Imaji bertanya mengapa bumi serta langit ditebas pedang jarak.
Tak lagi ku dapati rupamu, pandangan yang semakin samar. Sulit aku kenali sosokmu yang begitu ruam dikepala. Seolah banyak ketidaktahuanku tentang sejak kapan mulutmu menjadi tajam. Realita menyuguhi dirimu dengan kepalsuan semu yang dirasa lebih dari hambar.
Matanya berbinar saat ku lontarkan pertanyaan seperti ingin mengeluarkan seluruh hal yang ada dibenak dikepala lalu mengendap dibiarkan menguap.
Hening selama beberapa menit aku berikan sedikit jeda untuk sekedar menarik nafas.
Ada banyak sekat yang harus ku jaga dalam dekat yang melekat. Kadang banyak obrolan yang tidak perlu dipaksakan untuk mengerti. Tapi saat cara berpikir kita sama itu mudah untuk kita terima. (Seandainya cara berpikir kita sama)
Tak ada kata lain dari setia pada apa yang dihadapkan tak ada jua bentuk kerelaan diri mencari - cari sosok yang lain pabila semuanya tak sama dengan apa yang ada dikira - kira seisi kepala.
Tapi
Terkadang aku ingin meraung untuk menyerah pada diri yang terkontaminasi oleh pemahaman - pemahaman yang harus dipaksakan menuju nalar dibentuk oleh kebutuhan realita sosial.
Banjarsari, 24 Januari.









