Sebelumnya aku cerita tentang gimana aku menjelaskan soal semesta dan waktu dari perspektifku yang masih terbatas.
Tapi kalo dipikir-pikir, mungkin sebenernya aku lebih ngerasa tertinggal dibandingkan sama temen-temenku. Aku juga yakin bukan cuma aku yang ngerasa begitu, tapi mereka dan orang-orang lain juga.
Kita nggak bisa ngerti kenapa perasaan itu muncul. Nggak bisa jelasin. Tapi itu beneran ada. Aku yakin. Gimanapun versi mereka.
Mereka bilang aku orang yang kompetitif. Katanya aku itu punya prinsip yang harus terus maju, harus terus berkembang, pikiranku harus jauh ke depan buat antisipasi, harus terus ini dan itu. Tapi hal itu juga yang jadi kelemahanku.
Gara-gara itu rasanya aku ngebatasin kebahagiaanku sendiri. Apa yang sebenernya bikin aku bahagia dan seneng.
Jelek banget.
Sedih rasanya.
Kenapa aku harus ngerasa tertinggal dibanding temen-temenku?
Aku nggak ngerti. Tapi perasaan kayak gitu muncul begitu aja.
Mereka bilang aku harus lebih fokus ke diriku sendiri. Fokus sama apa yang aku lakukan dan apa yang ada di depanku.
Tapi menurutku ketika ada orang ketemu seseorang yang melakukan hal yang sama dan entah gimana caranya lebih baik dan lebih berhasil daripada apa yang dia lakukan, pasti dia bakal cari tau. “Eh, kenapa ya orang ini bisa kayak gitu?”
Meskipun begitu...
Aku tetep bersyukur sih.
Aku sering denger pengalaman dari orang-orang yang kutemui.
Seorang wanita pengusaha bakpia sukses.
Seorang eksekutif yang naik kereta ekonomi.
Main UNO sama keluarga orang asing yang baik hati.
Seorang wanita petualang yang rindu panasnya aspal jalanan.
Seorang abang ojek online yang bikin aku kayak sidang skripsi lagi.
Seorang ibu ojek online yang sengaja banget ambil jarak yang jauh karena lagi ngambek sama suaminya.
Seorang seniman yang ngomong tentang ajining diri ing lathi (kepribadian yang murni ada dalam perkataan) jauh sebelum itu tenar banget di sosial media.
Seorang yang...nggak tau.
Kalo dipikir-pikir luar biasa banget.
Tapi apa yang kalian liat, bukan berarti apa yang kalian tau.
Orang-orang ngeliat aku sebagai aku yang keren. Serba bisa. Pinter. Rajin. Terarah. Terkontrol.
Mereka nggak tau apa yang aku hadapi. Mereka nggak tau gimana aku meragukan diriku sendiri, penyesalan, tekanan, kecemasan, kesedihan.
Tapi semua orang ngalamin itu. Seenggaknya.
Makin lama aku makan sadar dan belajar sedikit-sedikit, kalo perasaan nggak boleh tertinggal dan harus maju itu... bentuk salah satu dari aku nggak cinta diri sendiri?
Bukan berarti aku nggak cinta diriku sendiri.
Aku cinta diriku sendiri. Rasanya sih.
Aku cuma nggak puas dimana aku berdiri sekarang.
Aku belum bisa nerima diriku di titik dimana aku berdiri sekarang.
Aku nggak terima semua yang aku lakukan belum keliatan ujungnya.
Tapi siapa yang sebenernya nyiptain hal itu sih?
Darimana ukuran itu muncul? Aku sebenernya di belakang mana? Di belakang apa?
Semua itu cuma ada di pikiranku aja.
Beneran deh.
Hidup itu nggak bisa diprediksi dan dihitung.
Dan pas aku ngelakuin itu, memprediksi dan menghitung semesta, aku makin kecewa. Rasanya capek.
Aku sadar kalo semua orang pasti ngalamin ini. Entah gimana bentuknya. Sayangnya aku masih belum ketemu gimana caranya agar aku meyakinkan diriku.
Aku harap hari itu bakal dateng. Buatku meyakinkan diriku, menerima diriku. Aku ya aku. Aku ya gimana aku. Aku melakukan hal yang terbaik buatku.
Aku yakin pasti nggak ada lagi yang namanya aku bilang kalo aku di belakang orang lain, nggak ada lagi ukuran itu, nggak ada alat yang nunjukkin kalo aku ada di belakang orang lain. Karena emang pada dasarnya hal itutu udah salah dari awal.
So, guess who has completed 10 Percy Jackson books in 10 days?
Me, ofc.
I really like the book. Why I didn’t read that since the start? Why now?
Mostly, I CAN’T WAIT FOR THE SERIES!!!
Regarding to my last post about What if I’m a Demigod, I’m gonna tell you. I’m just so happy that I’m not.
p.s. Pardon for my bad English since it’s not my first language. But I’m trying my best! Promise!
Why did you ask? This is what I think.
1. You’re just too cool
Not that I don’t wanna be those cool people, but they're too awesome for themselves. I don't think I could handle the attention of the immortals. Yeah, from the gods themselves, the monster from Tartarus or so. Not to mention, from the mortals. But still, one of your parents is a god! Suddenly you have this power of electricity you can have a competition battle with Pikachu safely. But you won't because he is cute, okay?
Or you have a really good mechanical skill that you'll graduate from your mechanical engineering faculty easily.
And so on, and so on.
When the other kids are busy with their homework, you're busy saving the world from its destruction because of some monster and endangering your life. Cool, right?
2. Your life is in danger
Maybe I'm not on really good terms with my family. The family has it's up and down phase, but I'm lucky that I can still love them somehow. I don't want them in danger. Still, how about you? The gods use demigods for dealing with their problems, help here and there, do this and that. The danger that will face us--mortal--when doing a quest is high that sometimes it'll endanger our life.
Also, the gods might have so many enemies. If those enemies are afraid to show or lash their anger to them directly because the gods are too powerful, they go for us, the demigods. It's scary. Even though you're used in a battle, it's still scary.
What if your godly side parent did something bad and make the other gods from Olympus mad? You can be their target as well. It's not your fault, I know. But okay, don't make them mad too, yeah?
3. So many siblings
It's great when you have so many siblings. When they're kind enough or just adore you, they'll help you genuinely. Maybe they'll give you really good cookies or brownies on your journeys. Or just give you the right direction when you're lost, you won't know.
If not? They'll attack you. Do they care if you're they're siblings from the godly side? Ah, I don't think so.
When you realize you have too many step-siblings from your godly side parent, don't ask, don't think too much. It won't make any sense.
That's pretty much it from my own perspective.
You might be a god's children but you never realize it and that's okay.
Setelah nyambi-nyambi nyari kerjaan sana sini, sambil menggeliat dengan kerja bersama dosen, tapi udah menyelesaikan 5 buku Percy Jackson and The Olympians dalam tiga hari? Who am I kidding? Iya, aku segabut itu meskipun malemnya aku begadang ngejar target kerjaan dosen.
Ini juga adalah bentuk ranting nggak jelas setelah nggak tidur lagi sejak jam 5 sore kemarin sampai jam 9 pagi ini. Hahaha.
ANYWAY, I enjoyed my time reading that book. Udah lama banget aku kepengen nyelesein bukunya dan VOILA, I KIND OF DID IT?!
I’m so proud of myself and now I think that maybe I’m the daughter of--- my mother and father, of course. Hahaha.
Trus, sekarang aku lagi nyelesein seri yang The Lost Hero. Tbh, Jason is not my favorite. Tapi, karena skripsianku tentang siklon dan awan dan oh-ya-aku-pikir-Zeus-keren-tapi-lebih-lucuk-Apollo, I let it slide. A little.
Udah lama banget sejak aku terakhir post dan reblog di Tumblr. Nggak nyangka aja bakal mulai ngebuka lagi, bahkan sampe ngeganti tema! Tapi, dengan segala macam hal yang terjadi sekarang, rasanya aku bakal sering ngomel-ngomel dan nulis-nulis di sini.
2017
Terakhir posting tahun 2017. Apa yang aku temukan di sini adalah massive fangirling dan wow aku kangen banget masa-masa itu. Aku masih suka Yuri on Ice dan perlahan mulai beralih ke fandom K-Pop, terutama BTS. Sampe yang beli album, bikin streaming playlist, dateng ke exhibition.
2020
Sekarang 2020.
Aku udah lulus kuliah. Ternyata selama 3 tahun, secara perlahan aku mulai sadar kalau aku mengurangi intensitasku di dalam suatu fandom. I enjoy the fandom and its excitement, but not too deep anymore. Entah itu fandom anime atau K-Pop.
Wallpaper di hp-ku juga mulai berubah. Kalau kata temenku, “Sabrina udah mulai jadi normies.”
Aku cuma ngebales, “Kita semua perlahan jadi normies, mbak.” Trus senyum sedih. Nggak siap buat jadi dewasa kayaknya.
Halah
Selama tiga tahun belakangan, aku ngalamin banyak banget hal. Ketemu orang yang begini dan begitu. Menarik banget. Dapet dan kehilangan sesuatu. Pesimis dan optimis, sekarang dan nanti. Pretty sure I’m gonna rant it here.
Ini udah masuk minggu kesekian sejak diberlakukannya karantina mandiri di sini. Masih tetep banyak yang keluar rumah, meskipun banyak toko yang tutup juga. Jalanan tetep rame, meskipun tempat ibadah sepi kegiatan.
Semoga ini semua cepat berakhir dalam kondisi terbaik. Sehat terus ya, kamu!