Pingin nambah koleksi Soundiary; ada ide? Ada yang mau kolaborasi?
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Yemen

seen from United States
seen from India
seen from Ukraine
seen from China
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from India

seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Türkiye
Pingin nambah koleksi Soundiary; ada ide? Ada yang mau kolaborasi?
apa daya kalau jarak kita sudah sejauh jurang yang nganga oleh luka. kamu boleh jadi kamu. tualang setia yang mendulang embun di ujung daun, sampai titis habis mengejar fajar. sedang aku tersipu, merupa segurat senja di penghujung hari yang hendak mengakhirkan diri. . . *halo, buat yang tanya kapan soundiary nambah koleksi lagi, terimakasih atensinya dan mohon maaf karena belakangan saya belum sempat main-main soundcloud atau produksi ceracau sebagaimana biasa. bahkan aplikasi cool edit pro di laptop saya sampai keluar sarang laba-labanya saking jarangnya dijamah (abaikan!). mungkin minggu depan saya akan berusaha untuk lebih produktif dan kembali membuka gudang aksara. maklum ya, lagi 'jauh' sama si tukang inspirasi. keep in touch dan keep kepo-ing soundiary yaa* . . #RupadalamAksara #senjasewarnasaga #dearsoundiary #tumblr #soundcloud #mendadaksastra #sastrainaja
(dearsoundiary)
(dearsoundiary)
(dearsoundiary)
(dearsoundiary)
Kita selalu punya rahasia; misalnya kumpulan omong kosong yang kita anggap surat cinta dan mimpi-mimpi gila yang dituliskan di atas kertas, dimasukkan dalam bekas botol wiski bersumbat gabus, dan kita pendam di bawah tiang ayunan taman kota.
Kita selalu punya janji; tentang kecupan dan pelukan yang ditangguhkan musim, karena naifku waktu itu—bahwa hal-hal menyenangkan harus kita nikmati jika sudah sungguhan dewasa—bukan oleh siswa sekolah menengah yang masih menyeka hidungnya dengan ujung kerah.
Kita selalu memiliki satu sama lain; kecuali jika ada yang mulai mengingkari dan menghilang tanpa alasan.
Kita selalu punya alasan untuk bertemu; apabila tak ada salah satu yang mulai pasrah dan menyerah, muak dengan keadaan dan disudutkan oleh alasan-alasan untuk menghilang yang lebih masuk akal.
Kita selalu punya semua itu.
Sayangnya…
Kita tidak pernah punya daya untuk menyatukan beda. Hingga pada akhirnya tiba di titik nadir; berdebat tentang siapa yang paling layak dibenarkan, padahal sama-sama tahu bahwa nilai kebenaran hanyalah sebatas sudut pandang. Bahwa kebenaran bisa saja rekayasa akal pikiran manusia.
Kemudian tidak ada yang bisa mengelakkan, bahwa pada akhirnya kita berdua harus sama-sama berpura dungu; berpisah atas pasrah pada sebaris kalimat magis ‘untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku’.
Kita habis. Dan hebatnya, aku tak berminat untuk menangis.
Sekarang lihat, siapa yang paling bisa mendebat? Siapa yang berminat menyalahkan nama Tuhan yang rumah-Nya beda alamat? Siapa yang sudi melonggarkan rosario atau tasbih yang sudah melekat? atau, masalah memprioritaskan destinasi ziarah—Yerusalem atau Mekah?
Tidak ada!
Kita hanya tak bisa menyatu. Dan sekarang sama-sama saling menertawai masa lalu; tidak ada yang salah dengan beda—melainkan kita pribadi yang mempersenjatai diri untuk berpisah dengan alasan ini.
cc: @narasibulanmerah @tumbloggerkita
SENJA ABADI
Dalam diam; hatiku tidak bungkam. Ada nganga tanya yang besar di rongganya Siapa sangka kau bisa jadi penebar bahagia, menyuapiku dengan morfin yang tak pernah berhenti memaksaku untuk ‘ingin’, untuk menghirup lagi aroma kulitmu yang menguarkan kehangatan musim paling berbunga di hutan hujan yang liar. Lalu, untukku, seberapa lama kau akan bertahan? Tidak pergi, sekalipun malam memberi jeda untuk mimpi-mimpi. Tidak jengah, ketika aku mengajakmu menari di tengah badai yang tak pernah ramah. Atau sekedar memungut kulit kerang warna ungu, di pelataran Samudera Hindia yang pasirnya selegam kopi—di kota kecil kita. Setelah malam datang, Betelgeuse akan jadi saksi bagaimana kita basah dan mendesah. Bersenggama dalam hening tanpa kata-kata, melainkan hanya ada suara debur buih-buih ombak yang sengaja mencumbui dua pasang kaki anak manusia, yang saling tumpang tindih diantara sayup rintih. Lalu, setelah lewat masa subuh yang berpeluh, adakah kau berencana untuk memulas langit pagi agar jadi jingga atau saga, dan menghadiahi senja abadi? Sebuah prosa oleh Soundiary, dibacakan di Purbalingga, 22 November 2015. Terimakasih kepada Ruang Damai yang telah mendendangkan Sesal, menginspirasi dan mengisi sunyi. Salam, senja sewarna saga. *PS: dengarkan dengan headset atau earphone, lebih syadu