Ra - Side Letter
Hai Ra, sudah lama tak ku dengar kabarmu, masih sama kah senyumanmu? Atau saat ini kau sedang bersedih atau mungkin marah dan geram terhadap sesuatu? Banyak sekali hal yang sudah terjadi di tahun ini ya Ra? Tak terasa kita sudah masuk di sepertiga akhir tahun. Mungkin beberapa rencana kita tak tercapai di tahun ini, tapi pasti tetap banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil kan Ra?
Ra, ku tahu mungkin kau tak akan sepeduli itu dengan media sosial lagi tapi ku juga dapat memastikan bahwa kau tak akan ketinggalan berita apapun yang sedang banyak dibicarakan orang akhir-akhir ini, kan? Dari permasalahan aneh tentang konspirasi, penggunaan sebuah kata ambigu yang dianggap dapat merusak moral serta beberapa berita hangat yang seolah-olah sebuah kebenaran yang perlu disampaikan atau mungkin membenarkan suatu tindakan?
Kita sama-sama sadar Ra, bahwa kebebasan berpendapat adalah milik semua orang, tapi bagaimana jika seseorang tersakiti dengan apa yang selama ini kita ucapkan? Apakah mereka juga berhak berbicara saat sedang tersakiti oleh kebebasan kita? Jawabanku kau pasti mengerti sendiri Ra.
Kau pasti tau kan Ra kenapa aku selalu menuliskan bahwa aku adalah pejalan disetiap sosial media? Yep, jawabanmu tepat. Karena dalam perjalanan kita menemukan kebebasan, dalam perjalanan kita akan banyak belajar. Tapi saat berjalan pun kita juga akan sadar bahwa kebebasan kita selalu terbatas, terbatas oleh kebebasan-kebebasan orang lain.
Makin kesini makin aneh saja memang orang-orang ini Ra, atau mungkin karena pandemi sialan ini yang membuat mereka menjadi aneh? Mempermasalahkan sebuah kata yang maknanya ambigu, menanyakan sebuah pengetahuan dimana yang menayakan itu tak ahli dalam hal itu, dan merasa bebas berpendapat terhadap apapun karena berprinsip bahwa kebebasan adalah milih semua.
Ah, lagi-lagi aku terlalu peduli dengan dunia yang sudah sejak awal carut-marut. Lagi-lagi aku mempermasalahkan sebuah permasalahan yang sebenarnya tinggal ku hindari saja dari layar kaca. Tapi memang begitulah tabiat manusia Ra, begitulah kita yang selalu saja ingin tahu apa dan kenapa, ingin tahu kapan dan bagaimana hingga akhirnya mengapa.
Harapan yang tersisa di tahun ini hanya satu Ra, semoga pandemi sialan ini cepat berakhir. Kita sudah lelah harus bertahan, harus menepi, harus berhenti. Ku rasa cukup sudah kita beristirahat dari hiruk-pikuknya dunia, sudah waktunya kita kembali melangkah, sudah sepantasnya kita kembali bergerak. Karena seorang pejalan akan kehilangan makna pulang saat semua jalan ditutup dengan alasan paling menyebalkan, kesehatan.















