Masa, Depan.
Aku memang tidak mahir untuk mencinta, dan juga aku memang tidak lahir untuk mencinta. Aku hadir untuk berjuta cerita, yang lahir tak terduga. Salah satunya : berjumpa kamu Anda.
Menjumpai Anda, saya selalu berupaya, menepiskan ego. Lalu diam-diam, mengajak hati untuk bernego. Tentang langkah-langkah selanjutnya, menciptakan segores senyum di wajah Anda. Sesuatu yang selanjutnya membuat pagi saya cukup indah cerah.
Tidak usah terburu-buru. Jangan juga meragu-ragu. Waktu bisa menunggu. Anda pun masih harus mencipta lagu. Lagu yang akan mungkin nantinya kita nyanyikan di suatu sore yang sendu.
Cukup ambil saja secarik kertas, ditambah secangkir kopi. Lalu tuliskan daftar doa dengan tegas. Setelah hari-harimu yang keras. Doa kepada Sang Pemilik Jagat yang Luas.
Kepada kamu Anda, saya titipkan masa. Kepada Anda, saya titipkan depan. Kepada Anda, saya titipkan : Cerah.
—
Medan, 06/03/2017












