Tulisan ini karya dekozy @bulangerimis, yang saya bacakan bersama deknorma @noroum. Boleh cc ke @kitajateng lah ya. Selamat mendengarkan! :)
Kepada Keyla dan Ternate
Aku sudah tak menghitung berapa batang rokok yang terhisap semalaman tadi, menjelang pagi ini, rasanya pecah sekali, semuanya tumpah ruah dalam segelas teh hangat yang ibu buat pukul lima tadi.
Key, aku mulai takut, ini baru hari ketujuh menulis surat; artinya, masih ada dua puluh tiga hari lagi untuk menulis segala sesuatu di sini, dan aku sudah mulai kehilangan kata-kata untuk menulis. Sebenarnya banyak sekali yang ingin kutuliskan, namun alih-alih menjadi sebuah draft, ditinggal tidur sebentar saja nanti setelah bangun sudah hilang semuanya.
Semalam aku berandai-andai, Key. Bagaimana rasanya jika mengunjungi tanah kelahiranmu yang kata orang-orang begitu damai, Ternate. Mengetuk pintu rumahmu kemudian berkenalan dengan ibumu, setelah itu tersenyum melihatmu menumpahkan rindumu kepadanya yang jatuh dalam sebuah pelukan haru. Aku mengingat betul, dulu saat waktu kita masih sering menghabiskan waktu bersama sembari menunggu hujan reda, kau selalu bersemangat sekali menceritakan tanah timur itu, menceritakan padaku tentang kerinduan segala hal yang ada di sana. Memberitahuku bagaimana kau menikmati pergantian warna langit di Pantai Natsepa.
Aku selalu penasaran, Key. Bagaimana rupa Ambon, apakah dia secantik mukamu, ataukah seperti Jakarta, bak perempuan yang baru saja datang bulan.
Kemudian nanti di sana kau meminjamkan padaku sebuah pelukan, menikmati pasang surut air laut dan speed boat yang berlomba lomba menantang arus di Ngur Boat, Tual. Merasakan matahari yang membakar sekujur tubuh ketika berjalan di Pulau Marlasi, Mengasingkan diri beribu-ribu kilometer dari Yogyakarta, duduk menunggu langit menumpahkan air matanya di bawah pohon kelapa di Kepulauan aru, Menyaksikan senja yang berangsur pudar tepat di depan mata kita, kau berbisik kepadaku, “Sekarang, tempat mana yang lebih damai dari perpaduan tanah timur ini dan setangkup pelukku?” Aku pasti akan terdiam seketika, mengecup lembut keningmu sambil mengacak-acak rambutmu pelan-pelan. Sesampainya di Ternate lagi, aku memelukmu erat erat. Kau mengucapkan sebuah perpisahan.
Aku takut, jika tulisan ini kuteruskan, seluruh Maluku tak akan bisa membendung hujan yang jatuh dari mataku, menahan rindu kepada seorang perempuan yang mereka lahirkan dari Rahim Ternate, Keyla.
Ternate yang damai, begitu katamu..
tautan asli
http://bulangerimis.tumblr.com/post/138759850830/kepada-keyla-dan-ternate














