Bagaimana aku melukismu? Sedang kamu sibuk menatap bentang langit yang dulu, wajahmu menolak liuk kuas milikku. Hingga sekarang kanvas ini tetap kosong seperti dulu. Bagaimana aku melukismu? Matamu lebih dulu menghantam pijar harap yang kupancar. Kiranya aku terpaku dalam nalar. Seketika aku tersadar, kamu masih sama seperti dulu, dalam kelas berubin memar. Aku tak pernah mengucap terimakasih padamu telah membawakan rumah yang kurindu. Karena kamu tiba-tiba pergi… Dan untuk pertama kalinya aku patah hati. Hari ini Aku melihat matamu, sama. Hanya saja tak sepaham dulu. Setelah bertahun lama. Tidak sadarkah, atau hanya berpura luput bahwa aku di lain sudut, menatapmu. Menanti kapan tanpa sengaja kita berpapas, lalu kuselipkan amplop terima kasih. Dan kamu membukanya di kamar sembari tersenyum. Ah, fantasi. Tapi hari ini. Juga membuatku bangun dari mimpi. Semua berbeda, tak ada sapa meski sama. Kita bertemu hanya lewat mata. Juga sungging senyum tipis. Dan sedikit debar redup yang kecewa oleh waktu. Kita berdialog dalam sunyi, di antara keramaian yang bising, dengan tembok besar yang tak tertembus. Kita berpisah, juga dalam debu yang menyatu. Entah kapan lagi kita bertemu. Setahun… dua tahun… atau… tak pernah lagi. Punggungmu menjauh, mendekati gemintang, menjemput awan, dan melukisnya dalam langit matamu. Ruang hampamu berwarna. Langkahmu begitu jauh, seperti dulu ketika kamu pergi, dan tak pernah kembali lagi.
Sebuah prosa bertajuk Gemintang. Dituliskan oleh shiningramadhan, dan disuarakan dalam Soundiary dengan beberapa perubahan.
Purbalingga, 12 Juli 2015.












