Dan hari ini tatapan ku jauh pupus di awang. Aku sedang bertanya mengapa para gadis cantik berhijab hampir selalu memilih menikahi duda? Apa karena mereka Mapan, pengalaman, dan pernah jatuh lalu mengerti artinya sakit sehingga jadi sebuah pilihan? Bolehkah mengagumi gadis berhijab itu karena tampak ketaatannya, aku percaya pandailah ia memilah siapa yang pantas mengimami kehidupannya. Pandailah memilah nahkoda yang pantas untuk mengarungi samudera yang akan ia arungi. Dan aku bersiap untuk itu, -‘biarkan sementara waktu aku bejat seperti ini setelah berjumpa gadisku nanti, aku akan berubah’-. -'nanti saja! masa muda hanya satu kali nikmati saja dulu setelah berbuntut nanti kau takkan menikmatinya lagi hari-hari seperti ini’-. Dan kau dari kegelapan berbisik tepat ditelinga menepuk-nepuk punggung untuk maju saja pada kemaksiatan masa muda. 'Karena pernikahan adalah soal nanti sekarang waktunya memilah’ terus saja engkau pekat, bergemuruh seorang diri diantara hati dan nafsu, padahal tugas kita memuliakan para calon ratu yang akan membesarkan putera mahkota dan puteri jelita kita. Bila lama berdua, membangun awang-awang bersama lalu pupus dan senyap, hilang udara diantara sekat-sekat bayangan masa depan itu. Ratu pergi dan bersunting dengan raja lain yang lebih taat, apa hendak dikata? Apa kau akan kembali “nikmati saja masa muda itu, berusaha sempurna nanti saja bila telah SAH”? Dan sampai kapan?