Di saat para pelajar harus menimba ilmu di rumah saja, mungkin mereka ingin kembali belajar tatap muka agar tidak tertinggal secara akademis
Di saat seseorang cuti kuliah karena tak mampu menanggung mahalnya UKT di tengah resesi ekonomi, mungkin ia mengira bahwa ia akan tertinggal dalam waktu kelulusan
Di saat sebuah negara harus menghentikan segala aktivitas pariwisata selama pandemi, mungkin sang pemimpin takut tertinggal dengan negara-negara lain di bidang ekonomi
Anda takut tertinggal? Coba kita ingat-ingat masa-masa sebelum pandemi...
Apakah dulu kita rajin menambah hafalan Al-Quran? Apa Anda tak takut tertinggal dengan para hafiz cilik?
Apakah dulu, kita rajin tilawah dan muraja’ah tiap hari? Apa Anda tak takut tertinggal dengan para calon penghuni surga yang tiada hari berlalu tanpa melafazkan ayat suci
Apakah dulu kita rajin sedekah dengan kecanggihan aplikasi digital masa kini? Apa Anda tak takut tertinggal oleh pemulung sampah yang menjadi penyumbang masjid tiap hari?
Ini bukan tentang kapan pandemi ini selesai, ini tentang banyaknya manfaat yang perlu kita ukir selama raga masih menghela nafas
Keduanya memiliki kata dasar yang sama, namun menyimpan makna yang berbeda. Kalau kamu pilih yang mana?
Terkadang rasanya agak samar-samar. Padahal sepertinya baru saja kita bercengkerama bersama-sama. Berbagi impian dan harapan, juga membahas bagaimana rencana mewujudkannya di masa depan.
Tahu-tahu saja, satu per satu pergi.
Ada yang berlari dengan ambisinya sendiri. Ada pula yang mencari harapan-harapan baru. Sampai tersisa hanya kita seorang diri. Terlunta-lunta menapaki jejalanan yang penuh terjal, menggenggam sedikit angan yang tersisa.
Ujungnya, memang hanya ada diri sendiri. Entah, akselerasi mereka terlampau cepat, atau kita merangkak terlalu lambat. Hingga tak sadar, sebenarnya kita sedang ditinggal atu tertinggal di belakang?
Sebelumnya aku cerita tentang gimana aku menjelaskan soal semesta dan waktu dari perspektifku yang masih terbatas.
Tapi kalo dipikir-pikir, mungkin sebenernya aku lebih ngerasa tertinggal dibandingkan sama temen-temenku. Aku juga yakin bukan cuma aku yang ngerasa begitu, tapi mereka dan orang-orang lain juga.
Kita nggak bisa ngerti kenapa perasaan itu muncul. Nggak bisa jelasin. Tapi itu beneran ada. Aku yakin. Gimanapun versi mereka.
Mereka bilang aku orang yang kompetitif. Katanya aku itu punya prinsip yang harus terus maju, harus terus berkembang, pikiranku harus jauh ke depan buat antisipasi, harus terus ini dan itu. Tapi hal itu juga yang jadi kelemahanku.
Gara-gara itu rasanya aku ngebatasin kebahagiaanku sendiri. Apa yang sebenernya bikin aku bahagia dan seneng.
Jelek banget.
Sedih rasanya.
Kenapa aku harus ngerasa tertinggal dibanding temen-temenku?
Aku nggak ngerti. Tapi perasaan kayak gitu muncul begitu aja.
Mereka bilang aku harus lebih fokus ke diriku sendiri. Fokus sama apa yang aku lakukan dan apa yang ada di depanku.
Tapi menurutku ketika ada orang ketemu seseorang yang melakukan hal yang sama dan entah gimana caranya lebih baik dan lebih berhasil daripada apa yang dia lakukan, pasti dia bakal cari tau. “Eh, kenapa ya orang ini bisa kayak gitu?”
Meskipun begitu...
Aku tetep bersyukur sih.
Aku sering denger pengalaman dari orang-orang yang kutemui.
Seorang wanita pengusaha bakpia sukses.
Seorang eksekutif yang naik kereta ekonomi.
Main UNO sama keluarga orang asing yang baik hati.
Seorang wanita petualang yang rindu panasnya aspal jalanan.
Seorang abang ojek online yang bikin aku kayak sidang skripsi lagi.
Seorang ibu ojek online yang sengaja banget ambil jarak yang jauh karena lagi ngambek sama suaminya.
Seorang seniman yang ngomong tentang ajining diri ing lathi (kepribadian yang murni ada dalam perkataan) jauh sebelum itu tenar banget di sosial media.
Seorang yang...nggak tau.
Kalo dipikir-pikir luar biasa banget.
Tapi apa yang kalian liat, bukan berarti apa yang kalian tau.
Orang-orang ngeliat aku sebagai aku yang keren. Serba bisa. Pinter. Rajin. Terarah. Terkontrol.
Mereka nggak tau apa yang aku hadapi. Mereka nggak tau gimana aku meragukan diriku sendiri, penyesalan, tekanan, kecemasan, kesedihan.
Tapi semua orang ngalamin itu. Seenggaknya.
Makin lama aku makan sadar dan belajar sedikit-sedikit, kalo perasaan nggak boleh tertinggal dan harus maju itu... bentuk salah satu dari aku nggak cinta diri sendiri?
Bukan berarti aku nggak cinta diriku sendiri.
Aku cinta diriku sendiri. Rasanya sih.
Aku cuma nggak puas dimana aku berdiri sekarang.
Aku belum bisa nerima diriku di titik dimana aku berdiri sekarang.
Aku nggak terima semua yang aku lakukan belum keliatan ujungnya.
Tapi siapa yang sebenernya nyiptain hal itu sih?
Darimana ukuran itu muncul? Aku sebenernya di belakang mana? Di belakang apa?
Semua itu cuma ada di pikiranku aja.
Beneran deh.
Hidup itu nggak bisa diprediksi dan dihitung.
Dan pas aku ngelakuin itu, memprediksi dan menghitung semesta, aku makin kecewa. Rasanya capek.
Aku sadar kalo semua orang pasti ngalamin ini. Entah gimana bentuknya. Sayangnya aku masih belum ketemu gimana caranya agar aku meyakinkan diriku.
Aku harap hari itu bakal dateng. Buatku meyakinkan diriku, menerima diriku. Aku ya aku. Aku ya gimana aku. Aku melakukan hal yang terbaik buatku.
Aku yakin pasti nggak ada lagi yang namanya aku bilang kalo aku di belakang orang lain, nggak ada lagi ukuran itu, nggak ada alat yang nunjukkin kalo aku ada di belakang orang lain. Karena emang pada dasarnya hal itutu udah salah dari awal.
Untukku yang sedang merasa paling tertinggal di antara manusia.
Camkan ini baik-baik.
Allah tidak akan meminta pertanggung jawaban atas apa yang tidak kamu miliki.
Apapun itu jika bukan milikmu, mau sebegitu ingin mendapatkannya, maka tidak akan menjadi milikmu.
Tidakkah kamu begitu sombong? Meyakini bahwa semua yang kau inginkan pasti akan menjadi milikmu?
Bahkan tubuhmu pun sejatinya bukan milikmu. Suatu saat akan kembali kepada-Nya.
Jadi, bukankah pastinya Allah juga yang paling tahu apa-apa yang terbaik untukmu? Untuk dunia dan akhiratmu?
Yakinlah, Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Bahwa setiap do'a pasti Allah jawab dengan jawaban yang indah.
Jika itu yang terbaik, maka Allah kabulkan denga cara yang indah. Tapi jika tidak, maka itu bukanlah yang terbaik untukmu. Pasti akan digantikan dengan yang jauh lebih baik, melebihi ekspektasimu.
Tugasmu adalah terus membumikan ikhtiar dan melangitkan do'a.
Lalu bertawakal pada-Nya, dengan sabar dan syukur.
Teruslah berprogres dan berproses. Untuk menambah kapasitas diri serta menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh.
Allah tidak tidur. Ia selalu melihat setiap hancurnya hati, kesedihan, dan ketakutan yang kita rasakan saat beproses.
Tenang ya.
Barangkali kamu bukan tertinggal,
Tapi kamu hanya takut gagal.
Jadi, jangan berhenti ya. Jemput rezeki dan impianmu itu dengan ikhtiar dan do'a maksimal, serta dengan hati penuh tawakal.
Dia yang bersikeras tidak mau berubah, tidak mau belajar, dan merasa dirinya selalu benar, tidak peduli ketika jaman sudah berbeda, meski setelah ajakan ajakan, akan ter-tinggal, hingga akhirnya akan di-tinggalkan, mati membusuk mendekap sendirian.
Mengambil hikmah daripada kejadian yang kita alami memang tak secepat kereta bisnis sby-jkt. Butuh waktu untuk paham maksudnya..
Bahkan perlu 5 tahun lamanya untuk kemudian paham hikmah dari takdir yang Allah tetapkan pada kita.
Alasan sederhana yang menjadi tajam setelah 5 tahun bertanya tanya pada sang Maha Kuasa.
Aah.. Sesederhana itu,
Tapi begitu terpatri dalam hati.
Maka sungguh benar, bahwa keberadaan dan kesuksesan seorang anak itu bukan karena usahanya, bukan karena do'anya saja. Melainkan kecemasan yang berbuah harap dari orang-orang yang membesarkan, yang lelah mendidik, yang 9 bulan mengandung dan dari ia yg mau lelah menafkahinya.
Bagaimana mungkin, 1 harapan yang ribuan kali dipanjatkan setiap malam patah oleh satu kali celetukan mereka (orang tua) di tengah siang.
Dan semua itu membuatku makin yakin, bahwa salah satu sebab aku berada, aku sukses, bukan karena usaha dan do'aku,, tapi do'a orang-orang hebat di belakangku.