Sistem Pendidikan Nasional: Problem of Difference and Reading
Jika students jaman now saya lontarkan sebuah pertanyaan seperti ini, “Saya punya dua voucher. Satu voucher untuk pelajaran tambahan di sekolah tiap Hari Minggu dalam satu bulan, dan satu lagi voucher untuk beli kuota internet unlimited selama satu bulan khusus untuk akses media sosial. Kamu pilih mana?”
Bisa ditebak jawabannya?
Salah satu faktor keberhasilan pendidikan adalah besarnya keinginan para pelajar untuk terus belajar tanpa ada yang meminta. Jika kita lihat pada negeri kita tercinta ini, kita bisa banyangkan berapa persen siswa sekolah sekarang yang lebih memilih update momen di sosial media ketimbang membuat catatan pelajaran? Berapa persen orang yang mengagumi para guru ketimbang mengagumi para artis acara lalala yeyeye? Saya tidak bilang kalau para pelajar dari jaman ayah ibu kita dulu tidak mengalami hal yang sama. Mungkin kita dulu juga lebih suka main di empang ketimbang disuruh ke sekolah.
Walaupuuun, hasil didikan jaman dulu bisa dibilang menghasilkan orang-orang yang lebih paham etika daripada sekarang yang banyak menghasilkan anak-anak yang tidak memiliki sedikitpun rasa takut ketika menyebutkan kata an*ing, njr*t, a*jir, dsb (ah saya sering kesal kalau kata-kata macam ini muncul di sekitar saya, walaupun mereka tidak bermaksud menyumpahi). Hal ini membuktikan bahwa sejak kemerdekaan sampai sekarang, sistem pendidikan kita masih jauh dari berhasil dalam mencetak para pelajar yang benar-benar menyadari pentingnya belajar.
Di sini, di sebuah sekolah tempat saya mengajar, saya mulai melihat pola pada sistem pendidikan kita sekarang yang—kalau saya bilang—penuh dengan kecacatan yang sebenarnya bisa banget disembuhkan. Jika disimpulkan, para pelajar yang menjadi objek sistem pendidikan kita hanya melakukan rutinitas berikut:
Duduk di kelas agar mendapatkan nilai kehadiran. Materi yang disampaikan guru nyampe ke otaknya atau nggak, itu mah masalah belakangan.
Sibuk mencari informasi berkaitan dengan materi yang akan keluar ketika ujian, dan menghafal hanya materi yang akan keluar di ujian tersebut.
Kemudian “melupakan” semua materi tersebut secara cepat.
Kita semua setuju bahwa pendidikan itu penting. Kita semua sering mendiskusikan solusi-solusi masalah pendidikan kita. Bahkan tema tulisan saya ini juga sudah lebih dari sering dijadikan bahan penelitian. Tapi kita lupa untuk menjaga konsistensi perbaikan pendidikan itu sendiri. Seperti bapak-bapak di atas sana hanya sibuk mencoba kurikulum-kurikulum ribet yang pemakaiannya digonta-ganti sesuai dengan pergantian pemegang kekuasaan.
Sebagai seorang yang tidak memiliki background pendidikan di dunia keguruan, hanya melihat langsung dan melakukan sendiri (dalam hampir tiga tahun) praktik sistem pendidikan yang sedang berlaku sekarang, ijinkan saya sedikit menuliskan dua faktor peniting yang melemahkan sistem pendidikan kita.
Pertama, tentang perbedaan karakteristik siswa dan ada “gap” antara sistem pendidikan dengan kebutuhan industri.
Banyak para lulusan yang ill-prepared dalam menghadapi realita di dunia kerja. Sekolah menuntun peserta didik untuk mengikuti cara pandang sekolah bahwa the best students are they who can solve math problem and good in language. Sekolah memiliki masalah dalam proses “penyamarataan” ilmu pada masing-masing anak.
Let me give an analogy. Setiap peserta didik membawa selembar kertas yang memiliki beragam bentuk. Ada yang membawa kertas berbentuk lingkaran, ada yang persegi panjang, ada yang jajar genjang, dsb. Kemudian mereka datang ke sekolah. Di sekolah, kertas mereka digunting menjadi berbentuk persegi semua, kemudian semua kertas itu dibuat origami berbentuk burung bangau (FYI, origami burung bangau bisa dibuat hanya dengan kertas berbentuk persegi saja). Begitulah yang dinamakan “penyamarataan” yang saat ini dipraktikkan sekolah pada peserta didiknya. Bukannya memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik anak, sekolah justru “memaksa” anak mengikuti “kemauan” mereka.
Belakangan ini saya mengagumi sistem pendidikan yang dirintis oleh Sekolah Alam. Di sana, peserta didik tidak terlalu dibebani dengan mata pelajaran yang banyak seperti di sekolah konvensional. Mereka membebaskan murid-muridnya untuk fokus mempelajari apapun yang mereka suka, asalkan bermanfaat. Murid yang menyukai menggambar diarahkan untuk menekuni bidang seni rupa. Murid yang menyukai bernyanyi diarahkan untuk menekuni bidang musik. Murid yang menyukai berpidato diarahkan menekuni bidang bahasa. Murid yang menyukai perhitungan dan logika diarahkan menekuni bidang matematika. Begitu seterusnya. Sistem ini cocok diterapkan pada pendidikan sejak dini. Dengan begitu, setiap kali mereka akan belajar, mereka menikmati proses belajarnya, karena mereka mempelajari apa yang mereka suka. Sehingga citra belajar menjadi baik di mata peserta didik dan tidak ada lagi anak yang malas belajar.
Ada beberapa murid di sekolah tempat saya mengajar berasal dari sekolah alam, dan hasilnya sangat mengagumkan. Tidak ada waktunya yang terbuang untuk hal sia-sia karena dia selalu menghabiskan waktunya untuk menekuni keterampilan yang dia suka, walaupun sudah lulus dari sekolah itu. Hal ini memudahkan kami dalam mengarahkan mereka untuk menyiapkan lebih banyak di bidang yang nantinya diprediksi akan menjadi tempat kerja mereka.
Selain itu, di sekolah alam, fokus pengajaran tidak hanya pada aspek kognitif atau keterampilan saja. Mereka menyadari hal paling penting dalam dunia kerja adalah masalah karakter. Pengembangan karakter menjadi fokus pembelajaran mereka, Peserta didik ditanamkan kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, dan karakter-karakter lain yang dibutuhkan seseorang dalam dunia industri. Setiap guru fokus pada beberapa anak. Menangani permasalahan yang dialaminya, mengembangkan bakat yang dimilikinya, hingga menanamkan karakter baik dan kuat. Guru di sini benar-benar menjadi teladan bagi para murid. Ah, saya jadi teringat sistem perekrutan guru yang diterapkan oleh Finlandia. Di sana, guru adalah profesi yang sangat keren. Mungkin kalau di sini seperti profesi dokter kali ya. Jurusan kependidikan menjadi jurusan yang paling diminati di sana.
Guru menurut saya adalah profesi yang membutuhkan kreatifitas paling tinggi dibanding profesi lain, bahkan profesi yang berhubungan dengan seni sekalipun.
Karena dengan menjadi guru, kita harus banyak menkreasikan metode belajar untuk diterapkan di kelas, di masing-masing anak. Namun, dalam praktiknya, di negara kita banyak guru yang cara mengajarnya gitu-gitu aja. Banyak juga guru yang cinderung menyalahkan peserta didik yang “memiliki perbedaan” dalam menerima pembelajaran (atau biasa dibilang anak-anak nakal/hiperaktif), padahal ini hanyalah masalah perbedaan stimulus proses pembelajaran pada tiap murid. Jujur, saya juga masih menjadi bad-teacher yang sering kehabisan ide untuk mengkreasikan cara mendidik, dan parahnya walaupun saya tahun saya kadang tidak meng-improve-nya, mungkin karena guru-guru di sini juga kebanyakan tidak menerapkan kreatifitas itu (ini excuse banget lah).
Kedua, minat membaca yang rendah.
Nah, ini yang menjadikan orang-orang jaman now mudah termakan berita-berita hoax. Kebanyakan orang membaca karena hobi membaca dianggap hobi paling intelek. Banyak orang berlomba-lomba menaikkan targetan jumlah buku bacaan tiap tahun, yang nanti kalau udah mau ganti tahun diumumkan ke semua orang, udah berhasil baca berapa buku. Atau banyak juga yang membaca untuk sekedar mencari quotes bagus, yang langsung dijadikan caption di sosial media (trus dimention, caption ini buat siapa). Sedangkan di sekolah, buku pelajaran dianggap sebagai bahan hafalan yang kemungkinan besar akan keluar ketika ujian, atau paling pol digunakan untuk pedoman latihan soal menghitung. Buku-buku seperti “Kiat-Kiat Lulus TPA”, atau “Cara Cepat Lolos CPNS” juga menjadi buku yang laris sekarang ini sebagai bahan belajar. Semua isinya untuk dihafal.
Misalnya, di buku dituliskan rumus: Momentum = Massa x Kecepatan. Kemudian kita gunakan rumus itu dalam perhitungan-perhitungan fisika yang mungkin akan muncul ketika ujian. Kita tidak belajar apa itu momentum, bagaimana hingga didapatkan rumus seperti itu, fungsi rumus itu untuk menghitung momentun yang seperti apa. Tapi, penilaian di sekolah memang menyudutkan peserta didik untuk memperlakukan buku sebagai bahan hafalan dan bahan latihan berorientasi ujian, bukan untuk menganalisa sesuatu dan berorientasi kesadaran dalam memahami.
Hal-hal seperti inilah yang tidak sengaja menjadi doktrin pada para peserta didik bahwa buku itu membosankan, buku itu membuat ngantuk, buku itu tidak ada manfaatnya dalam kehidupan.
Sulit memang mengubah sistem besar yang sudah berjalan lama ini, terutama zaman terus berubah. Sistem pendidikan harus fleksibel dan bisa memuaskan tuntutan zaman. Walaupun sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama, this genuine change is surely coming, jika ada yang memulainya dan konsisten mengembangkannya.
Dan saya-pun masih akan terus mencoba.













