Gunung Kidul menjadi pilihan kami untuk menikmati waktu senggang pada hari ketiga libur Ramadhan (Rabu, 30 Juli 2014). Tujuan kami adalah menikmati wisata pantai di sore hari. Tidak disangka bahwa lalu lintas kendaraan jalur kidul macet. Bahkan perjalanan menuju obyek wisata memakan waktu hampir 5 jam dengan menggunakan mobil . Padahal biasanya bisa ditempuh selama 2-3 jam. Pada pukul 3 sore, kami melihat antrian panjang menuju pintu gerbang masuk obyek wisata. Mayoritas dipadati oleh mobil berplat luar provinsi. Kami harus bersabar selama kurang lebih 90 menit untuk bisa berada sampai pintu gerbang masuk. Liburan kali ini sungguh merupakan perjuangan bagi kami. Sabar menghadapi macetnya Gunung Kidul.
Setahun lamanya saya berada di ujung selatan negeri membuat saya rindu ingin melihat pantai di sepanjang selatan Gunung Kidul. Jalan yang macet tidak menjadi halangan saya dan keluarga untuk datang ke pantai. Saya pun merasa heran dengan tingginya animo masyarakat untuk memilih pantai Gunung Kidul sebagai tujuan wisata. Tampaknya masih banyak masyarakat yang tertarik menikmati liburan di pantai. Banyak orang rela menempuh perjalanan selama berjam-jam untuk sampai kesini. Saya melihat bahwa ini adalah perjuangan yang luar biasa. Momen liburan sanggup memindahkan kemacetan ala Jakarta ke Gunung Kidul. Wow, wisata pantai Gunung Kidul tampak istimewa sekali. Saya ikut penasaran seperti apa pantai-pantai di Gunung Kidul setelah lama tidak saya kunjungi.
Pantai Slili menjadi pilihan kami diantara jajaran pantai Gunung Kidul. Pada saat itu pukul 5 sore, kami memutuskan untuk segera berada di pantai daripada semakin lama menikmati kemacetan. Saya tidak tahu seindah apa pantai tersebut karena belum pernah singgah sebelumnya disini. Saat kami datang, area parkir sudah penuh, untung saja kami menemukan ada 1 tempat parkir kosong. Pantai ini ramai sekali dikunjungi wisatawan. Banyak orang bermain di sepanjang pesisir pantai, entah bermain air dan pasir atau sekedar berjalan-jalan di tepian. Aneh, saya kurang bisa menikmati pemandangan pantainya, terlalu banyak orang sehingga terlihat sesak.
Saya secara pribadi merasa asing dengan suasana ramai di pantai. Satu tahun berada di Tanah Lontar sangat memanjakan mata saya melihat indahnya pantai di sekeliling pulau. Jika belum tahu apa itu Tanah Lontar, anda bisa mencarinya dengan nama Pulau Rote pada peta. Jauh berbeda dengan keadaan di Gunung Kidul yang ramai pengunjung, Tidak banyak orang pergi berlibur di pantai di Rote. Bahkan, saya pernah tidak menjumpai seorang pun di pantai. Pantai serasa milik pribadi ketika saya berada disana. Saya bisa memahami bahwa ini hari libur sehingga pantai Gunung Kidul ramai pengunjung. Tetapi anda bisa membayangkan bahwa di Rote saja saat liburan tetap sepi pengunjung. Padahal, pantai di Rote dihiasi pasir putih dan gradasi biru air laut. Jujur pantai di Rote lebih memukau. Keadaannya memang kontras dan tidak bisa disamakan. Jika di Rote saya terpukau dengan pemadangan pantai, namun di Gunung Kidul saya dibuat terpukau dengan padatnya pengunjung yang membuat pantai terlihat sesak. Maaf, liburan kali ini mengembalikan ingatan saya pada Rote yang luar biasa indah. Jika ada kesempatan, silakan berkunjunglah ke Rote. :)