Sistem Pendidikan Islam Melahirkan Generasi Gemilang . https://www.trenopini.com/2020/09/sistem-pendidikan-islam-melahirkan.html?m=1 . Saat ini tidak bisa kita pungkiri bahwa potret pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata “baik”. Masalah pendidikan di Indonesia kian lama kian bertambah. . Bisa kita lihat dari sisi output pendidikan, yang menghasilkan anak-anak pencetak masalah. Angka seks bebas, narkoba, aborsi, perzinaan, pelecehan seksual yang dilakukan oleh intelektual semakin meningkat. . Hal ini tidak lain karena pengaruh kurikulum sekuler yang diterapkan di sekolah yang membangun kepribadian anak kita dengan tasaqafah asing (bukan Islam), bukan hanya itu, masalah pendidikan lainnya adalah dari sisi kesulitan mengakses pendidikan . Baca selengkapnya, KLIK tautan website diatas, Jangan lupa Ikuti kami di : Instagram bit.ly/igtrenopini Website bit.ly/webtrenopini Fp Facebook bit.ly/fptrenopini Tumblr bit.ly/tbtrenopini Telegram bit.ly/ttrenopini Twitter bit.ly/twittrenopini . #JejakKhilafahdiNusantara #PendidikanIslam #SejarahIslamIndonesia #SistemPendidikan #CampakanDemokrasi #BuangSekulerisme #DakwahSyariahKhilafah #MilenialDukungKhilafah #KhilafahAjaranIslam #MariPerjuangkanKhilafah #SyariahPemersatu #KhilafahJanjiAllah #opiniislami #trenopini #khilafahajaranislam #khilafahsolusi #JejakKhilafahdiNusantara #khilafahperisaiumat (di Trenopini.com) https://www.instagram.com/p/CFCVC6_hGqU/?igshid=guk1gc93plg4
Good Looking, se-Radikal Itukah? . https://www.trenopini.com/2020/09/good-looking-se-radikal-itukah.html?m=1 . Istilah 'good looking' sedang ramai diperbincangkan. Mulanya berawal dari pernyataan seorang Menteri pada pertemuan Webinar tentang Strategi Menangkal Radikalisme pada ASN di kanal Youtube Kemenpan RB (2/9/20). . Dalam forum tersebut muncul statement bahwasanya paham radikalisme masuk masjid melalui anak yang 'good looking' sebagaimana yang diunggah oleh situs berita www.cnnindonesia.com, pada 3 September 2020 lalu. . Berdasarkan hasil penulusuran kamus online, dapat disimpulkan bahwa good looking artinya berpenampilan menarik dan enak dipandang. Lagipula, berpenampilan yang enak dipandang itu juga merupakan Sunnah Nabi. . Baca selengkapnya, KLIK tautan website diatas, Jangan lupa Ikuti kami di : Instagram bit.ly/igtrenopini Website bit.ly/webtrenopini Fp Facebook bit.ly/fptrenopini Tumblr bit.ly/tbtrenopini Telegram bit.ly/ttrenopini Twitter bit.ly/twittrenopini . #JejakKhilafahdiNusantara #PendidikanIslam #SejarahIslamIndonesia #SistemPendidikan #CampakanDemokrasi #BuangSekulerisme #DakwahSyariahKhilafah #MilenialDukungKhilafah #KhilafahAjaranIslam #MariPerjuangkanKhilafah #SyariahPemersatu #KhilafahJanjiAllah #opiniislami #trenopini #khilafahajaranislam #khilafahsolusi #JejakKhilafahdiNusantara #khilafahperisaiumat (di Trenopini.com) https://www.instagram.com/p/CFCU9FfhM4z/?igshid=ish721ilfdew
Menakar Manfaat BPIP bagi Rakyat . https://www.trenopini.com/2020/09/menakar-manfaat-bpip-bagi-rakyat.html?m=1 . Di tengah pandemi, kita semua sepakat bahwa negeri ini membutuhkan dana besar untuk kelangsungan hidup rakyat. Akibat Covid-19, kegiatan ekonomi tersendat, layanan kesehatan gawat, utang negara berlipat, dan kemiskinan meningkat. . Berbagai problematika itu tak menyurutkan langkah menyusun anggaran di tahun 2021. Diketahui, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mendapat pagu inidikatif tahun 2021 sebesar Rp 208,8 miliar. . Baca selengkapnya, KLIK tautan website diatas, Jangan lupa Ikuti kami di : Instagram bit.ly/igtrenopini Website bit.ly/webtrenopini Fp Facebook bit.ly/fptrenopini Tumblr bit.ly/tbtrenopini Telegram bit.ly/ttrenopini Twitter bit.ly/twittrenopini . #JejakKhilafahdiNusantara #PendidikanIslam #SejarahIslamIndonesia #SistemPendidikan #CampakanDemokrasi #BuangSekulerisme #DakwahSyariahKhilafah #MilenialDukungKhilafah #KhilafahAjaranIslam #MariPerjuangkanKhilafah #SyariahPemersatu #KhilafahJanjiAllah #opiniislami #trenopini #khilafahajaranislam #khilafahsolusi #JejakKhilafahdiNusantara #khilafahperisaiumat (di Trenopini Reborn) https://www.instagram.com/p/CFCU1h1hINp/?igshid=fppxybbjs7re
POLITIK IDENTITAS TANPA BATAS . https://www.trenopini.com/2020/09/politik-identitas-tanpa-batas.html?m=1 . Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Selasa (8/9). meminta aparat penegak hukum agar menindak tegas penggunaan politik identitas dan politik SARA dalam penyelenggaraan pilkada serentak 2020. . Menurutnya politik identitas dan SARA harus dicegah karena dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Pernyataan ini sulit untuk tidak dikaitkan dengan peristiwa dan kepentingan politik lain. Terlebih suhu politik nasional pra pilkada serentak 2020 kian memanas. . Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani yang ‘keceplosan’ mengaitkan lemahnya dukungan terhadap PDIP di Sumbar dengan Pancasila, "Semoga Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila," nyinyir Puan. . Baca selengkapnya, KLIK tautan website diatas, Jangan lupa Ikuti kami di : Instagram bit.ly/igtrenopini Website bit.ly/webtrenopini Fp Facebook bit.ly/fptrenopini Tumblr bit.ly/tbtrenopini Telegram bit.ly/ttrenopini Twitter bit.ly/twittrenopini . #JejakKhilafahdiNusantara #PendidikanIslam #SejarahIslamIndonesia #SistemPendidikan #CampakanDemokrasi #BuangSekulerisme #DakwahSyariahKhilafah #MilenialDukungKhilafah #KhilafahAjaranIslam #MariPerjuangkanKhilafah #SyariahPemersatu #KhilafahJanjiAllah #opiniislami #trenopini #khilafahajaranislam #khilafahsolusi #JejakKhilafahdiNusantara #khilafahperisaiumat (di Trenopini Reborn) https://www.instagram.com/p/CFCUu59BUeG/?igshid=7epta1rn3qzl
Ampyun.. Begini Nih Kalau Emak-Emak Di Jalan😀😆😱 . Inilah wajah asli Indonesia.. Lampu lalu lintas gak dilihat, palang kereta diterobos, jalanan serasa punya sendiri, asal bisa jalan dilewati gak peduli jembatan, lawan arah dll . Salah dimana ya? Menurut saya, salah satu faktornya adalah di sistem pendidikan kita. Kita terbiasa mengejar nilai dan prestasi dengan berbagai cara. Ini berbeda dengan sistem pendidikan negara yang lebih maju, seperti Finlandia, Australia, Amerika, Jepang, dan negara lain . Di Jepang, kurikulum anak TK dan SD adalah menyapu, mengepel, bergiliran tugas, dll. Di banyak negara maju, TK tidak pernah diajarkan membaca dan menulis. PR juga tidak pernah diberikan shg sekolah/belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bukan menekan. . Sebenarnya, kesalahannya tidak terletak di sistem pendidikan saja, tapi pada didikan orang tua yang selalu mengejar nilai, persaingan, dan memenangkan kompetisi bahkan jika harus berbuat "curang"😱😱😱 . Yuk kita sama-sama koreksi diri . #sistempendidikan #pelanggaran #pelanggaranlalulintas #lalin #kejartarget #didikanorangtua #pendidikanfinlandia #pendidikan #peranorangtua #luxdeiconsulting https://www.instagram.com/p/Bw7FrEYlxp2/?igshid=14a3hk4xyiooh
BEKAL Awal ajaran baru di semester 2, dibuka dengan sebuah diskusi dengan anak kedua saya tentang USBN. Dimana ada perubahan mata pelajaran yang biasanya masuk kategori US dan soal dibuat oleh internal sekolah, sekarang ini diubah dibuat secara nasional. Ketiga pelajaran tsb adalah PKN, PAI, dan IPS pada tingkat SMP. Diskusi ini terjadi ketika ade panik menghadapi perubahan itu. Terjadilah dialog antara saya dan ade: Saya: ayo de kita analisa, coba bandingkan perasaan ade ketika menghadapi ujian matematika dan pkn, mana yang lebih membuat ade kuatir? Ade: PKN laaah... Saya: kenapa PKN Ade : eehmm...kalau matematika cemasku dikit, in sya Allah aku bisa. Tapi kalau PKN aku nggak tau lah Bun, ndak pernah dapat pelajaran PKN di sekolah. Saya: naah itu masalahnya. Kita analogikan klu kita mau naek gunung maka sebelum melakukan perjalanan, kita akan mempersiapkan betul "bekal"apa yg harus dibawa. Makanan, minuman, nesting, tenda, kompas, obat2an, informasi ttg trek, dll. Nah kalau bekal kita lengkap maka kita naek gunung dengan penuh keyakinan dan tidak kuatir. Tapi klu kita tdk mempersiapkan bekal dgn baik, pasti kita cemaaas. Jadi, masalahnya sdh jelas menghadapi matematika, ade tidak cemas karena bekalnya sudah mumpuni tinggal berdoa yaa, naah utk PKN bekal yg dipunyai tidak cukup bahkan tidak ada sama sekali tentu panik. Jadi jelas bekalnya dulu yg harus dipersipkan dgn baik disempurnakan dengan doa maka rasa kuatir itu hilang. Soal bekal yg tidak tercukupi sepenuhnya bukan salah ade, ada faktor eksternal. Begitu juga dengan IPS dimana subjek ekonomi hanya diajarkan sekilas di sekolah, lagi-lagi faktor eksternal. In sya Allah bunda bantu untuk menyiapkan bekalnya (yg tdk didpt di sekolah) semaksimal mungkin...fighting ade:))) #baladaanakujian #sistempendidikan #perbaikimutu #ayoberubah #pedulipendidikan
Baru saja saya membaca artikel dari blog di websitenya Indonesia Mengajar https://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/pendidikan-sebenarnya mengenai sebuah sistem pendidikan lebih tepatnya penilaian (menilai suatu tugas) seorang guru terhadap muridnya atas sebuah tugas mengarang dari si murid. Berikut artikelnya:
Oleh: Retno Widyastuti - IM
Berapa waktu yang lalu, seorang teman saya memposting tulisan Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) tentang konsep pendidikan melalui notes facebook-nya. Karena isi dari tulisan beliau sungguh menggugah, maka dalam laman ini, saya ingin berbagi kepada rekan-rekan semuanya, khususnya yang bergerak di dunia pendidikan. Semoga bermanfaat bagi kita untuk merenungi hikmahnya dan menerapkan apa yang didapat :)
Pendidikan Sebenarnya
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Pada 7 Mei 2015, Pionir Books melayangkan, lewat Twitter, surat terbuka kepada Sir Ken Robinson, PhD, seorang pemikir ternama di bidang kreativitas, inovasi dan SDM pada sektor bisnis dan pendidikan.
Dalam surat tersebut kami mengangkat kata 'adiwidia', yang oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai 'pengetahuan yang paling tinggi'. Dalam surat tersebut kami mempertanyakan mengapa kata itu tidak kata yang lumrah dijumpai dalam khazanah dunia pendidikan Indonesia.
Pasal, kami di Pionir Books hakulyakin bahwa agar Indonesia dapat maju, sistem pendidikan negara ini bukan lagi harus turun mesin, tetapi ganti mesin. Agar negara ini dapat maju, sistem pendidikan Indonesia haruslah dirancang sedemikian rupa sehingga ia menghasilkan insan yang mampu bernalar dengan pikiran terbuka dan mampu mempertanyakan segalanya.
Sistem pendidikan Indonesia haruslah menggalakkan kurikulum yang mengangkat dan meninggikan manusia, alih-alih mengangkat dan meninggikan sistem buatan manusia (sebagaimana berlaku dan berjalan saat ini).
Insan-insan tersebutlah yang lantas di kemudian hari akan diberikan tugas untuk menciptakan sistem-sistem yang pada gilirannya juga mengangkat dan meninggikan manusia dan lingkungan hidup beserta isi-isinya.
Ini dia surat kami tersebut.
#adiwidia @SirKenRobinson @jokowi_do2 @aniesbaswedan
Sir Ken Robinson,
I am writing after having downloaded and viewed your TED talk on education (http://bit.ly/1090x6F). I agree with you and would like to take it a step further.
I think that for humanity to improve and the world to become a better place, educational reform is key. Under the framework of this reform schools have to produce one thing and one thing only: people capable of thinking and questioning everything.
How is that to be accomplished? I don't know. Perhaps the education system should be modeled as such that students (from junior high on) are free to pick out classes they would like to attend according to interest and aptitude.
But the outcome should always be: people capable of thinking and questioning everything.
Today's education system is rooted in the idea that we should indulge our propensities to either amass wealth, hold power, or gain knowledge as an end in themselves rather than as a means to an end.
This is where I encourage you to read my open letter to W. Axl Rose (http://bit.ly/1RaAnan) and to watch the Bill Murray movie Groundhog Day (1993).
Yes. Really.
The reason education needs to produce people capable of thinking and questioning everything is because it must facilitate the process of people transforming themselves from the egoistic man into the altruistic man: everything else is but a means to this end. Systems of learning should become places of adiwidia, an Indonesian word borrowed from Sanskrit meaning 'the highest knowledge' or 'superior knowledge' (and a word I feel to be too obscure in the Indonesian vocabulary considering its meaning).
I live in Indonesia and I'm trying to run a very modest publishing project. Also, I'm disillusioned with the education system here.
Thank you for your time and take care.
Sincerely,
Laurens Sipahelut