Kehidupan di Bintaro, jujur, mengubahku habis-habisan.
dari segi “menjadi seorang mahasiswa” sekaligus “jauh dari orang tua”.
Sebelumnya Bunda sudah memprediksi bahwa aku adalah putrinya yang kelak akan merantau, tidak sulit, ia memprediksi dari seberapa dekat kami berdua. Ya, aku adalah putrinya yang betah sekali dirumah, tidak seperti adikku yang suka main atau kakakku yang tinggal di Ibu kota dan bagi ibuku, siapa yang paling dekat dengan ibu akan ditakdirkan untuk hidup di tempat yang jauh. Hmm keyakinan macam apa itu, entahlah~
Tanah perantauan banyak mengajarkanku tentang kehidupan, mulai dari mencintai kebersihan sampai kritis terhadap masalah disekitarku.
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung adalah pesan yang Bunda selalu ingin aku ingat-ingat. Aku mempelajari banyak hal dari Bunda, bisa dibilang mungkin aku lolos dari seluruh teori yang ia ajarkan namun kenyataannya aku buruk dalam praktik. Hmm, beberapa akan kuceritakan disini.
Tanah perantauan mengajarkanku untuk selalu bersikap ramah dan sopan, begitulah seharusnya manusia sebagai makhluk sosial tetapi bagi perempuan yang keluar-rumah-hanya-sekolah-atau-ke-warung-depan-rumah sulit sekali bagiku untuk menerapkannya.
Beruntung aku mendapat keluarga yang tulus menyayangiku dan teman kost lain, jujur, hal tersebut adalah yang paling aku syukuri mengenai perantauanku. Rantau adalah tentang Ibu, Bapak kost dan Mbak Lia (anak ibu kost) di dalamnya berisi aku dan Halimah, Maya dan Ossy, Tiara dan Ati, Mbak Dinda dan Anne.
Tanah perantauan mengajarkanku betapa jarak itu sangat berarti. Bila aku tahu lebih dini akan waktuku di tanah perantauan, aku akan lebih meluangkan waktuku untuk keluarga dirumah tanpa handphone dan event sekolah yang ku ikuti.
Bukan perkara mudah harus mengurangi porsi makan disini, ya, sejak di bintaro aku jarang bahkan tidak pernah makan lebih dari 2x sehari. Itu karena aku tak memiliki kuasa apapun untuk menghabiskan uang pemberian orang tua. Aku mendaftar sebagai guru les matematika dan bahasa inggris untuk siswa SD dan SMP, memperbanyak diriku dengan puasa dan gemar berburu promo atau makanan murah dengan porsi banyak. Nah, karena makanan disini, aku sangat merindukan Jogja yang serba murah dimana-mana.
Menjadi tekanan ketika aku mendapat nilai jelek dalam kuis, ketika Bunda dan Bapak sangat berharap padaku di Jogja.
Di tanah rantau, last but not least, aku membuktikan bahwa hanya doa yang mendekatkan jarakku pada Bunda dan Bapak di Jogja.