Apa Aku Terlalu Mencintai Kehilangan Sendiri?
Kehilangan. Melahirkan ketakutan yang kian meranggas keinginan untuk melangkah kembali. Meski bibir berkata beda, tetap saja mata ini masih mencuri pandang pada waktu silam. Pada sepotong senyum yang dulu katanya abadi, tetapi kini telah hilang. Pada sebuah perasaan yang gugur tercabik-cabik. Kepergian telah menjadikannya busuk bersama detik-detik yang telah beranjak dari kisah itu. Aku masih di sini, menatapi senja seakan kau masih di sampingku–menikmati laut yang katamu begitu menenangkan. Mendengarkan gemuruh ombak menghampiri kaki-kaki di atas pepasir. Kita sama. Aku mencintai senja. Kau mencintai laut. Begitu pun sebaliknya. Dan, ya, aku mencintaimu. Namun, kalimat terakhir hanya menjelma pahatan pada kenangan-kenangan yang tak sampai di perasaanmu. Yang mati di jantung kata-kata perihal bahagia. Pada tetiap momen ada kita dan diam-diam aku mencoba memberimu sebuah ikatan. Sayangnya, aku terlalu takut kau tidak mencintaiku juga. Hingga hanya sesal yang masih menggantung di ruang-ruang perasaan. Aku selalu membicarakan hal yang sama: perpisahan, luka, dan kesepian. Kau mungkin lebih suka membicarakan bahagia atau apa pun yang takbisa kutawarkan untukmu. Entah memang bodoh atau memang tidak percaya diri saja, aku takbisa berhenti merutuki diri sendiri. Kalah oleh kehilangan sendiri. Atau justru aku yang terlalu mencintai kehilangan? Entahlah. Aku tidak tahu jawabannya. Jakarta, 23 Februari | 15.45 PM
Ini sedih. Menyedihkan, seperti aku yang sedang mengasihani diri sendiri.











