Merasa Tak Pantas
Sekumpulan pertanyaan-pertanyaan hingga doa-doa keputusasaan tahun lalu.
Seorang teman kemarin tiba-tiba meminta maaf padaku, ia meminta maaf jika sikapnya tak baik, selalu acuh padahal ia selalu diperhatikan oleh orang banyak, hingga ia merasa tak pantas mendapat perlakuan baik dari orang lain. Aku bilang padanya kalau ia boleh merasa tak pantas dan hal itu wajar, karena aku sering merasakannya pula.
Merasa tak pantas. Tahun lalu perasaan itu yang selalu datang menjadi momok menakutkan setiap tengah malam. Aku terjaga hingga pagi, suara masjid-masjid sudah bergema memutar bacaan ayat-ayat suci saat itu aku baru bisa terpejam. Satu jam kemudian aku bangun melakukan sembayang, kemudian melanjutkan tidur hingga beberapa jam.
Dua tahun lalu aku percaya bahwa kegagalan kisah cintaku dengan seseorang tidak akan berpengaruh pada diriku, karena kami sempat berpisah sebelum memutuskan kembali dan akhirnya berpisah lagi. Namun aku salah, ternyata itu hanya berlaku dalam logika ku. Perasaan manusia tak bisa dibohongi walau dengan dalih penggunaan logika dan fakta.
Aku masih mempertanyakan apakah sebenarnya aku ini pantas bersanding dengan seseorang lagi? Apakah masih pantas aku mendapat perlakuan baik dari orang-orang sementara masa lalu ku sendiri cukup kelam?
Pertanyaan itu selalu berputar-putar, mengiring kenangan-kenangan lama kembali. Sambil ku teliti bagian mana yang salah dalam keputusanku atau memang aku tak pantas dipertahankan lagi? Tak pantas diberi kesempatan lagi sementara aku selalu memberi kesempatan pada orang-orang?
Kelam. Dalam. Curam. Aku terjatuh dalam pertanyaan-pertanyaan kepantasan diri dan kubangan kenangan. Aku mengumpat, aku mengutuk, aku marah, aku kecewa, entah pada siapa. Aku menyangkakan kalau kemarahanku ini ku tujukan padanya yang memilih pergi. Tapi ternyata kemarahan itu sebenarnya tertuju padaku sendiri.
Padaku. Seseorang yang jika ku pikir-pikir memang tak pantas diberi kesempatan lagi, tak pantas untuk dicintai lebih dari apa yang sudah pernah diberikan, tak pantas dikasihani karena nyatanya aku seorang bajingan keji.
Pandemi membuatku mengurung diri dalam kamar. Keluar hanya untuk makan dan buang air besar. Melarikan diri dari tanggung jawab yang seharusnya ku selesaikan. Menghamburkan tabungan untuk buku-buku, walaupun sebelumnya sudah ku habiskan untuk pergi dari satu kota ke kota lainnya.
Pagi ku habiskan untuk menutup kekurangan jam tidurku semalam, siang hingga sore ku ajak pikiranku berkelana melalui buku-buku, malam hari saat semua orang sudah bermimpi aku masih terjaga. Mengutuki diri ku sendiri atas ketidakpantasan diri dan nasib yang memang tak berpihak padaku.
Aku bertanya-tanya lagi. Sekali lagi. Ku ulangi lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. Apa aku ini memang pantas untuk tetap hidup? Untuk tetap mendapat perhatian dan cinta dari orang-orang lain?
Aku berubah dari orang yang periang menjadi perenung. Orang yang selalu membalas setiap pesan orang lain secepat mungkin karena takut mengecewakan, menjadi orang yang acuh pada urusan orang lain. Aku sudah mulai tak peduli dengan ucapan, pertanyaan bahkan nasihat dari orang-orang. Perhatian-perhatian dari kawan, keluarga dan kerabat aku acuhkan karena aku merasa tak pantas.
Dua bulan aku mengurung diri dalam kamar. Mengutuk diri merasa tak pantas dan ingin mengakhiri hidup secepatnya. Jika orang-orang berdoa pada Tuhan untuk bisa bertahan lama di dunia, aku meminta Tuhan untuk mempercepat jatahku hidup di dunia.
Hingga mungkin Tuhan memberiku pertanyaan lain. Kalau aku merasa tak pantas bukan berarti selamanya aku tak pantas kan? Jika Tuhan masih tak mengabulkan doaku untuk bertemu dengan-Nya secepatnya, berarti Ia masih memberiku kesempatan untuk menjadi pantas kan? Lagi pula kalau Tuhan memanggilku pulang secepatnya, aku belum membalas apa-apa pada semua orang yang menaruh percaya dan harap padaku.
Aku belum membahagiakan ibu, belum membalas keringat bapak, belum menjadi kakak yang bisa dibanggakan adiknya, belum bisa menjadi sahabat yang bisa diandalkan kawannya, belum menjadi apa yang dulu sempat ku cita-citakan, meskipun pertanyaan baru tentang cita-cita muncul aku tak begitu memikirkan masa depan.
Tahun ini aku sadar bahwa jika aku merasa tak pantas maka aku perlu berusaha agar pantas, selama Tuhan belum mengabulkan doa-doa putus asa ku, maka aku perlu berbenah. Masa lalu ku memang kelam, penuh caci dan dengki, penuh hujat dan hasut, tapi masa depanku masih layak ku perjuangkan bukan?
Hari ini, aku beberapa kali masih merasa tak pantas, lalu aku masih beberapa kali tidur hampir pagi, tapi tak sesering dulu. Aku sudah bisa tidur sebelum tengah malam kemudian bangun pagi hari dan menghadapi kenyataan. Bahwa sebenarnya aku ini memang pantas mendapatkan kebahagian, mendapatkan perhatian, pantas untuk dicintai, setidak-tidaknya olehku sendiri.
Terbit di vatqi.medium,com pada tanggal 18 Oktober 2021








