Bagi yang ingin mendapatkan catatan sketchnote sirah Nabi dalam bentuk pdf silakan mengunduhnya di sini (free)

seen from United States
seen from Maldives
seen from Romania
seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from Ukraine
seen from United States
seen from Maldives
seen from China

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Saudi Arabia
seen from China
seen from India

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Hong Kong SAR China

seen from Germany
seen from Germany
Bagi yang ingin mendapatkan catatan sketchnote sirah Nabi dalam bentuk pdf silakan mengunduhnya di sini (free)
Catatan Kajian Kepemimpinan (3/4)
Ide besar dan gagasan itu yang menggerakkan manusia, juga materinya untuk membela ide dan gagasan tersebut.
Sehingga jika tiga unsur itu berhubungan erat, masyarakat yang tercipta akan dahsyat. Namun jika unsur itu tidak saling berkaitan, dan hanya mementingkan urusan manusianya saja, akan timbul kediktatoran dan seperti berkuasa padahal tak berdaya, karena dia kehilangan gagasan.
Sehingga materi atau fasilitas akan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, bukan untuk memperjuangkan gagasan kebaikan. Dan akan lebih kacau lagi ketika materi menjadi penentu masyarakat, semua elemen akan melacurkan diri dan akan hancur masyarakatnya.
Dan ini sangat nampak pada kondisi umat ketika Masjidil Aqsha jatuh ke tangan Pasukan Salib. Ada fakta yang harus diakui dalam sejarah kita, bahwa saat itu inflasi sudah tidak terukur, yang mana satu dinar emas hanya bisa untuk membeli satu buah apel. Orang menjual rumah untuk membeli beberapa karung gandum, timbulnya kanibalisme.
4. Krisis umat dari masa ke masa selalu berkaitan dengan konsep umat yang tidak jelas dan memudar.
Sehingga kita menemukan pasal pertama yang tercantum dalam piagam Madinah ialah menjelaskan bahwa umat (semua orang yang sudah bersyahadat) tergabung dalam umat yang satu.
Hal ini yang membedakan dari umat-umat lainnya. Sehingga dengan kekhasan itu terbentuk hubungan masyarakat. Ketika beliau SAW menyebut bahwa Muslim sebagai satu umat, tersimpan didalamnya makna yang sangat besar.
Sehingga setiap ada persoalan atas diri seorang Muslim maka seluruh Muslim bertanggung jawab, dan secara mekanismenya dimulai dari yang paling dekat. Sehingga jika ada yang tak peduli dengan kondisi umat, bukan bagian dari umat itu sendiri. Solusi dari persoalan kemajemukan bukan pluralisme atau difusikan, justru dengan kejelasan identitas akan membuat hubungan masyarakat terlihat.
Semisal konflik di Palestina, Ketika kita tidak menyadari hal itu dari pemahaman konsep umat, maka tidak akan tersambung untuk bisa timbul kepedulian bahkan menganggapnya masalah asing.
Fanatisme Madzhab ialah penyakit akut umat yang menjangkit parah sekitar abad 5 H.
Bukan madzhabnya yang bermasalah, namun jika diisi oleh orang orang yang fanatisme maka dampaknya akan luas. Mengarah ke masyarakat, pendidikan, kurikulum, hingga politik.
Dalam Khazanah intelektual, variasi madzab ialah sesuatu yang wajar. Islam terbuka akan terjadinya varian pemikiran. Namun jika madzhab ini dimasuki oleh unsur yang tidak terkait dengan intelektualitas dan hanya menggaungkan fanatisme, itulah awal mula kehancurannya
Catatan Kajian Kepemimpinan (2/4)
Catatan sejarah dari Abu Syammah (596-665 H) yang lahir 7 tahun setelah Shalahuddin wafat, orang orang di masa itu seperti orang yang hidup di masa jahiliyyah.
Masyarakat seperti orang yang hanya sibuk dengan perut dan kemaluannya. Tidak mempunyai kepedulian untuk menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Titik fokus kesibukannya bukan amar makruf nahi mungkar. Secara umum seperti itulah kondisi masyarakat yang tergambar, meskipun masih ada pribadi-pribadi yang lurus. Kondisi itulah yang menjadi celah besar masuknya Pasukan Salib menjajah Al Aqsha.
Krisis umat bukan disebabkan karena kekurangan atas individu yang hebat. Apakah di masa keterpurukan umat itu tidak ada ulama atau tokoh yang hebat? Jelas ada, bahkan tidak hanya satu-dua orang. (Al Khatib, Al Baghdadi, Al Mawardi). Tapi keberadaan individu yang hebat dibidang apapun tidak dapat menghambat kemerosotan umat.
Persoalan yang mendasarnya ialah tidak terhubungnya unsur dari jaringan interaksi sosial. Unsur masyarakat ialah pemikiran, sumber daya manusia, kemudian materi.
Yang penting ialah tiga unsur ini harus terhubung secara seimbang dalam takaran sunatullah, yang mana ketika tiga unsur ini terhubung maka mampu menciptakan masyarakat yang dahsyat.
Pemikiran ialah kunci sukses dari gerak sosial yang dibentuk oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya sekedar mentahfizhkan Al Quran, ketika beliau wafat tidak banyak sahabat yang hafal Al Quran secara penuh, hanya terbatas beberapa orang.
Namun beliau SAW mengajarkan Al Quran sebagai ilmu dan hikmah (terapan), artinya Al Quran itu diajarkan sebagai ilmu sehingga para sahabat faham akan maksud dan tujuan dari Al Quran dan juga faham bagaimana diterapkan dari kaidah-kaidah yang diajarkan kemudian dikembangkan sebagai ijtihad atau inisiasi dari para sahabat.
Para sahabat selama 32 tahun digembleng oleh Rasulullah dengan Al Quran. Semisal periode Makkah, ada sekitar 86 surat yang diajarkan selama 13 tahun sehingga para Sahabat terlebih Muhajirin memiliki keunggulan dan kelebihannya, terlebih pendalaman jiwanya terhadap Al Quran sehingga mereka menjadi orang yang kaya akan gagasan. Gagasan itulah yang menjadi sumbu roda dari sdm atau materi yang dimiliki.
Seperti Utsman bin Affan yang memiliki harta kekayaan, semuanya dierahkan untuk li I’la kalimatillah karena pemahaman yang mendalam itu. Ketika situasi ekonomi sedang sulit, Utsman rela melepas aset hartanya yang jika dikonversikan senilai milyaran untuk wakaf sumur.
Catatan Kajian Kepemimpinan (1/4)
Korelasi antara kesatuan umat dengan jatuhnya Baitul Maqdis
Peristiwa yang paling mengguncang dalam sejarah Islam ialah jatuhnya Al Aqsha di tangan Pasukan Salib dan hal itu sangat berkaitan dengan kondisi umat secara umum.
Eropa di abad 11 dan 12 sebenarnya masih jauh dari kebangkitan. Maka perebutan Masjidil Aqsha di tangan Pasukan Salib lebih dikarenakan lemahnya kaum Muslimin dibandingkan kekuatan Eropa.
Karena sekuat apapun seseorang, jika ia terkulai lemah tak berdaya untuk mengalahkannya tidak perlu lawan yang setara. Jadi bukan karena Pasukan Eropa yang kuat, namun umat Islamnya yang sedang sekarat.
Bab 1 dan 2 dalam kitabnya, Syakih Najib Irsyad Al-Kilani mengadakan kajian sejarah yang sangat penting dengan menyertakan saksi sejarah pada masa itu, semisal Ibnu Katsir, Ibnu Syaddad, dan Abu Syam Al-Maqdishi yang menunjukkan bahwa memang sedang ada permasalahan besar di tubuh umat Islam.
Pada tahun 400-an Hijriah umat Islam sudah jauh dari tren peningkatan kualitas seperti abad awal Hijriyah. Sekitar akhir abad ketiga H, mulai turun kondisi umat secara massif.
Dan kemunduran umat Islam ini ditelusuri serta digambarkan dari Bab 1 Halaman 15 sampai Bab 2 sekitar halaman 70 yang menunjukkan bahwa kondisi umat itu ternyata jauh dari kata pantas dan sangat memprihatinkan. Seperti misalnya rusaknya aspek ekonomi, sosial, perpecahan politik, juga konflik syiah-sunni.
Namun menariknya dari aspek penulisan Syaikh Najib, beliau memaparkan kondisi umat yang memprihatinkan diatas itu hanyalah gejala, sedangkan analisa terkait akar permasalahan itu terangkum dalam empat hal :
1. Permasalahan Pemikiran dan Perpecahan dalam Madzhab
Gejala luaran yang tampak seperti ekonomi, sosial, dan politik timbul dari sesuatu yang sifatnya abstrak, yaitu permasalahan dalam pemikiran.
Ketika orientasi hidup tidak lagi Lillahi Ta’ala, ketika pemikirannya tidak lagi menjunjung risalah peradaban Islam maka gejala yang tampak akan terlihat dari aspek-aspek yang tadi.
2. Perpecahan dan Penyimpangan Tasawuf
Aslinya Tasawuf itu esensinya Tazkiyah, ranahnya ialah kondisi ruhiyah. Namun ketika aspek orientasi ruhiyah itu timbul penyimpangan akan menjadi problem besar dan timbulnya madzhab kebathinan yang menyimpang, semisal Syiah Ismailiyah Bathiniyah.
3. Ancaman para Filsafat
Tentu saja filsafat yang dikhawatirkan ialah orang orang yang membahas filsafat ke ranah metafisis atau ketuhanan. Bukan para filsuf yang menekankan filsafat sebagai kerangka berpikir.
Catatan Kajian Kepemimpinan (3/3)
“Isu agama harus masuk ke ranah mainstream, bukan marginal.”
Perjuangan mengembalikan poros umat pada basisnya yang telah dimulai di masa Rasulullah kemudian dilanjutkan oleh Khalifah selanjutnya, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq.
Program pertama Khalifah Abu Bakar setelah diangkat menjadi Khalifah ialah mengirimkan pasukan Usamah meskipun ada ancaman murtaddin dan golongan yang tidak mau membayar zakat serta kalangan internal kaum muslimin. Namun beliau tetap bersikukuh akan tetap mengibarkan panji yang telah dikibarkan oleh Rasulullah
Dan dengan pertolongan Allah, pasukan Usamah berhasil merangsek masuk ke titik tengah Romawi namun tidak menjumpai pasukan yang siap melawannya. Kegemilangan itu membuat ciut orang-orang yang ingin menghancurkan Islam.
Setelah pasukan Usamah tuntas, Khalifah Abu Bakar ra membenahi internal, menumpas para nabi palsu, murtaddin, dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Khalifah Abu Bakar kemudian mengirimkan ekspansi militer melawan Persia (Iraq) dan Romawi (Syam). Karena dirasa dua kekuatan adidaya ini menjadi ancaman, dengan gagah berani Khalifah mengirimkan pasukan melawan keduanya.
Kemudian terjadilah Perang Yarmuk, dimana awalnya Heraclius tidak memilih opsi perang namun memberikan opsi perjanjian damai dengan memberikan bagian wilayahnya untuk umat muslim. Namun perwira tingginya menolak sehingga terjadilah perang itu di tahun 13H dan kaum Muslimin menang dengan gemilang. Kemudian menjelang perang itu, Khalifah Abu Bakar ra meninggal dan naiklah Umar Bin Khattab.
Pemimpin pasukan di Yarmuk itu ialah Abu Ubaidah bin Jarrah.a Dan pada tahun 15 H Palestina berhasil diduduki oleh Kaum Muslimin hingga terjadilah Perjanjian Umar bin Khattab dengan Patrick yang amat terkenal dengan kebaikan dan kearifan beliau.
Kita melesat menuju menuju masa Bani Umayyah. Pusat pemerintahan Bani Umayyah adalah di Syam, dengan Damaskus sebagai ibukota.
Maka Baitul Maqdis menjadi tempat yang sakral, bahkan dijadikan sebagai tempat pelantikan Khalifah. Ulama juga memakmurkan aspek intelektual disana hingga bermunculan madrasah Syam yang amat fenomenal. Masjid Qubbah didirikan oleh Abdul Malik bin Marwan dan Al Walid bin Abdul Malik. Ratusan sahabat Rasulullah SAW tercatat berperan aktif dalam memakmurkan Syam meskipun diluar sektor politik.
Kemudian kita masuk ke masa Dinasti Abbasiyah,
Khalifah Al Mahdi bin Abu Ja’far al Manshur merestorasi bagian Masjidil Aqhsa yang rusak akibat gempa bumi yang terjadi sebelumnya kemudian juga Harun Ar Rasyid juga mengizinkan para kaisar untuk merenovasi gereja pada tahun 169 H
Para pemimpin umat Islam terus menjaga warisan keluhuran pengelolaan Al Quds dari Khalifah Umar bin Khattab hinga ketika tewasnya Khalifah Al Mutawakkil menjadi titik terjadinya kekacauan politik dalam tubuh kaum Muslimin. Dan itu memiliki dampak yang besar bagi Palestina.
Karena Palestina merupakan area yang menjadi perebutan dalam kontes politik. Perang Salib kemudian terjadi pada Masa Abbasiyah di tahun 490 H.
Kekacauan di ranah aspek sosial makin sengkarut ketika Syiah mulai meluaskan sayapnya. Terjadilah perpecahan dikalangan umat, dan tidak ada pertahanan kuat yang melindungi umat dari kekuatan asing.
Syam selalu bergejolak karena semua kekuatan Politik memiliki kalkulasi bahwa Syam penting bagi mereka.
Total masa perang atau ketegangan politik antara Byzantium dengan Persia saja berjalan sekitar 200 tahun. Syam adalah titik temu dari peredaran manusia di tiga benua. Jalur perdagangan dunia juga melewati ke arah sana.
Catatan Kajian Kepemimpinan (2/3)
Sesi 1 : Perkembangan Baitul Maqdis dari masa ke masa
Keterkaitan umat Islam terhadap Palestina sangatlah kuat. Ia merupakan bagian dari agama, berkaitan erat dengan runtuh dan tegaknya agama Islam. Tidak sekedar teritori geografis atau politik. Ia adalah kerangka besar Peradaban Islam.
Sejak kapan kita mulai untuk terhubung pada Palestina? Kita kilas balik pada peristiwa Isra’Mi’raj yang secara tekstual sudah menghubungkan dengan Palestina lewat firman Allah di Surat Al Isra’.
Tahun 10 Kenabian merupakan babak akhir kisah Rasulullah SAW dan Sahabat di Mekkah dan ditahun ini juga terjadinya Isra’ Mi’raj. Perginya Rasul ke Thaif memiliki tujuan untuk menjadikannya sebagai basis Islam yang kelak akan menjelma sebagai Rahim Peradaban Islam, namun Thaif menolak dan anugerah itu jatuh kepada Madinah.
Secara kesejarahan, tidak ada kepastian tanggal terjadinya Isra dan Mi’raj. Namun kita memilihnya pada tanggal 27 Rajab, perbedaan itu tidak bersifat principal karena yang penting adalah peristiwa itu benar-benar terjadi.
Peristiwa Isra dikabarkan pada Surat Isra ayat 1 sedangkan peristiwa Mi’raj digambarkan dalam surat An Najm. Dan yang menarik dari dua peristiwa itu ialah, titik temunya adalah Baitul Maqdis. Akhir dari peristiwa Isra di Baitul Maqdis, dan awal dari Peristiwa Mi’raj ialah berawal dari Baitul Maqdis juga.
Sehingga hal itu menggambarkan ada sesuatu yang bermakna di Baitul Maqdis. Dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini Baitul Maqdis memang menjadi target.
Jika kita tarik lebih jauh ke masa belakang, maka isu Masjidil Aqsha yang terhubung dengan Masjidil Haram dimulai dari kisah Nabi Ibrahim. 1900 jarak yang tercipta antara masa Rasulullah dengan Nabi Ibrahim. Basis dakwah Nabi Ibrahim ialah di Palestina. Aslinya beliau orang Qildan, Irak. Syam-Mesir-Hijaz-Syam adalah rute jelajah dakwah Nabi Ibrahim yang sekarang melingkupi 7 negara. Semua tempat itu disinggahi untuk berdakwah, kecuali Hijaz.
Di Hijaz, beliau tidak menetap lama namun meninggalkan keturunannya disana sebagai yang tertera dalam Q.S Ibrahim. Allah dalam Al Quran menyebutkan gelar nabi Ibrahim sebagai umat.
Karena lingkup dakwah beliau yang menciptakan basis umat untuk meluasnya Syiar Islam, yaitu Mekkah dan Palestina. Kita sebagai Muslim mewarisi keumatan Nabi Ibrahim. Maka kita harus menjaga dua basis ini tetap utuh dalam perhatian umat Islam dan senatiasa terhubung.
Nabi Ibrahim telah dengan sengaja menetapkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha sebagai basis dakwah dan tidak bisa dipisahkan, jika basis itu tidak terawat maka problematika umat akan mencuat.
Sejatinya islam itu terhubung ke Baitul Maqdis sejak hari pertama dakwah dan shalat di fardhukan, yang mana kita ketahui bahwa kiblat pertama adalah Baitul Maqdis. Kemudian Ketika hijrah ke Madinah, kiblatnya tidak lagi ke Baitul Maqdis tapi menuju ke Kakbah pada tahun ke-2 Hijriah. Sudah sekitar 15 tahun umat Muslimmenghadap ke Baitul Maqdis sebagai kiblat.
Setelah hijrah ke Madinah dan ada perintah untuk pemindahan Kiblat, bukan berarti hubungan ke Palestina itu terputus. Namun karena Rasulullah fokus untuk menuntaskan tantangan dakwah yang paling dekat, yaitu Mekkah. Beliau sangat sibuk dan fokus ke arah sana hingga tahun ke-6 H, Rasulullah SAW menganggap kekuatan Muslim sudah kuat maka beliau pergi untuk thawaf yang menjadi muara terjadinya Bai’at Ridwan dan Perjanjian Hudaibiyah hingga ke Fathul Makkah.
Ketika Fathul Mekah sudah utuh, pergerakan dan fokus dakwah beliau mengarah ke utara, ke Syam. Mulai dari pengiriman surat bagi para penguasa hingga pengiriman pasukan.
Terjadilah Perang Mu’tah pada tahun 8 H sebagai reaksi atas penuntut balasan bagi utusan Muslim yang menemui Raja Ghassan dan dibunuh disana, hingga berujung kepada melawan pasukan Romawi.
Kemudian di tahun 9 H di bulan Rajab terjadi juga Perang Tabuk yang total perjalanan memakan waktu hampir dua bulan. Meskipun tidak terjadi pertempuran secara fisik, namun kejatuhan mental dari pasukan musuh sudah tampak jelas. Tabuk merupakan basis ekonomi Romawi, maka ketika Rasul menguasai Tabuk beliau artinya menguasai ekonomi.
Peluasan wilayah Islam tidak memiliki konsep kolonialisme atau penjajahan, tapi merupakan Fattah. Pembebasan penyembahan manusia kepada makhluk menuju pembebasan penyembahan kepada Allah SWT. Sehingga ketika kemenangan bergelimang, tidak menjadikan umat Islamsebagai sosok yang sombong, angkuh dan dictator.
Inilah yang menjadi titik konsentrasi Rasulullah SAW, yaitu mengembalikan fungsi poros dakwah risalah samawi sejak zaman Ibrahim a.s
Catatan Kajian Kepemimpinan (1/3)
Adara Relief Internasional mengadakan Kajian Kepemimpinan Model Kebangkitan Umat Islam merujuk kepada gaya kepemimpinan Shalahuddin Al Ayyubi yang dikupas di buku Model Kebangkitan Umat Islam yang telah diterjemahkan oleh Ustadz Asep Sobari.
Beliau dalam pembukaannya menjelaskan bahwa buku Model Kebangkitan Umat Islam ini menceritakan sebuah proses yang sangat rasional, dalam artian bukan sebuah mukjizat. Perjuangan dalam buku ini bisa diukur dan bisa menjadi model bagi umat Islam untuk menjadikan isi buku ini bukan sekedar inspirasi, tapi titik tolak untuk membaca persoalan yang kontemporer sehingga kita bisa memulai untuk menyembuhkan umat yang sudah mulai sekarat.
Shalahuddin berperan sebagai penuntas langkah-langkah tersebut, bagaimana beliau menjadi penutup dari rangkaian perjuangan menyatukan umat dan adanya sosok pemimpin yang sukses. Karena memimpin tidak akan pernah sukses jika umatnya tidak menjadi pendukung dari proyek tersebut, sehebat apapun ia.
Namun jika pemimpinnya buruk, sejatinya umat bisa menggantinya karena ia sebagai penentu, namun suka tak sadar bahwa mereka sebagai penentu.
Kondisi Baitul Maqdis saat ini mirip dengan kondisi Ketika Baitul Maqdis jatuh di masa Perang Salib. Baitul Maqdis bisa dikatakan seperti anak yatim, ia tak mendapatkan perhatian dari semua kekuatan umat. Perhatian umat tersedot kepada hal-hal lain sehingga Syam menjadi arena pertarungan dan perebutan. Saat ini kita melihat seolah isu Palestina sebagai isu yang terpisah dari umat ini.
Padahal ketika Islam jaya, Palestina menjadi pusat perhatian sehingga Islam bisa mendunia.
Maka ini menjadi upaya kita bersama untuk menyalakan kembali lentera Palestina agar tetap menyala. Memiliki konsentrasi dan perhatian terhadap Palestina ialah hal yang seharusnya lazim dan bukan hal yang aneh.
Buku ini diharapkan menjadi titik tolak dari perjuangan kita.
#infoHalallaku @halallaku : #KajianIslamJakarta #SirahCommunity #SCI . 🔊🔊🔊Undangan🔊🔊🔊 (Terbuka Untuk Umum) ========================= Seri Kajian Tokoh Peradaban Islam Sirah Community Indonesia (SCI) Baqi bin Makhlad al-Qurthubi (201 - 276 H) Maha Guru Andalusia "Seorang alim robbany, mujahid, pencari lmu sejati, menjelajah maghrib hingga masyriq dengan lebih banyak berjalan kaki, disegani penguasai dicintai dhu'afa...ulama paling berpengaruh sepanjang sejarah Andalusia." Oleh : Ustadz Asep Sobari, Lc ⏳ Senin, 27 Maret 2017 ⏰ Pkl. 19.00 - 21.00 🏫 Aula Insists (INSISTS), Jl. Kalibata Utara II. No. 84. Jaksel Cp : 📱Ikhwan : 082110811509 📱Akhwat : 081586681586 Format Registrasi : 📝SCI_Nama_Domisili_Lembaga_No HP 〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰 Kirimkan Infaq Terbaik Anda ke Rekening BSM 7084618707 a.n Nurina Utami, dengan menambahkan angka satu dibelakangnya. Contoh : Rp. 50.001,- 🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂 FB : Sirah Community Tw &IG : @sirahcommunity Gabung Channel Telegram: @sirahcommunity Web : www.sirahcommunity.com