Cal Newport dalam bukunya Deep Work menyebut istilah : Shallow Work.
Shallow Work adalah sejenis aktivitas yang dangkal, kelihatan sibuk, namun tidak berdampak signifikan buat peningkatan skills dan income kita.
Salah satu contoh shallow work, menurut Cal Newport ya itu tadi : berjam-jam sok sibuk menghabiskan waktu untuk main game (seperti Pokemon Go, Dota, Class of Clans dan sejenisnya) via smartphone atau laptop.
Waktu yang sangat berharga, yang bisa dipakai untuk melakukan deep work dan deep thinking demi peningkatan skills, terbuang percuma lantaran berjam-jam dihabiskan untuk main game di smartphone.
Selain main game yang hanya buang-buang waktu untuk fun, contoh shallow work lain menurut Cal Newport adalah ini : terjebak dalam distraksi notifikasi onlie via smartphone.
Distraksi smartphone itu terus mengalir, always on, via notifikasi grup-grup WA yang diikuti, atau browsing status di FB atau Instgram, atau menghabiskan waktu untuk membaca berita online yang acap mutunya seperti sampah.
Itulah bahaya laten yang merampas waktu produktif kita. Waktu berharga yang mestinya bisa digunakan untuk meningkatkan skills dan income, terbuang percuma dalam layar smartphone yang destruktif.
Gangguan online tanpa henti dari smartphone seperti itu, menurut Cal Newport, acap membuat kita gagal melakukan “deep work” dan “deep thinking”. Deep work artinya menghasilkan karya yang wow, yang butuh fokus, kedalaman serta konsentrasi yang tajam.
Bahaya laten smartphone lain adalah ini : menjebak sel otak kita untuk terbiasa berpikir melompat-lompat – klik ini, klik itu, tap ini tap itu, scroll, scrol dan terus berputar seperti itu.
Smartphone mendidik kita untuk tidak pernah bisa fokus dan selalu “tergoda” untuk terus bergerak mengikuti aliran informasi online atau distraksi notifikasi.
Dalam jangka panjang, proses seperti amat kelam dampaknya. Sebuah riset neurologi membuktikan kini makin banyak anak-anak muda generasi digital yang sulit membangun konsentrasi panjang (misal membaca buku 50 halaman, atau menekuni sebuah pekerjaan yang menuntut deep thinking).
Attention span kita menjadi makin pendek – dan selalu ingin bergegas (mirip seperti saat kita asyik main smartphone).
Akibatnya bisa fatal : sel otak yang terjebak seperti itu jadi makin sulit diajak untuk menekuni sebuah problem sulit yang menuntut ketekunan dan konsentrasi tajam.
Daya kegigihan dan ketekunan kita untuk melakukan deep work dan deep thinking jadi makin redup dihancurkan oleh layar smartphone.
Cal Newport menulis : tanpa kecakapan dan ketekunan melakukan deep work, Anda hanya akan jadi pecundang, dan tidak pernah bisa menghasilkan karya yang cetar membahana.
Mungkin itulah fakta pahit nan kelam tentang “smartphone paradox” : smartphone yang kita pakai ini makin hari makin cerdas teknologinya. Smarter machine. Namun sayang, gadget yang kian cerdas itu kadang justru makin membuat penggunanya makin bodoh dan primitif.
Tanpa kesadaran untuk menjadi kreator yang kreatif, jutaan konsumen smartphone hanya akan selalu terjebak dalam euforia, persis seperti kegilaan Pokemon Go yang kini tengah meledak.
Artikel dikutip dari blog Strategi Manajemen - Yodhia Antariksa.