduk di atas kursi-kursi indah seperti singgasana para raja, sementara para pelayan hilir mudik memenuhi kebutuhan kalian tanpa kalian harus beranjak?”
Abdurrahman bin Auf berkata bahwa saat itu mereka baru saja berhijrah dalam keadaan miskin dan asing. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, tentu pada saat itu kami akan lebih baik daripada sekarang.” Namun Rasulullah ﷺ menggeleng dan bersabda, “Tidak. Demi Allah, keadaan kalian hari ini lebih baik daripada keadaan kalian saat itu.”
Persatuan, ukhuwah, dan kebersamaan yang mereka rasakan di masa sulit, menurut Rasulullah ﷺ, jauh lebih berharga daripada kemewahan yang berpotensi melemahkan hati.
Kisah ini menunjukkan betapa Mush’ab bin Umair sangat dicintai oleh Rasulullah ﷺ dan menjadi tolok ukur kebaikan di antara para sahabat. Di tengah kehidupan yang berat itu, Hamnah tetap setia mendampingi suaminya dengan kesetiaan yang luar biasa. Ia mampu menyesuaikan diri dengan kedudukan suaminya sebagai tokoh penting di kalangan sahabat, dan menjadi bagian dari para wanita yang berperan aktif dalam berbagai peristiwa, termasuk jihad fi sabilillah.
Dikisahkan bahwa dalam Perang Badar, Hamnah tampil dengan penuh wibawa di antara para tawanan. Ia membawa bejana berisi minuman dan dengan penuh kasih sayang memberi minum kepada orang-orang yang terluka, satu per satu, tanpa tergesa-gesa, tanpa panik. Ia melakukannya dengan tenang dan penuh kehormatan. Peran serupa juga ia lakukan dalam Perang Uhud.
Dalam Perang Uhud, Hamnah kembali bertugas memberi minum kepada para prajurit yang terluka dengan penuh kehati-hatian. Hingga di akhir pertempuran, Rasulullah ﷺ secara khusus menyampaikan kabar duka kepadanya.
Berbeda dengan yang lain, kepada Hamnah Rasulullah ﷺ menyampaikan langsung berita tersebut. Pertama, beliau memintanya untuk mendoakan saudaranya, Abdullah bin Jahsy, yang telah syahid. Hamnah diperlihatkan jenazah saudaranya dalam kondisi mengenaskan, terluka parah sesuai doa yang pernah dipanjatkannya. Dengan penuh ketenangan, Hamnah mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Allāhumma ighfir lahu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.”
Kemudian Rasulullah ﷺ mengajaknya ke tempat lain, memperlihatkan jenazah pamannya, Hamzah, yang juga gugur dengan kondisi sangat memilukan akibat perlakuan keji kaum Quraisy. Hamnah kembali diminta mendoakan, dan ia tetap menunjukkan ketenangan serta wibawanya.
Namun, ketika Rasulullah ﷺ mengajaknya ke tempat ketiga dan memperlihatkan jenazah suaminya, Mush’ab bin Umair, keadaan Hamnah berubah drastis. Ia tidak lagi setegar sebelumnya. Ia berteriak histeris, menangis keras, hingga akhirnya pingsan.
Setiap manusia memiliki sosok yang menjadi sandaran emosional terkuat dalam hidupnya. Bagi Hamnah, sosok itu adalah suaminya, Mush’ab bin Umair.
Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Perhatikanlah wanita ini. Ketika diberitakan tentang saudaranya, ia tetap tegar. Ketika diberitakan tentang pamannya, ia tetap kuat. Namun ketika diberitakan tentang suaminya, ia tidak mampu menahan dirinya.”
Jika dipikirkan, saudara dan paman telah dikenal Hamnah sejak kecil, jauh lebih lama daripada suaminya. Namun, akhlak, cinta, dan kasih sayang Mush’ab selama pernikahan mereka telah menjadi penopang kekuatan Hamnah, membentuknya menjadi wanita tangguh yang mampu menjalankan berbagai peran dalam kehidupan.
Setelah wafatnya Mush’ab, Hamnah membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuka hati kembali. Banyak yang melamarnya, namun selama masa hidup Rasulullah ﷺ, Hamnah tidak menikah lagi. Bahkan pada masa Abu Bakar selama dua setengah tahun, ia tetap menolak lamaran.
Barulah pada masa Umar bin Khattab, ketika kondisi kaum Muslimin telah makmur dan para sahabat hidup dalam kecukupan, Hamnah menerima pinangan Thalhah bin Ubaidillah.
Inilah kisah Hamnah binti Jahsy sebuah pelajaran bahwa di balik ketegaran seorang wanita, sering kali terdapat cinta seorang suami yang menjadi penopang kekuatannya.
-Dewi Arisanti- *Dikutip dari Series Ramadan, Kisah-Kisah Romantis Peradaban by SAF Original*
Menanti Sepertiga Malam
Jangan buru-buru menyeka air mata yang turun, dan jangan pula buru-buru pergi menuju ramainya manusia disaat tangismu masih ada, selesaikan dulu tangismu dan apa yang hati ingin tumpahkan. Mungkin di luar sedang cerah dan hangat oleh matahari, tapi tidak untuk hatimu yang sedang gelap dan penuh gemuruh itu, biarkan hujan deras turun di hatimu untuk sesaat membasahi kerasnya kecewa dan mendinginkan panasnya harapan.
Jika sudah selesai dari tangis dan hujan hati, cobalah menarik napas yang panjang lalu keluarkan bersama dengan semua kesedihan. Apa yang kamu khawatirkan itu sebenarnya tidaklah semenakutkan apa yang kamu kira, kamu hanya perlu menyiapkan hati dan pikiran untuk kemungkinan yang paling buruk.
Pada setiap rencana hidup ini adakalanya seseorang harus merasakan kegagalan, agar nanti lebih menghargai apa yang didapat. Dan pada setiap kekecewaan yang menyakitkan hati itu seharusnya kamu bisa belajar soal sabar dan menyerahkan semua keputusan pada-Nya, Allah hanya ingin mengajari apa yang tidak kamu dapatkan di sekolah selama ini.
Tenang, tidak akan pernah Allah itu menelantarkan manusia yang lisannya selalu berdoa dan hatinya selalu berprasangka baik pada-Nya. Kembalilah pada-Nya, mulailah mendekat dengan doa-doa dan ibadah disepertiga malammu.
Allah sudah menunggumu, nanti malam bangun ya.
@jndmmsyhd
SINOPSIS KEHIDUPAN ROSULULLAH SAW
by. M. Anis Matta Lc
Pernahkah anda mencoba merunut jejak jejak kehidupan Rasulullah ?
Ada tiga tahapan penting dalam kehidupanya: 1).Sebelum kenabian (0-40 tahun) 2).Dakwah di Mekah (40-53 tahun) 3).Dakwah di Madinnah (53-63 tahun)
Tahap pertama terbagi dua: A. Sebelum menikah (0-25 tahun) B. Setelah menikah (25-40 tahun)
1).SEBELUM KENABIAN (0-40 thn)
Rssulullah Saw. Adalah seseorang yg dilahirkan oleh Siti Aminah dari seorang ayah yg bernama Abdullah. Lahir di tengah masyarakat quraisy.
Hari kelahiranya dimulai dg penyerangan tentara gajah, datangnya pasukan Abrahah dari Yaman untuk meruntuhkan Ka'bah.
Usia 0-4 tahun tahun: Beliau hidup di padang pasir bersama kabilah Bani Sa'ad dan selama itu mendapatkan ASI dari Halimah As-sa'diyah.
Usia 4-6 tahun: Tinggal bersama ibunya. Usia 6 thn ibunya meninggal dunia sepulang mengunjungi makam ayahnya di Madinah.
Usia 6-8 thn: Tinggal bersama kakenya. Usia 8 thn tinggal bersama pamanya. Sejak tinggal bersama pamanya. Muhammad kecil sudah bekerja krn Abu Thalib mempunyai banyak tanggungan. Pekerjaan pertama Rasulullah adalah mengembala kambing.
Usia 12 tahun: Ikut bersama pamanya dalam suatu perjalanan bisnis ke Syiria. Disanalah ia bertemu pendeta Bahira yg meramalkan Muhammad sbg nabi ter-akhir.
Usia 15 tahun: Beliau terlibat dlm suatu peristiwa militer paling penting , yaitu perang Fijar yg terjadi antara Quraisy dan kaum lainya selama 4-5 tahun (15-19\20tahun).
Usia 20 tahun: Beliau terlibat peristiwa diplomatik perdamaian antara Quraisy dan kabilah lainya. Setelah itu beliau bekerja pada Khadijah, berdagang ke Yaman\Syiria. Sebagai seorang profesional, Rosululloh telah memperlihatkan prestasi yg sangat unggul untuk seorang Khadijah.
Prestasi beliau bukan hanya pada karakter dan integritas pribadinya tetapi juga kompetensinya sbg manajer yg memberikan keuntungan bagi khadijah.
Usia 25 Tahun: Beliau menikah dg Khadijah. Jadi kita dapat melihat apa yg telah di dapat Muhammad pada usia 25 tahun dan pada setiap jenjang usianya.
Momen-momen yg terjadi: 1. Usia 0-4 tahun, hidup di padang pasir yg pertama kali diperolehnya adalah ASI.
Salah satu fungsi ASI adalah mempengaruhi pertumbuhan otak manusia. Sel otak manusia 66% terbentuk ketika ia lahir dan 34% setelah 18 bulan pertama.
Unsur dominan yg membentuknya adalah gizi yg diperoleh dari protein, kolesterol dan asam lemak yg di hasilkan ASI dan minyak ikan.
Asam lemak berguna untuk membentuk sel pembungkus otak yg berpungsi membawa inpuls dari luar dan mendistribusikanya kedalam tubuh.
ASI membentuk kekebalan tubuh seseorang # sehingga secara fisik sempurnalah tubuh belliau#.
2.Dipadang pasir beliau hidup ditempat yg lapang dan membuatnya dekat dg alam. Alam yg terbuka atau tempat yg luas akan menciptakan iklim pikiran terbuka dan membuat hati yg lapang. # secara psikologis Rosulullah di struktur dg baik#
3.Dalam masyarakat Arab, bahasa Arab yg fasih adanya di padang pasir tidak di kota.
Jadi ada proses pembentukan kemampuan oral. Bahasa Rosulullah sudah terbentuk sejak kecil. Bahasa menurut psikologi adalah cara atau bukti yg paling kuat untuk mengukur tingkat intelektual seseorang.
Kemampuan anda berbahasa menunjukan bagaimana kita merekontruksi, menyusun, mengklasifikasikan, mengungkapkan fikiran dst.
4. Pada usia 4 tahun terjadi peristiwa pembelahan dada, mengeluarkan unsur syaitan dalam dirinya.
Selain secara fisik sempurna, Rosulullah secara psikologis memang sudah siap untuk itu. Dan peristiwa pembelahan dada # memperkuat pengalaman spiritualnya.#
5. Beliau kembali bersama ibunya selama 2 tahun, Yang memberikan kesempatan yg lebih luas untuk # mendapatkan kasih sayang secara cukup#.
Walaupun ini berat, tp dg bekal hidup 4 tahun dipadang pasir menciptakan mekanisme pertahanan diri yg kuat dimasa itu.
Krn dadanya sudah terbiasa lapang dan fikiranya sudah terbiasa terbuka, maka Rosulullah lebih siap untuk menerima segala kemungkinan -kemungkinan.
6.Kemudian beliau tinggal bersama kakeknya, Abdul Muthalib. Kakeknya sering membawa Muhammad Saw, ikut dlm momen momen politik yg dipimpin oleh Abdul Muthalib.
Dalam riwayat di sebutkan bahwa Abdul Muthalib memiliki ciri ciri yg sangat spesifik; ganteng, cerdas dan sangat berwibawa.
Muhammad sering dilibatkan dlm rapat rapat politik sejak usia dini (6 tahun).
Bahkan ketika orang orang Quraisy mengkritik untuk tidak melibatkan Muhammad, beliau mengatakan “Tinggalkan dan biarkan ia terlibat, karena kelak ia akan menjadi orang besar dikemudian hari”
7.Beliau sudah mencari nafkah ketika tinggal bersama pamanya, Abu Thalib.
Jadi sejak kecil muhammad sudah # memiliki pengalaman fisik, psikologis, spiritual, politik dan sekarang memasuki pengalaman ekonomi\bisnis#.
8. Usia 12 thn beliau melakukan perjalanan ke Syiria. Ini merupakan perjalanan global pertamannya yg memperkuat struktur pengalaman psikologisnya yg sudah terbentuk di padang pasir.
9. Usia 15 thn, ketika fisiknya sedang tumbuh kuat, beliau terlibat dlm peperangan yg berlangsung selama 4 tahun. Peristiwa ini memberinya pengalaman militer.
10. Usia 20 tahun beliau terlibat dlm perundingan damai yg merupakan pengalaman diplomatiknya, kemudian beliau mulai bekerja pada Khadijah.
Dan disini beliau mendapatkan pengalaman profesional sbg manajer.
11.Ketika beliau menikah, beliau jg mendapatkan pengalaman sbg seorang suami. Jadi tumpukan pengalaman itu sudah hampir sempurna pada usia 25 tahun.
Jika Khadijah tertarik pada pemuda seperti itu memang wajar sekali.
12. Usia 25-35 tahun Muhammad telah memiliki pengalaman sbg kepala keluarga, pedagang, pemuka masyarakat, orang kaya, orang terpandang dikalangan masyarakat Quraisy dan aktivitas sosial.
Ketika pada usia 40 tahun menerima wahyu, Khadijah mengatakan bahwa aktivitas sosial Muhammad baik. Ini berarti beliau memiliki posisi dan hubungan sosial yg kuat yg dibangunya selama 10 tahun.
Puncak dari hubungan sosialnya terbangun saat banjir yg mengakibatkan bangunan ka'bah runtuh. Saat itu seluruh kabilah bertengkar tentang siapa yg akan meletakan Hajar Aswad pada tempatnya semula.
Kemudian diputuskan untuk menunjuk orang yg pertama memasuki Ka'bah sbg orang yg akan membawa Hajar Aswad.
Keesokan harinya Muhammad-lah orang yg pertama kali memasuki Ka'bah.
Kemudian Muhammad memberikan solusi yg menunjukan keadilanya sehingga mendapat gelar Al Amin. Jadi prinsip prinsip sinergi dan kerja itu sudah beliau lakukan saat itu.
13. Usia 37 tahun beliau telah memiliki pandangan global tentang masyarakat Arab tetapi belum menemukan solusi solusi yg tepat.Oleh karena itu sejak usia 37 tahun beliau sudah melakukan meditasi (khalwat) di Gua Hira yg berlangsung selama 3 tahun. Sampai pada usia 40 tahun, Allah menurunkan wahyunya.
Jadi setelah seluruh pengalaman fisik, psikologi, spiritual, bisnis, perang, perjalanan global, suami, kepala keluarga dan pemuka masyarakat terbentuk, beliau melakukan suatu kerja meditasi, kerja perenungan luar biasa.
Jadi ketika Allah menurunkan wahyu dg Iqra’, klop dgn kondisi kejiwaanya.
2. Dakwah di Makkah (40-53 tahun)
Setelah menjadi Rosul, beliau melakukan dakwah di Makkah dg tiga tahap:
A. Dakwah secara rahasia kepada individu2 potensial tertentu selama tiga tahun.
B. Dakwah kolektif secara terbuka selama tujuh tahun. Tahun ke 4 sampai ke 10.
Beliau melakukan dakwah secara terbuka. Disitulah beliau mulai berbenturan dg masyarakat Quraisy, sebagian masuk Islam, sebagian jadi musuh.
Disitu pula terjadi peristiwa2 penyiksaan atas beliau dan para sahabatnya serta isolasi dan embargo ekonomi atas bani Hasyim sampai dengan tahun ke 10.
C. Persiapan pembentukan masyarakat Islam di Madinah selama 3 tahun.
Pada tahun ke 10 beliau mulai memperluas dakwahya hingga keluar Makkah dan Thaif sambil kemudian mendakwahi musafir Yastrib yg sedang naik haji.
Mengutus Mus'ab ke Madinah pada saat beliau berusia 53 tahun.
3. Dakwah di Madinah (53-63 tahun)
Tiga hal yg dilakukan Muhammad ketika di Madinah:
A. Konsolidasi dan peneguhan eksistensi masyarakat lslam yg baru berdiri 1tahun.
1. Membangun Madinah 2. Membangun Masjid 3. Mempersaudarakan Anshar dan Muhajirin. 4.Membuat perjanjian dg Yahudi. 5. Membangun militer. 6. Mulai merencanakan pasar.
B. Menciptakan dan mempertahankan stabilitas negara dari invasi militer luar selama 5 tahun.
Tahun ke dua mulai mempertahankan Madinah dari ekspansi luar dan terjadi peperangan kurang lebih 68 kali.
Saat mulai terjadinya peperangan usia beliau sudah lebih dari 53 tahun. Rasulullah saat itu sudah memiliki multifungsi tapi mampu memenej seluruhnya; keluarga, negara dan masyarakat.
C. Mulai melakukan jihad ekspansi dan perluasan wilayah lslam selama 4 Tahun.
Demikianlah Rasul kita tercinta, Muhammad Saw, menjalani hidup yg sarat misi, sarat beban dan sarat hasil dalam suatu melodi life time chart yg begitu indah.
Jika beliau memulai kenabian dg wahyu lqra’! (Bacalah!), maka beliau menutupnya dg wahyu “Al yauma akmaltu lakum diinakum (pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu) ”.
Untuk kesuksesan dan keteladananya, Rasulullah menyebutkan kata kuncinya
“Allah-lah yg mendidikku maka la mendidikku sebaik baiknya”. Wallahu a'lam..
Masya Allah, Allahumma Shali’ala muhammad wa’ala ali muhammad :’)
"Yang Menyadarkan"
Beberapa orang pernah bertanya,
"Apa mama pernah marah?"
Pertanyaan itu muncul, mungkin karena mereka melihat mama yang selalu bicara lemah lembut kepada anak-anaknya.
Jujur, sempat bingung jika ditanya dengan pertanyaan yang serupa. Karena betul-betul sulit menilai kapan mama marah.
Ketika anak-anaknya keliru, cara mama bukan memarahi. Tapi saya yakin, pasti ada waktu dimana mama merasa marah, hanya saja tidak disampaikan melalui nada yang tinggi ataupun lisan yang kasar, seperti yang biasa saya lihat bagaimana orang-orang marah pada umumnya.
Cara mama ketika melihat anak-anaknya keliru, dan mungkin bisa dikatakan mama "marah" itu ketika beliau sudah ajak kami bicara secara privasi tentang suatu hal yang beliau merasa harus luruskan.
Beliau membangun komunikasi dua arah, dengan terlebih dulu bertanya tentang alasan saya melakukan demikian, atau berkata demikian. Beliau dengarkan dengan seksama, tanpa sedikitpun memotong apa yang anaknya sampaikan.
Setelah selesai, beliau meluruskan bagian mana yang beliau rasa harus diluruskan. Lalu berujung beliau yang meminta maaf kalau ternyata sikap kami begitu.. mungkin karena ada kekeliruan dari cara beliau mendidik ataupun memberi teladan.
Sungguh, cara beliau ini membuat saya merasa tersadarkan (tentu karena taufiq dari-Nya) dan sangat merasa bersalah. Bahkan melihat raut mukanya yang sedih membuat hati saya sakit. Ditambah ketika mendengar beliau melisankan:
"Semoga Allah Ta'ala memaafkan mama. Mohon ampunan juga kepada Allah ya nak.. jangan sampai kita meremehkan suatu dosa, walaupun itu dosa kecil sekalipun.."
Apa yang ada di pikiran saya hanya satu:
"Bukan, ini sama sekali bukan salah mama dalam mendidik. Saya yang keliru, saya yang harus perbaiki.." 💦
Semoga ada manfaat yang bisa diambil.
Tulisan - Keberadaan Kita
Seisi dunia terasa sedang berputar dengan riuhnya, membiarkan kita duduk termenung di tepian, menjadi sekadar pengamat suasana. Segala di sekitar kita tiba-tiba terlihat begitu terburu-buru, berlari dengan cepat, seperti sedang dalam perlombaan lari. Satu tujuan yang diperebutkan oleh banyak manusia. Dan lagi-lagi kita hanya bisa termenung di tepi lintasan, merasa lomba itu sepertinya memang bukan untuk kita.
Lalu muncul pertanyaan tentang keberadaan kita di kehidupan ini. Merasa kehadiran kita di dunia hanya untuk menginjak-injak bumi, dan menghabiskan oksigen saja, tanpa ada peran yang rasanya begitu berarti untuk bagian kehidupan lainnya.
Tapi kita perlu meyakini, kalau kehadiran kita tidak mungkin hanya untuk sekadar ada, atau sebatas menjadi pengisi celah berjalannya kehidupan. Hanya saja, yang kita anggap peran sesungguhnya itu rasanya belum kita temukan. Atau mungkin tidak tesadar kalau yang kita kerjakan sebenarnya berdampak, hanya karena merasa hal itu terlalu remeh, dan tidak sebanding dengan yang dilakukan orang lain di luar sana.
Kalau memang masih merasa belum menemukan, teruslah berjalan, sembari mencari, sambil tetap menjalani apa yang bisa dijalani saat ini. Tidak perlu terburu, karena tidak ada yang mengejarmu, juga tidak ada yang menuntut cepatnya kita untuk hal ini.
Selama hati bersedia untuk kita buka, juga dengan perasaan yang dilatih untuk bisa lebih peka, kita akan menyadari dan menemukan apa yang bisa kita berikan pada pada semesta. Tidak harus berupa suatu hal yang besar dan memukau orang banyak, ada banyak hal yang bisa dimulai dari mereka yang paling dekat dengan kehidupan kita. Yang bisa kita bantu hilangkan laparnya, melariskan sebagian dagangannya, menyembuhkan sakitnya, meringankan kebutuhannya, dan hal-hal kecil lain yang seringkali luput dari pandangan orang kebanyakan.
Tidak perlu terlalu lama mengkhawatirkan tentang satu titik peran yang mungkin memang belum waktunya untuk kita temukan. Tetaplah jalani, karena yang paling bisa dirasakan adalah manfaat dari apa yang sudah kita berikan, bukan lagi membicarakan tentang sebuah nama yang kita perankan.
© Danny Dzul Fikri | Surabaya, Maret 2019
Keluarga Tidak Selamanya Mendampingi
Cahaya dari lampu di pinggir jalan itu terbatas, setelah itu kamu harus tetap berjalan dalam gelap malam, dengan apa yang ada padamu, entah sendiri atau bersama. Seperti itu juga keluarga, tidak selamanya mereka harus menemanimu, kelak kamu akan berjalan dengan cara hidupmu sendiri, menghadapi masalah dan menentukan pilihan. Tidak selamanya keluarga harus menjadi tameng dan tempat meminta bantuan.
Cobalah untuk mandiri, menjadi dewasa dan memiliki hati yang kuat, karena kelak di penghujung perjalanan setiap orang akan bertanggung jawab pada dirinya masing-masing. Harusnya, tiap bertambah usia bertambah pula kualitas hidup, dari cara menyikapi masalah, memandang permasalahan, mengurangi sifat yang buruk.
Jika laut pasti akan ada surutnya, jika gelapnya langit pasti akan ada purnamanya. Maka kamu, pasti akan ada masa bahagianya. Karena usaha dan doamu tidak mungkin Allah tidak dengar. Ia tau kapan waktu yang tepat memberikanmu cahaya dan terangnya kehidupan.
Kelak kamu akan memiliki sebuah keluarga, dan mulai mengajarkan kehidupan pada anak-anakmu, memberikan kekuatan pada mereka bagaimana harus bertahan dan mempertahankan, membisikkan pada mereka bahwa nanti mereka akan menjadi lebih baik darimu. Kapal yang besar akan melahirkan kapal-kapal kecilnya, seperti ini perputaran dunia.
Syukurilah keluargamu, darinya kamu tumbuh, dan darinya kamu belajar kehidupan.
@jndmmsyhd
Pesan yang ingin disampaikan tak lain adalah bahwa Ketika seseorang mati-matian mengejar dunia, maka dia tidak akan pernah merasa puas, karena dunia ini tidak akan pernah ada ujungnya. Sedang manusia itu seringkali merasa kurang. Padahal Allah hanya menurunkan 2, Kaya & Cukup. وَاَنَّهٗ هُوَ اَغْنٰى وَاَقْنٰىۙ " dan Sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan".(QS. 53:48). . . Jadi, kalau diantara kita, khususnya saya, yang masih merasa kurang,barangkali kita belum mengenal Allah seutuhnya. https://www.instagram.com/p/CAEyJOnjfhD/?igshid=y5cnywvoluml
رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ . . . #quantumakhyarinstitute #ramadhan1441 #alquran #hijrahkuy https://www.instagram.com/p/B_31pWXp4mn/?igshid=1w0rdhu2m5zn
Perkara hati itu sulit diterjemahkan. Jadi, berhati-hatilah dengan Hati. #hijrahkuy #wanitabercadarindonesia #niqabsquad https://www.instagram.com/p/B_rMVbJJjWJ/?igshid=j01qi2abt5h6
وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
Q5. 8:33
Hasan Al-Basri berkata : “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalain, di jalan, di pasar, di dalam majelis-majelis kalian, dan dimana saja kalian berada. Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan
Di zaman Rasul, perbuatan-perbuatan kaumnya sudah menjadikan mereka layak untuk diazab, akan tetapi Allah tidak mengazab mereka sepanjang Rasulullah SAW. masih ada di tengah-tengah mereka. Dan di zaman kita, zaman yg sudah tak ada lagi beliau di atas bumi ini, apa yg bisa menghalangi datangnya azab Allah? Jawabannya Allah sampaikan di ayat tsb. Bahwa sesungguhnya perbuatan manusia saat ini bisa jadi telah melampaui batas dan sebenarnya sudah layak untuk diazab. Tapi, diantara mereka-mereka, ada yang senantiasa beristighfar, memohon ampun kepada Allah SWT. Jika kita mmg tidak mampu menjadi salah satu peminta taubat untuk menahan azab Allah, setidaknya bukan kita yang mengundang azab dan murka itu.
Ramadhan bulan ampunan.
#ramadhan #perbanyaktaubat #istighfar https://www.instagram.com/p/B_g0T-uJDgF/?igshid=vtsmcgdv4eji
Lebih baik kita berhenti sampai disini. Jalan kita tidak Allah diujungnya. Mari menepi dan mengambil jalan menuju Allah… #hijrahkuy #febriawanjauhari #jalanhijrah https://www.instagram.com/p/B_KU0m_pE1K3hjbpsbzpT-Swj0kp1_MlBOmilg0/?igshid=lk90d4sasrvb
Beberapa dikutip dari buku #ADAM (Page 4&5) #ramadhankareem🌙 #doa #tawakkal #hijrah https://www.instagram.com/p/B-_9TLyJg7fawayux5wJN2fqx7cTw_3PlhR3Hs0/?igshid=1tfz05ypb4lvy
"Jika engkau ditempatkan di titik terendah, itu hanya supaya kau bis menengadah". . . "Sebab kelemahan itu bukan kehinaan. Tapi tanda bahwa kita perlu pelengkap." . . #ADAM https://www.instagram.com/p/B-6zKfApZfYdyv6T1UoyDYUFwB8lE7jttwvdQs0/?igshid=dq4vgolwwmdn
Teruntuk perempuan-perempuan yang masih memikirkan masa lalu..
Mungkin ada seorang lelaki yang mempunyai niat baik untuk menjadikanmu sebagai penyempurna agamanya, yang selama ini memilih untuk berjuang membekali dirinya agar pantas menjadi seorang imam yang baik dimata-Nya.
Seorang lelaki yang selalu menjaga hatinya, seorang lelaki yang selalu menjaga pandangannya, seorang lelaki yang hanya menggantungkan harap kepada Rabb-nya, seorang lelaki yang selalu memohon petunjuk-Nya.
Tapi kemudian dia urung setelah melihatmu menuliskan pengharapan kepada sosok lain yang begitu dirimu istimewakan. Sosok yang belum tentu baik untuk dirimu, sosok yang belum tentu baik saat membersamai.
Terkadang itulah cara Allah menjawab doa seorang hamba yang jujur memohon petunjuk-Nya.
Dan kamu.... semoga mampu membaca dengan baik pesan dari tulisan ini.
“Bulan puasa tak datang selalu. Selagi boleh puasa, puasa. Selagi mampu terawih, terawih. Jangan lepaskan tawaran berganda daripada Tuhan.”
—